Sabtu, 15 Dec 2018
radarkediri
icon featured
Kolom

Sama-Sama Basah

26 November 2018, 17: 22: 00 WIB | editor : Adi Nugroho

Oleh: Ramona Valentin

Oleh: Ramona Valentin

Bener nggak ya, kalau rumput depan rumah kita basah terkena hujan. Tapi rumput tetangga nggak basah?

Lalu apa bedanya rumput kita dengan rumput tetangga? Warnanya? Bentuknya? Panjangnya? Atau jumlahnya?

Tenang...namanya juga rumput, berada di luar ruangan, di alam terbuka. Kalau terkena hujan ya sama-sama basah. Kalau sudah begini, baik warnanya, bentuknya, panjangnya hingga jumlahnya pun tak menghalanginya dari tetesan air hujan. Rumput tetangga yang lebih hijau juga tak menjamin lebih baik daripada rumput kita yang berwarna hijau pudar. Bahkan kekuning-kuningan.

Bagaimana kalau rumput tetangga adalah rumput sintetis alias buatan? Nah... jangan salah. Apa yang kita lihat dan apa yang kita nilai belum tentu akurat. Rumput ibarat rezeki, jika terus kita bandingkan. Pasti kita jumpai perbedaanya. Tapi saat Tuhan sedang menguji, kita pun sama-sama payahnya. Tak pandang bulu, sekaya apapun, setinggi apapun jabatan. Kalau Tuhan sedang menguji, ya tetap payah tak berdaya.

Masih ingat dengan papa Setya Novanto (Setnov)? Salah satu politikus negara kita yang terlibat dalam kasus korupsi KTP elektronik.

Sosok politikus yang kaya dan memiliki jabatan di kursi DPR RI pun tak menjaminnya mampu mengahadapi ujian Tuhan. Saat ini ia sedang mendekam dalam tahanan di Sukamiskin Bandung, Jawa Barat. Dengan ruang tahanannya terbilang mewah. Karena lebih luas dan memiliki fasilitas lengkap. Kata siapa ini bukan ujian bagi Setnov

Justru sebenarnya ini salah satu tanda bila Setnov pun tak sanggup tinggal di ruang tahanan pada umumnya. Sempit, cenderung kumuh, pengap bahkan tak berjarak jauh antara kasur dan toilet jongkok. Jangankan Setnov yang terbiasa hidup mewah. Kita saja yang pas-pasan juga ogah tinggal di tahanan. Makanya, ia gunakan fasilitas tahanan berkelas.

Ada lagi kasus lokal, karena ingin memperbaiki keturunan. Menikah dengan warga negara asing  (WNA) pun dilakukan. Linda, warga Pehwetan, Papar Kabupaten Kediri menikah dengan Helal, laki-laki asal Bangladesh. Pernikahannya pun berhasil mewujudkan cita-citanya. Ia telah melahirkan anak berlensa mata coklat, berhidung mancung dan berparas tampan. Namun siapa sangka, suaminya pun overstay di sini dan tak memiliki pekerjaan. Sehingga tak memiliki biaya untuk urus perpanjangan izin tinggalnya. Akhirnya, suaminya pun diciduk pihak Imigrasi Kediri dan menjadi tahanan. Tak peduli WNA maupun warga negara Indonesia (WNI), bila sama-sama melanggar aturan. Ya tetap kena hukuman.

Tuh kan sama-sama basah. Yakin nih masih mau iri dengan rumput tetangga???

Percaya saja, Tuhan adalah Maha Seadil-adilnya. Pun dengan pembagian jatah rezeki pada setiap ciptaan-Nya. Rezeki yang tak melulu soal uang, soal materi, soal jabatan. Melainkan juga prestasi, profesi, hingga pasangan. Rezeki pun membuat sebagian orang capek dengan sendirinya. Bagaimana tidak capek, kita saja sering lupa bersyukur. Merasa kurang terus dan kerap membanding-bandingkan dengan rezeki orang lain. Padahal yang Tuhan kasih pasti mampu mencukupi kebutuhan kita. Tergantung kita saja, mau bersyukur atau mau kufur. Rezeki kita ya ibarat rumput. Masing-masing dari kita memiliki rumputnya sendiri. Tak perlu khawatir, walau tak sehijau rumput tetangga. Mungkin rumput kita lebih subur, atau lebih mudah diatur, bahkan tidak tumbuh dengan liar. Sabar dan syukuri sajar rumput kita.  (penulis adalah wartawan Jawa Pos Radar Kediri)

(rk/baz/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia