Sabtu, 15 Dec 2018
radarkediri
icon featured
Hukum & Kriminal

Ledakkan Bom, Bunuh Diri atau Syahid?

30 November 2018, 18: 08: 14 WIB | editor : Adi Nugroho

Ledakkan Bom, Bunuh Diri atau Syahid?

Orang yang karena keyakinannya “berjihad” dengan meledakkan bom hingga dirinya ikut meninggal, bagaimana pandangan Islam? Apakah kematiannya termasuk bunuh diri atau mati syahid? (Bagus AK, 082234857xxx)

Jawaban:

Fenomena bom bunuh diri dengan latar belakang motif keagamaan sering terjadi di beberapa tempat di Indonesia. Fenomena tersebut juga telah terjadi bersamaan dengan aksi teror di sejumlah tempat di belahan dunia ini. Karena itu, perlu dijelaskan sebagai berikut.

Pertama, dalam sejarahnya, aksi berdarah di kalangan umat Islam sangat erat hubungannya dengan masalah politik. Dan bukan persoalan tauhid maupun fikih. Sejarawan Islam, al-Syahrastani dalam karyanya Milal wa al-Nihal memberi catatan, tidak ada peristiwa yang lebih menumpahkan darah di kalangan kaum muslim daripada masalah politik.

Kedua, fenomena radikalisme dan terorisme menjadi bagian dari strategi politik untuk menegakkan sendi-sendi keagamaan dengan membagi dua kategori dunia, Islam dan kafir.  Pembagian dunia ini, dalam sejarahnya tidak terjadi di luar wilayah Islam, namun berada di kalangan umat Islam sendiri.

Kisah kekerasan dan aksi teror itu dimulai pada peristiwa tahkim (semacam upaya perdamaian) antara pihak Ali bin Abi Thalib dan Muawiyah bin Abi Sufyan dalam perang Siffin. Kelompok Ali terpecah menjadi dua bagian dengan pandangan yang berbeda dalam menyikapi tawaran perdamaian dari pihak Muawiyah. Sebagian menerima dan sebagian menolak. Kelompok yang menerima perdamaian memegangi klausul upaya perdamaian sebagai  bagian pokok dari ajaran Islam. Namun, kelompok yang menolak perdamaian tampak dibayang-bayangi situasi peperangan yang penuh dengan tipu daya belaka. Mereka menolak berdamai atas dasar menghindari tipu daya itu. Kelompok ini memiliki sejumlah prestasi di kalangan para sahabat sebagai  muqri’ (pembaca Alquran yang mahir). Sebanyak 8.000 orang di kalangan ini menolak tawaran perdamaian dari Muawiyah.  Kelompok ini di kemudian hari dikenal sebagai Khawarij, kelompok yang keluar dari pihak Ali.

Kelompok ini diperangi oleh Ali bukan karena pembelotannya. Namun karena tidak mengindahkan nasihat Ali tentang tiga hal. Yakni tidak membunuh orang yang tidak berhak dibunuh, tidak melakukan perampokan, dan tidak berbuat aniaya terhadap golongan zimmi (golongan kafir yang dijamin keamanannya) dan mereka yang menerima nasihat Ali menyatakan diri untuk bergabung kembali dengan Ali.

Akar-akar kekerasan yang didasarkan pada penafsiran ayat Alquran membentuk gagasan mereka terhadap peristiwa tahkim itu. Mereka menganggap Ali maupun Muawiyah sebagai kafir. Mereka meneriakkan petikan ayat Alquran, la hukma illa lillah, tiada hukum kecuali hanya untuk Allah dengan menyebut Ali telah menyerahkan hukum kepada manusia, Abu Musa al-Asy’ari. Dan tentu Muawiyah juga dianggap kafir karena menyerahkan hukum kepada wakilnya, Amr bin Ash.  Jadi orang-orang yang menyetujui tahkim disebut sebagai kafir. Dan karena itu, mereka berupaya untuk keluar dari kekafiran itu. Anggapan ini, dalam sejarahnya berasal dari keterbatasan mereka dalam memahami pesan perdamaian dalam Alquran.

Secara politik, mereka telah berada pada posisi yang benar dalam melihat situasi. Namun, dalam hal menafsirkan Alquran jauh dari memadai. Penafsrian mereka terhadap Alquran tampak dipengaruhi oleh rasa keputusasaan dalam melihat dunia nyata yang menyatu dengan keterbatasan pengetahuan dan cara menafsirkannya.

Catatan Ibnu Abbas menyatakan bahwa mereka adalah orang-orang yang ahli ibadah, namun tidak mempunyai keluasan pengetahuan tentang ajaran Islam.  Sehingga Ibnu Kasir, seorang ahli tafsir terkemuka menyebut mereka sebagai keturunan Adam yang paling aneh.

Jika demikian halnya, keyakinan yang salah tentang arti jihad juga menyebabkan ketidakhadiran pahala jihad. Ali bin Abi Thalib menyebut pernyataan la hukma illa lillah dari kelompok khawarij itu sebagai kebatilan (melenceng dari kebenaran) meski lafadz itu benar. Dan kebatilan tidak akan mengantarkan penganutnya sebagai seorang syahid.

Paparan di atas secara jelas menunjukkan fenomena jihad yang salah sebagaimana banyak terjadi di beberapa tempat di dunia, termasuk di Indonesia.

Wallahu a’lam bi al-shawab.

(Zayad Abd. Rahman, MHI dosen Hukum Islam Fakultas Syariah Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Kediri)

(rk/baz/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia