Sabtu, 19 Jan 2019
radarkediri
icon-featured
Events

Catatan Ekspedisi Wilis I, Mengupas Sejarah Kuno si Gunung Cantik (6)

Situs Plawangan, Tempat Perabuan Zaman Kerajaan

28 November 2018, 13: 40: 54 WIB | editor : Adi Nugroho

ekspedisi wilis

MEDAN BERAT: Anggota tim Ekspedisi Wilis I mencoba melewati batang pohon yang melintang di jalan setapak. (M ARIF HANAFI - RadarKediri.JawaPos.com)

Sejumlah bangunan suci kuno di Lereng Gunung Wilis hingga kini masih berfungsi. Salah satunya Situs Plawangan, bekas tempat perabuan zaman kerajaan yang kini sebagai lokasi ritual.

Perjalanan jauh harus ditempuh untuk menuju situs Plawangan. Masuk kawasan hutan Perhutani menjadikan lokasi ini sangat jarang dijamah orang. Untuk menuju ke sana setidaknya diperlukan waktu tempuh sekitar 2-3 jam. Dengan kecepatan berjalan normal.

“Dari Wisata Sumberpodang masih naik ke atas. Kira-kira 2 jam dari Taman Kelir,” kata Erwan Yudiono, seorang penggiat budaya dari Kota Kediri.

Memang, lokasi situs Plawangan masih masuk wilayah administrasi Desa Joho, Semen. Lokasinya tepat di atas perbukitan. Untuk mencapai situs yang diperkirakan merupakan peninggalan Kerajaan Kadiri itu hanya bisa ditempuh dengan berjalan kaki. Menyusuri hutan belantara dengan track yang cukup terjal. Tak heran bila situs yang satu ini sangat jarang, bahkan tidak pernah terpublikasi.

Menurut keterangan Jeje, panggilan Erwan Yudiono, situs Plawangan ini dahulu kondisinya berserakan. Masuk dalam kategori punden berundak. Hal ini karena letaknya yang berada di atas bukit. Dikelilingi pohon kaliandra dan lamtoro yang tumbuh subur di sekitarnya.

WARISAN LELUHUR: Kondisi situs Plawangan yang saat ini sering digunakan untuk ritual masyarakat sekitar.

WARISAN LELUHUR: Kondisi situs Plawangan yang saat ini sering digunakan untuk ritual masyarakat sekitar.

“Karena berserakan dan terlihat rusak, situs tersebut dulu ditata dan akhirnya berbentuk seperti saat ini,” jelasnya.

Situs yang diduga sebagai tempat perabuan pada zaman Kerajaan Kadiri tersebut terbuat dari batu andesit. Dengan sejumlah motif yang masih terlihat jelas di beberapa sisinya. Menurut Jeje, motif tersebut sangat menggambarkan era Kerajaan Panjalu (Kadiri).

Kini, situs yang diyakini sebagai tempat suci bagi sejumlah penganut kepercayaan itu digunakan sebagai lokasi ritual. Pada hari-hari tertentu ada yang datang untuk melakukan upacara kepercayaan keagamaan. Menariknya, sebelum mencapai lokasi utama situs yang juga biasa disebut Gasang itu, ada batuan yang tertata rapi sebagai tangga menuju situs tersebut.

Selain Situs Plawangan, Jeje menyebut masih banyak situs yang ada di sekitar Sumberpodang. Di antaranya adalah petilasan yang diyakini sebagai tempat pertapaan Bubukshah Gagangaking. Di bawahnya juga ada Situs Pandupragulopati. Juga terdapat musala tua yang diyakini peninggalan Syeh Bela Belu.

Keberadaan situs-situs di lereng Gunung Wilis ini, Jeje berharap bisa ada pelestarian dari pihak terkait. Dia juga berpesan kepada siapapun yang berkunjung ke tempat itu agar waspada. Selalu bertindak sopan dan menghormati segala sesuatu yang ada. Hal ini lantaran di hutan Lereng Wilis selama ini dikenal sebagai tempat suci dan mistis oleh penduduk sekitar.

“Selalu berhati-hati dalam bertindak, jangan merusak benda bersejarah. Kayu, batu dan semua yang ada itu adalah ciptaan Yang Maha Kuasa,” pesannya.

Situs Plawangan ini menambah bukti sejarah di Lereng Gunung Wilis yang selama ini belum banyak diketahui orang. Setidaknya keberadaan situs tersebut bisa menjadi acuan bahwa memang benar Gunung Wilis sejak dahulu telah dikenal sebagai tempat yang suci dan disakralkan.

(rk/baz/die/JPR)

Alur Cerita Berita

Jawa Pos Digital
E-Paper
 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia