Sabtu, 19 Jan 2019
radarkediri
icon-featured
Events
Catatan Ekspedisi Wilis

Sensasi Pijat di 1.000 MDPL

27 November 2018, 18: 57: 24 WIB | editor : Adi Nugroho

ekspedisi wilis

TAK KUAT: Mbah Bakin memijat kaki anggota ekspedisi yang mengalami kram. (DIDIN SAPUTRO - RadarKediri.JawaPos.com)

Perjalanan Ekpedisi Wilis 1 harus tetap berlanjut. Tidak peduli kaki kram dan napas sudah tersengal-sengal. Setapak demi setapak dengan menahan kram.

Nahasnya, kondisi jalan masih terus menanjak. Dengan bertumpu pada kaki kiri yang masih fit, saya mengikuti rombongan. Berpegangan pada akar-akar di kanan lereng adalah opsi terbaik. Nyaris mirip anak kecil yang sedang belajar naik tangga. Iya, begitulah saya berjalan.

Kasihan melihat saya jalan tertatih-tatih, Mas Ben menawarkan bantuan. “Sudah Mas, sini tak bawakan tasnya. Tidak apa-apa,” ujarnya.

Meskipun sungkan, tawarannya sangat menggiurkan. Dengan sedikit malu-malu saya turunkan tas dan menyerahkannya kepada Mas Ben. Dengan sigap, tas tersebut langsung diangkatnya. Ditaruh di depan. Mas Ben sekarang membawa dua tas besar.

Satu di punggung, satu di dada. Badannya yang kurus nampak kontras dengan dua tas besar. Namun anehnya hal tersebut seakan tak membebaninya. Dia tetap bisa berjalanan layaknya tidak membawa apa-apa. Padahal saya yang hanya membawa tas kamera saja sudah berkeringat.

Kondisi kaki kanan yang kram tak lama kambuh lagi. Agaknya khasiat tisu "daya tahan" tersebut sudah hilang. Alhasil, nyeri kembali melanda. Berhenti lagi. Meregangkan otot-otot. Lalu, berjalan kembali.

Karena kondisi kaki kanan yang kram, akhirnya saya putuskan menggunakan tumpuan kiri. Sejenak hal tersebut menjadi solusi. Namun lama-kelamaan justru menjadi bumerang. Sekarang ganti kaki kiri saya yang kram. Di posisi yang sama, dua kaki saya cedera. Di titik ini saya sudah merasa hampir putus asa. Namun tim yang lain tetap memberi motivasi.

Sebentar lagi. Tinggal sedikit lagi. Puncak sudah di depan. Tinggal beberapa tanjakan lagi. Begitulah mereka memotivasi (membohongi) saya.

Karena rasa malu dan sungkan, mau tak mau saya tetap paksakan berjalan. Toh, kalau mundur sudah kepalang jauh. Hendak tinggal di tempat juga tidak mungkin. Kanan-kiri belantara. Semuanya juga bakalan terus berjalan. Ya sudah, mau tidak mau tetap lanjut.

Perjalanan terus berlanjut. Hingga akhirnya mencapai ketinggian 1.000 mdpl lebih. Landasan Jepang yang akan dibuat menjadi tempat bermalam pun sudah terlihat dari kejauhan. Cukup melegakan sudah bisa melihatnya. Namun, rasanya masih cukup jauh untuk bisa menjangkau dengan kondisi seperti sekarang.

Naik-turun bukit sudah menjadi santapan wajib kala itu. Sekarang saya menggunakan tongkat kayu. Untuk alat bantu berjalan. Cukup membantu. Namun tetap saja, cedera di kedua kaki sedikit menghambat perjalanan.

Hingga akhirnya saya sudah tidak kuat lagi. Kaki kiri kembali kram. Tak mungkin terua berjalan, akhirnya saya terpaksa menghambur di tepi lereng. Merebahkan badan, meluruskan kaki. Sambil meringis kesakitan, saya pijat kaki saya bergantian.

Melihat hal tersebut, Mbah Bakin lalu menghampiri. Ia menyuruh tim yang lain terus melanjutkan perjalanan. Sedang dia akan memijat kaki saya terlebih dahulu. Praktis, tim terbagi menjadi dua. Satu tetap berjalan, satu lagi menunggu saya dipijat Mbah Bakin.

Mbah Bakin yang memiliki nama lengkap Muhammad Subakin sebenarnya belum cukup tua. Ia kelahiran 80-an. Namun oleh teman-temannya ia dipanggil Mbah. Saya pun ikut memanggilnya Mbah.

Mbah Bakin meminta saya membuka kedua sepatu. Saya pun menuruti. Kemudian dia memijat kaki saya yang sudah bertelanjang. Tak bersepatu. Membuat saya menahan sakit.

Dengan cekatan dan telaten, ia memijat di titik-titik yang sakit."Sakit ya sebelah sini? Yang sini juga?" tanya pria berambut panjang tersebut. Saya yang sudah kesakitan hanya bisa meringis sambil mengangguk pelan.

Sembari kaki saya dipijat, Mbah Bakin bercerita tentang dirinya. Dari sini, saya tahu Mbah Bakin telah lama menguasai keterampilan memijat. Ia pernah belajar dari tukang pijat di desa sewaktu masih SMP. Meskipun memiliki keterampilan memijat, ia tidak mau membuka praktik. Ia hanya melayani pijat saat berada di gunung.

"Ah, tidak (membuka praktik memijat, Red). Nanti saya malah tidak bisa ke mana-mana," ucapnya enteng.

Keterampilan Mbah Bakin hanya dipergunakan dalam keadaan darurat. Seperti halnya saat ada pendaki yang kram atau keseleo. Seperti saat saya kala itu. Menurutnya, ketika ada teman pendaki yang "bermasalah" tanpa berpikir panjang ia akan menolongnya.

Tangan Mbah Bakin nampaknya memang bertuah. Setelah dipijatnya kaki saya sudah bisa agak mendingan. Meskipun tidak mungkin langsung sehat seperti sedia kala, namun itu sudah cukup. Paling tidak bisa mencapai titik bermalam di Ngebrak.

Perjalanan pun dilanjutkan dengan pelindung lutut yang dipinjamkan Hangga Galengsong. Cukup membantu hingga bisa menyusul tim di depan yang sedang beristirahat di sebuah aliran sungai kecil. Di sana, wajah menunggu mereka nampak terbayarkan. Mungkin jika lebih lama lagi, mereka bisa tertidur di sana.

Untung saja mereka semua bisa mengerti. Bagi mereka, bukan tujuan yang utama. Melainkan proses mencapai tujuan justru lebih berharga. Beruntung bisa merasakan sensasi pendakian bersama tim yang hebat. Bermalam di Ngebrak bersama mereka adalah pengalaman yang tidak terbayarkan.

(rk/baz/die/JPR)

Alur Cerita Berita

Jawa Pos Digital
E-Paper
 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia