Selasa, 26 Mar 2019
radarkediri
icon featured
Sego Tumpang

Bu Guru Syantik

29 November 2018, 17: 38: 08 WIB | editor : Adi Nugroho

guru

Ibu Guru (Ilustrasi: Afrizal - RadarKediri.JawaPos.com)

Berita Terkait

Jaman masih suwalan cekak, bedek’an bentuk mega di langit adalah keasyikan tersendiri bagi Dulgembul. Apalagi sambil lemah-lemah di rumput.

“Kae macan...”

“Kae gajah...”

“Dudu, kae kebo…”

Sak seneng-senenge. Sesuka hati menafsirkan gumpalan-gumpalan awan itu. Yang dalam tempo tak lama bisa berubah bentuk lagi. Entah menjadi apa.

Begitu pula waktu melihat permukaan pucuk-pucuk gunung. Tidak hanya seperti bathok murep. Tapi, beraneka imajinasi. Seperti Gunung Wilis yang dikatakan mirip Putri Sekartaji. Yang sedang berbaring sambil menebar senyum. Cantik.

Cuma, jaman suwalan cekak, ada yang bikin Dulgembul nggondok setengah mati. Soal gunung. Yang membuatnya penasaran tentang bentuk-bentuknya. Yang berbeda di sepanjang Nusantara. Mau bertanya kepada siapa, itu bukan persoalan mudah. Karena jaman belum melahirkan Mbah Google. Yang bisa ditanyai apa saja.

Maka, andalannya hanya bertanya kepada guru di sekolah. Karena buku pun tak banyak. Sementara, bapak di rumah cuma ngerti soal sawah. Ibuk pun mesti sudah sibuk nyiapkan sambel tumpang buat sarapan. “Bu Guru, apa yang menyebabkan bentuk pegunungan di Indonesia ini berbeda-beda?”

Sayang, bukannya jawaban yang didapat dari pertanyaan yang sependek celana birunya itu. Melainkan, justru cemoohan, “Pertanyaan kok ndak mutu.”

Halah. Ini mending muridnya sudah berani bertanya. Bu gurunya malah sama sekali ndak menjelaskan jawaban atas pertanyaan itu. Padahal, dilontarkan pada pelajaran dan guru yang pas: geografi. “Ya sudah begitu itu dari dulu,” katanya. Mungkin, pikir bu gurunya, gunung-gunung itu ya mak bedunduk begitu. Di Sumatera. Di Jawa. Di Bali. Di Lombok. Di Sulawesi. Kita lahir ceprot ya sudah seperti itu. Ndak usah kakehan rengkek. Kakehan cocot buat bertanya.

“Pertanyaan kok ndak mutu.” Benar-benar bikin Dulgembul nggondok. Ya maklum, guru adalah sumber belajar utama di kelas. Berhasil atau tidaknya proses pembelajaran di kelas sangat ditentukan olehnya. Bagaimana dia menyiapkan bahan sebelum masuk kelas. Bagaimana dia bisa memanfaatkan media pembelajaran yang ada. Dan, bagaimana dia terampil menggunakan metode yang tepat untuk merangsang tumbuh kembang pengetahuan setiap anak didik di kelas sesuai karakternya.

Tak mudah memang. Apalagi karakter setiap anak didik belum tentu sama. Akan tetapi, menguasai dengan benar materi sebelum diajarkan adalah sebuah keharusan. Seperti kisah Dulgembul itu. Betapa jawaban sang guru yang tak memberi jawaban –bahkan cemoohan—itu menyebabkan Dulgembul dan banyak anak negeri ini selama berpuluh tahun kemudian tak menyadari: bahwa Nusantara, tempatnya berdiri, adalah wilayah cincin api.

Akibatnya, ketika belasan dan puluhan tahun kemudian terjadi letusan gunung api yang susul menyusul diselingi tsunami dan gempa bumi –bahkan likuefaksi—banyak orang hanya bisa terkaget-kaget. Termasuk Dulgembul yang hanya lhah-lhoh waktu peristiwa-peristiwa itu datang silih berganti.

Dulu, guru masih susah. Harus ngobyek. Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Makanya, ndak ada waktu untuk sinau kembali. Mengajar hanyalah sebuah pengabdian yang tak bisa diharap imbal jasanya. Waktu itu. Tapi, kini? Oemar Bakrie sudah ndak jaman lagi.

“Pertanyaan kok ndak mutu,” jaman sekarang bisa dibalik sama muridnya, “Jawaban kok ndak mutu.” Karena murid-murid seperti Dulgembul bisa browsing sendiri di internet. Mbah Google menyediakan apa saja jawaban yang diinginkan.

Lha kalau guru-guru yang sudah dapat tunjangan sertifikasi itu ndak bisa ngimbangi, di kelas bisa ganti lhah-lhoh. Karena guru-guru yang sudah dapat tunjangan sertifikasi, rasanya, sudah tidak ada yang fakir miscalled. Duit sertifikasinya bisa untuk beli paket data. Buat browsing-browsing. Juga download materi. Untuk menambah bahan ajarnya.

Kecuali jika paket datanya hanya digunakan seperti muridnya. Untuk selpi-selpi. Lalu dibagi.

“Aku di sini…” Cekrek. Lalu share.

“Aku di sini…” Cekrek. Lalu share.

Jika begitu, Bu Guru Syantik hanya akan ditentukan dari jumlah like dan comment-nya. Bukan dari kualitas jawaban atas pertanyaan murid-muridnya.. (tauhid wijaya)

(rk/baz/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia