Sabtu, 15 Dec 2018
radarkediri
icon-featured
Events

Catatan Ekspedisi Wilis I, Mengupas Sejarah Kuno si Gunung Cantik (11)

Jaladwaranya Sudah Berganti Batang Bambu

03 Desember 2018, 17: 41: 16 WIB | editor : Adi Nugroho

wilis

KURANG TERAWAT: Heri Purwoko, anggota Pelestari Sejarah dan Budaya Kediri (Pasak) membersihkan batu di Situs Gedong untuk melihat angka tahunnya. (DIDIN SAPUTRO - RadarKediri.JawaPos.com)

Situs Gedong menjadi bukti kuat adanya kompleks peribadatan kuno di Desa Pamongan, Mojo. Tak jauh dari yoni Omben Jago, Situs Gedong masih lengkap dengan bekas petirtaan.

Masyarakat Desa Pamongan menyebutnya Situs Gedong (masyarakat melafalkan dengan ucapan Nggedong). Yakni berupa struktur bangunan kuno yang ada di tengah hutan. Struktur utama adalah berupa batu-bata merah. Beberapa masih tertata rapi. Namun sebagian sudah berupa puing. Tak sedikit yang berserakan di pelataran bangunan utama.

Di atas struktur utama masih terdapat benda-benda yang kondisinya tak utuh lagi. Baik berupa umpak batu, relief, kemuncak, juga ada semacam yoni yang tertulis angka tahun di bagian badannya. Yang menarik, ada potongan arca yang hanya tersisa bagian kaki. Tumpukan lain berupa batu andesit berbagai macam bentuk.

“Dulu arcanya banyak tapi sudah diambil orang,” kata Slamet, penjaga situs.

Slamet mengaku masih sempat menjumpai banyaknya benda-benda kuno di situs tersebut sekitar tahun 60-an. Saat itu struktur bangunan juga masih utuh. Luas bangunan utama sekitar 4x5 meter. Itu ketika itu dia belum diberi amanah menjaga situs. Dari keterangannya, selain arca, juga ada beberapa benda lain yang banyak dicuri orang.

“Ada juga pancuran bentuk naga di sumber mata air yang ikut hilang,” jelasnya.

Pancuran yang dimaksud adalah jaladwara. Atau sebuah  arca di ujung saluran air yang ada di pemandian atau petirtaan zaman dulu. Rata-rata terbuat dari batu andesit.

Tak hanya berbentuk kepala naga, namun menurutnya ada juga yang seperti ayam jago. Hal inilah yang kemudian oleh penduduk sekitar juga dikaitkan dengan legenda Panji Laras. Selain keberadaan yoni yang sudah disebut sebagai Omben Jago.

“Di pancuran itu dulu ada yang berlapis perunggu,” tambah Slamet.

Namun sekarang tak ada satu pun jaladwara yang tersisa. Totalnya ada sekitar sembilan pancuran di mata air yang dimaksud. Untuk menggantikannya saat ini Slamet menggantinya dengan paralon dan juga batang bambu. Hingga kini aliran sumber tersebut masih dimanfaatkan warga. Baik untuk irigasi dan juga kebutuhan sehari-hari.

Bekas petirtaan tadi letaknya tepat berada di bawah Situs Gedong. Untuk menuju ke sana melewati beberapa trap tangga yang sudah tersusun batuan kuno. Jika dilihat dari bukti-bukti yang ada, mulai dari yoni, arca dan juga struktur bangunan lengkap dengan bekas petirtaan, diduga daerah tersebut merupakan tempat pemujaan berupa candi. Hal ini tak lepas dari syarat-syarat pembuatan candi atau bangunan suci lain di zaman kerajaan. Jika dilihat dari angka tahun dan motif yoni, disinyalir kompleks tersebut dibangun pada abad 10 atau masa Kerajaan Kadhiri.

(rk/baz/die/JPR)

Alur Cerita Berita

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia