Sabtu, 15 Dec 2018
radarkediri
icon-featured
Events

Catatan Ekspedisi Wilis I, Mengupas Sejarah Kuno si Gunung Cantik (9)

Dari Puncak, Brantas Berkelok-kelok bak Naga

02 Desember 2018, 13: 46: 02 WIB | editor : Adi Nugroho

ekspedisi wilis

SIMPANG TIGA: Tim ekspedisi Wilis di persimpangan menuju Slurup dan Ngebrak. (M ARIF HANAFI - RadarKediri.JawaPos.com)

Puncak-puncak di Gunung Wilis menjadi tempat favorit pertapaan saat zaman kerajaan. Selain dianggap suci dan sacral, daru puncak tersebut  terlihat daratan Dhaha dan Sungai Brantas nan indah.

Banyaknya situs di Gunung Wilis terutama lereng sebelah timur menjadi bukti nyata aktivitas kehidupan dari zaman kerajaan. Meski di lereng Wilis tidak diperuntukkan sebagai kawasan pemukiman, di sana dari dulu merupakan tempat untuk tempat pemujaan dan pertapaan.

“Kawasan pemukiman dan keraton kerajaan berada di timur sungai Brantas,” kata Achmad Zainal Fachris.

Fahcris menyebut, lereng timur Gunung Wilis menjadi lokasi favorit pertapaan. Karena tidak hanya terkenal dengan kesucian dan kesakralannya. Dari atas juga bisa menggambarkan keindahan kerajaan Panjalu lengkap dengan aliran Sungai Brantas yang membujur dari selatan membelah Negara Dhaha.

“Sungai Brantas juga pernah disebut pada naskah yang menceritakan kisah Bubuksah-Gagang Aking,” lanjutnya.

Di kisah Bubuksah Gagang-Aking disebut sebuah bengawan yang melintas Nagara Dhaha. Terlihat indah, berkelok layaknya naga jika dilihat dari puncak-puncak di Gunung Wilis. Terutama suasana yang ada di pusat kota. Termasuk daerah di bagian utara yakni Jongbiru.

Sementara dari penjelasan RNg Tono Setyo Bimoseno, lokasi pertapaan di kisah Bubuksah-Gagang Aking itu ada di atas Sumberpodang. Kini lebih dikenal dengan petilasan Syeh Bela Belu, seorang tokoh agama dari kerajaan Majapahit.

“Sebelum Syeh Bela Belu, tempat tadi sudah digunakan Bubuksah Gagang-Aking di zaman Kerajaan Kadiri,” tambahnya.

Memang, menurut Tono yang juga sering ke daerah puncak-puncak suci di Gunung Wilis, suasana suci dan keindahan alam  di tempat itu berbeda dengan puncak-puncak di gunung lain. Hal tersebutlah yang membuat Wilis digandrungi oleh resi-resi dan raja pada zaman dulu. Termasuk juga faktor keanekaragaman tumbuhan yang ada.

“Di Wilis juga terkenal dengan tumbuhan langka. Termasuk tanaman obat yang sangat mujarab,” tegas Tono.

Selain di sejumlah puncak di Gunung Wilis, menurutnya, lokasi pertapaan lain ada di kaki gunung. Tepatnya di Gunung Klotok yang masih dalam kawasan lereng Wilis tersebut. Di sana ada jejak arkeologis berupa Gua Selomangleng dan juga Gua Selobale. Dua gua itu juga dikenal sebagai lokasi pertapaan dari zaman kerajaan. Hal ini bisa dibuktikan dari peninggalan-peninggalan purbakala yang pernah ditemukan di sana.  

(rk/baz/die/JPR)

Alur Cerita Berita

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia