Sabtu, 15 Dec 2018
radarkediri
icon featured
Kolom

Menunggu Macet

03 Desember 2018, 16: 20: 27 WIB | editor : Adi Nugroho

Oleh : Mahfud

Oleh : Mahfud

Berapa menit Anda tertahan di Perempatan Semampir kala berkendara dari atau menuju arah dalam Kota Kediri? Tak pernah menghitungnya? Atau, berapa kali lampu lalu lintas menyala merah baru Anda bisa melaju melewati perempatan padat itu?

Ah, tak usah dipusingkan pertanyaan itu. Karena memang hanya untuk menggambarkan betapa Perempatan Semampir menjadi salah satu titik terpadat di Kota Kediri. Maklum, lokasi ini menjadi satu-satunya akses dari dan keluar kota. Bila Anda dari arah Kertosono dan ingin melanjutkan ke Tulungagung atau kota lainnya di pesisir selatan sana, Anda akan melewati titik ini.

Sebenarnya, ada lagi titik yang punya tingkat kepadatan tinggi. Seperti di perempatan Alun-Alun Kota Kediri. Juga di perempatan Bence. Atau, di perempatan Mrican. Namun, yang terpadat memang di Perempatan Semampir ini.

Kondisi ini memang sangat jauh berbeda ketika saya masuk Kediri 19 tahun silam. Kala itu, berkendara dari ujung utara ke selatan tak banyak memakan waktu. Wuss…lap. Dari Semampir mungkin hanya lima atau sepuluh menit sudah sampai di Jalan Dhoho. Saya pun menjadi saksi begitu pesatnya perkembangan di Kota Kediri. Hingga sekarang, perjalanan dari Semampir ke Alun-Alun (atau sebaliknya), minimal butuh waktu 20 menit. Itupun bila lancar. Bila tak ada truk-truk besar yang berbaris rapi bak pasukan semut. Yang membuat kita harus ngintil di belakangnya dengan sabar.

Bisa dibayangkan kemudian seperti apa kondisi Kota Kediri lima tahun lagi, sepuluh tahun lagi, dan berpuluh tahun lagi. Bakal semakin padat. Ancaman kemacetan seperti yang terjadi di Surabaya atau Kota Malang bisa mewujud.

Belum lagi bila dua proyek besar yang masuk kategori Proyek Strategis Nasional-yaitu pembangunan bandara dan jalan tol-terealisasi. Dua proyek yang kebetulan berada di bagian barat wilayah Kediri. Maka, potensi kemacetan di titik-titik yang saya sebut di atas bisa semakin besar lagi. Terutama lagi, titik di Semampir.

Beruntung, akhir tahun ini ada peluang Jembatan Brawijaya bisa selesai. Harapannya, beban akses ke barat sungai bisa terpecah. Tidak hanya mengandalkan Jembatan Semampir di sisi utara. Atau Jembatan Bandarngalim di sisi selatan. Tapi bisa juga melalui tengah kota dengan Jembatan Brawijaya itu.

Tapi, pengurangannya pun kemungkinan tak bisa banyak. Justru, penumpukan yang rentan terjadi akan ada di Perempatan Mrican. Akses yang ada di sisi barat Kota Kediri. Apalagi bila bandara dan jalan tol sudah jadi. Tentu jumlah kendaraan yang melintas di titik tersebut akan berlipat-lipat dari saat ini. Intensitas kendaraan dari dan menuju bandara akan sangat tinggi. Belum lagi dengan jalur kendaraan besar, bus dan truk, yang juga melewati ruas jalan tersebut.

Lalu, solusi apa yang bisa dipilih? Pemkot Kediri tentu sudah menyadari hal ini. Dan itu bisa dilihat dari sigapnya birokrat untuk mengubah rencana tata ruang dan wilayah di barat sungai.

Yang patut didorong adalah pembuatan ring road. Yang sepengetahuan saya, keinginan membuat ring road ini sebenarnya sudah mengemuka sejak lama. Kendaraan dari luar kota diharapkan tidak masuk ke dalam kota Kediri. Sayangnya, rencana itu hingga saat ini masih sebatas wacana.

Beberapa problem besar memang menghadang. Pembuatan ring road jelas melibatkan daerah lain. Bukan hanya Kota Kediri, tapi juga Kabupaten Kediri. Terutama untuk ring road dari arah utara ke selatan. Namun, bukan berarti permasalahan itu tak bisa diurai. Saya yakin dua wilayah ini punya kepentingan yang sama untuk mengantisipasi potensi kemacetan yang kini sudah membayang.  Toh, kondisi macet ini justru bisa merugikan potensi investasi dan arus masuk wisata ke wilayah Kediri.

Karena itu, sudah seharusnya dua pemerintah daerah bersaudara ini bisa duduk satu meja. Merumuskan pengembangan wilayah di Kediri menghadapi perkembangan pesat ke depan. Secermat-cermatnya Kota Kediri membuat RTRW yang baru, akan sulit berfungsi maksimal bila tanpa dukungan wilayah Kabupaten Kediri. Demikian pula sebaliknya. Jangan menunggu kemacetan besar terjadi dulu kemudian memunculkan rencana penyelesaian. Pengalaman Kota Surabaya maupun Kota Malang bisa jadi contoh. Jadi, tunggu apa lagi?

(Penulis adalah wartawan Jawa Pos Radar Kediri)  

(rk/baz/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia