Sabtu, 19 Jan 2019
radarkediri
icon-featured
Events

Catatan Ekspedisi Wilis I, Mengupas Sejarah Kuno si Gunung Cantik (5)

Anugerah Raja untuk Penduduk Lereng Wilis

27 November 2018, 18: 35: 13 WIB | editor : Adi Nugroho

ekspedisi wilis

SEJARAH: Pengunjung melihat prasasti di Museum Airlangga Kediri. (DIDIN SAPUTRO - RadarKediri.JawaPos.com)

Kehidupan kuno di lereng Gunung Wilis dibuktikan dari sejumlah peninggalan kerajaan. Salah satunya adalah Prasasti Ceker. Menceritakan penganugerahan tanah perdikan kepada penduduk lereng timur Gunung Wilis.

Selama ini prasasti zaman kerajaan terkait anugerah tanah perdikan lebih banyak ditemukan di timur Sungai Brantas. Tepatnya di lereng Gunung Kelud. Salah satunya adalah Prasasti Harinjing/Sukabumi. Yang menceritakan pemberian tanah sima (tanah bebas pajak) kepada Bagawantha Bhari. Karena jasanya membuat saluran irigasi di sana.

Tak hanya itu, selain Prasasti Harinjing, di tempat yang sama, prasasti serupa juga banyak ditemukan. Seperti Prasasti Brumbung I dan Brumbung II, Prasasti Paradah dan lain sebagainya.

Sementara, di barat Sungai Brantas, tepatnya di Lereng Gunung Wilis sebelah timur, ada satu lagi prasasti yang terkenal. Yaitu Prasasti Ceker. Selain Prasasti Lucem yang dibahas sebelumnya.

Prasasti Ceker jarang terdengar selama ini. Dari keterangan pemerhati sejarah Achmad Zainal Fachris, Prasasti Ceker berisi tentang anugerah raja yang diberikan kepada penduduk Desa Ceker. Karena telah mengabdi untuk kemajuan Kerajaan Kadiri.

“Prasasti tersebut membahas pemberian tanah sima di lereng Gunung Wilis,” sebutnya.

Tanah sima sendiri diberikan oleh Raja Sri Kameswara. Di mana penduduk yang menempati tanah tersebut akan dibebaskan dari pembayaran pajak. Prasasti yang dikeluarkan pada 1107 saka atau 1185 masehi ini ditemukan di Dusun Ceker, Desa Sukoanyar, Mojo.

Ada satu hal yang menarik dari prasasti ini. Menurut penggiat budaya Kabupaten Kediri Novi Bahrul Munib, bagian dari Prasasti Ceker terpahat sebuah  kamecwaralancana. Yakni lencana bergambar kerang bersayap. Yang selama ini diketahui digunakan oleh Sri Maharaja Sri Kameswara Triwikramawatara Aniwaryyawirya Parakrama Digjayotunggadewanama.

“Sekarang prasasti ini berada di Museum Airlangga, Selomangleng Kota Kediri,” jelas Novi.

Dengan ditemukannya prasasti tersebut, menambah bukti lain. Bahwa dahulu di daerah timur lereng Wilis sudah ada lahan yang digunakan penduduk untuk sistem pertanian. Hal ini mengacu pada pemberian anugerah sima oleh raja yang seringkali diikuti oleh pembukaan tanah lama yang kurang produktif. Baik ladang, pekarangan, ataupun kebun, menjadi lahan baru yang lebih produktif.

Dari sejumlah sumber, pada bagian awal dari rangkaian upacara penetapan sima, digambarkan pemimpin desa yang mendapat anugerah sima dari raja. Raja membagikan harta kekayaan kepada anggota masyarakat yang berasal dari berbagai lapisan. Harta yang dibagikan sebagai hadiah ini biasanya berupa pakaian berbagai corak dan logam mulia dalam bentuk perak dan emas.

Hal lain yang cukup menarik, adalah pada masa pemerintahan Sri Kameswara di Kerajaan Panjalu. Mpu Darmaja menciptakan mahakarya Kakawin Smaradahana (Asmaradahana) yang didedikasikan untuk Sri Kameswara dan permaisurinya Sri Kirana Ratu, putri dari Kerajaan Jenggala.

“Kakawin Smaradahana (Asmaradahana) inilah yang dikemudian hari berkembang menjadi cerita-cerita panji. Yang menceritakan kisah cinta Panji Inukertopati dengan Dewi Galuh Candrakirana,” ungkap Novi. 

(rk/baz/die/JPR)

Alur Cerita Berita

Jawa Pos Digital
E-Paper
 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia