Sabtu, 19 Jan 2019
radarkediri
icon-featured
Events
Catatan Ekspedisi Wilis

Obati Kram dengan Tisu ‘Daya Tahan’

27 November 2018, 17: 35: 16 WIB | editor : Adi Nugroho

ekspedisi wilis

ISTIRAHAT: Tim ekspedisi Wilis dalam perjalanan. (M ARIF HANAFI - RadarKediri.JawaPos.com)

Kala itu adalah kali pertama saya mendaki gunung. Sebuah pengalaman yang tidak pernah saya harap menjadi kenyataan. Hingga akhirnya dimasukkan dalam tim Ekspedisi Wilis I.

Bayang-bayang jalan tanjakan dan curam terjal selalu tergambar. Belum lagi, kondisi fisik dengan medan yang ditawarkan. Belum jalan saja, sudah habis rasanya napas di dada.

Benar-benar seorang yang tidak pernah mendaki sebelumnya. Jarang olahraga dan kurang istirahat. Sebuah kombinasi yang tepat. Resep manjur menuju sebuah petaka.

Berangkat dari Besuki sekitar pukul 8.30 WIB, saya hanya mengikuti tim. Tanjakan pertama, bolehlah. Masih wajar. Tenaga juga masih ada. Tapi, bukan hidup jika hanya mudah-mudah saja.

Sekitar 20 menit berjalan, hutan sudah rimbun. Jalannya setapak. Iya, setapak dalam arti kata yang sebenarnya. Berpapasan atau mendahului tidak akan bisa. Kecuali salah satu berhenti dan mengalah. Kalau mau nekat bisa saja. Tapi perlu diketahui sisi kiri kami jurang. Sepertinya juga banyak duri-duri tajam di bawahnya.

Saya yakin, tim pendaki profesional pasti sangatlah bosan. Pasalnya kami berjalan relatif pelan. Sudah begitu, sebentar-sebentar berhenti untuk mengambil gambar. Menulis deskripsi singkatnya. Baru setelahnya kami jalan lagi. Berhenti lagi. Jalan lagi.

Mau apa dikata. Memang dokumentasi gambar dan deskripsi adalah misi kami. Beruntung, mereka semua sabar. Kalau tidak mungkin sudah ditinggal duluan. Seperti halnya Mas Ben, biasanya ia "berlari" ketika mendaki. Namun kali ini, ia harus menahan nafsunya. Berada di belakang saya. Membuat kaki gatal ingin segera sampai.

"Nggak apa-apa, nyantai, kalau capek berhenti dulu," ujarnya tanpa beban.

Setapak demi setapak. Selangkah demi selangkah. Pos pertama di depan mata. Lemah kuning. Semuanya langsung duduk beristirahat. Meluruskan kaki sembari bercanda. Beruntung bisa bersama tim yang bisa saling melempar gurau. Suasana menjadi lebih akrab dan intim.

Sepuluh menit beristirahat, kami memutuskan untuk kembali berjalan. Meninggalkan pos lemah kuning untuk menuju Patokwesi. Kondisi jalan di sini sedikit berbeda. Selain setapak, di beberapa titik ada batu-batuan. Kami pun harus naik-turun batuan tersebut.

Dari sini, tanjakan sudah mulai terasa. Harus menjejakkan kaki lebih tinggi untuk melanjutkan perjalanan.

Ujian kembali tiba. Setelah menanjak dengan tumpuan kaki kanan, akhirnya berefek juga. Paha kanan saya terasa mulai kaku. Kata Mas Ben itu kram. Berhenti sebentar, mengembalikan tenaga. Kaki saya diluruskan. Dengan telapak kaki saya ditekan layaknya pemain sepak bola yang cedera.

Dengan sedikit menahan sakit, perjalanan pun dilanjutkan. Tetap dengan sesekali berhenti hingga sampai di pos Patokwesi. Nahasnya, begitu sampai titik tersebut kram semakin menjadi-jadi. Jika sebelumnya masih bisa dipaksa, kali ini berbeda. Sudah sangat kaku. Saya pun disuruh duduk sambil meluruskan kaki.

Setelah di "operasi" ringan oleh Mas Ben, ia pun berteriak. "Mbah, mana tisunya?" teriaknya kepada salah satu temannya.

Diambillah tisu tersebut. Sebuah tisu yang biasa digunakan untuk menambah daya tahan pria dewasa. Katanya, tisu tersebut bisa dijadikan alternatif pereda nyeri. Seperti pain-killer yang disemprotkan pada atlet yang cedera. Tapi versi murahnya. Jangka waktunya pun tidak bisa bertahan lama. "Sampean oleskan di pahanya yang sakit ya," kata Ben.

Pecahlah tawa di keheningan hutan. Wajah tim yang lain sudah tersungging senyum jahil. Buru-buru mereka mengaktifkan kamera masing-masing. Teriakan mereka saling bersahutan, saya hanya bisa tersenyum pasrah. Ah, yang penting sembuh pikir saya.

Hujan jepretan kamera dan ejekan pun tak terhindarkan. Sebuah pengalaman yang tidak terlupakan. Baru tahu jika tisu tersebut bisa digunakan untuk keperluan lain. Memang, tak butuh waktu lama terasa langsung bedanya. Saya pun bisa melanjutkan perjalanan lagi. Tetap dengan meringis dan terpincang. Tujuan masih setengah jalan.

(rk/rq/die/JPR)

Alur Cerita Berita

Jawa Pos Digital
E-Paper
 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia