Sabtu, 15 Dec 2018
radarkediri
icon featured
Features

Bank Sampah Hijau Daun, Upaya Warga Bujel Kurangi Polusi

Ubah Sampah Plastik Menjadi Kerajinan dan Tikar

26 November 2018, 16: 49: 07 WIB | editor : Adi Nugroho

sampah

CINTA LINGKUNGAN: Endang Pertiwi dengan karya-karya dari sampah. (IQBAL SYAHRONI - RadarKediri.JawaPos.com)

Bank Sampah di Kelurahan Bujel sudah enam tahun berdiri. Kini, mereka tengah giat mengedukasi warga agar mengurangi pembakaran sampah plastik. Mengajak mereka untuk melakukan daur ulang.

IQBAL SYAHRONI

Saat itu cuaca sedang terik. Sinar matahari terasa memanggang jalan. Namun, terik itu seakan hilang ketika sampai di halaman rumah Endang Pertiwi. Banyaknya pohon dan tanaman di sekitar ketua Bank Sampah Hijau Daun di Kelurahan Bujel, Mojoroto, Kota Kediri, itu menjadi peneduh. Sinar matahari jadi tak seganas seperti ketika melintas di jalanan.

Saat itu, Sabtu (24/11) pagi sekitar pukul 09.30 WIB, di rumah Endang sedang berkumpul beberapa orang. Endang duduk dengan beberapa teman dari komunitas peduli lingkungan Kediri. Memang, nama Endang sudah tidak asing bagi sebagian masyarakat Kediri.

Sudah sejak 2012 Endang mendirikan bank sampah di kelurahannya. Didorong dengan rasa cinta lingkungan yang tinggi yang ia rasakan sejak kecil. Endang menginginkan agar kesadaran masyarakat terhadap lingkungan meningkat.

Endang menjelaskan, sudah sejak kecil ia sering ikut ayahnya yang bekerja sebagai herbalis untuk memasuki ke hutan. Kemudian mengenalkan berbagai macam tanaman dan pentingnya menjaga lingkungan.

“Dari situ saya mulai mempraktikkan untuk cinta terhadap lingkungan,” imbuhnya.

Endang merintis Bank Sampah Hijau Daun dengan mengajarkan betapa besarnya dampak lingkungan akibat tercemar oleh sampah yang berceceran dan tidak diurusi. Namun, poin penting yang terus ia ingatkan kepada anggota adalah bahaya dari sampah anorganik jenis plastik.

Pasalnya, jika dilihat dari kasus yang marak terjadi, pembakaran sampah plastik dalam jumlah besar membuat efek rumah kaca meningkat. Sekaligus membuat tingkat pemanasan global menjadi lebih parah.

Apalagi jika sampah plastik yang dibuang sembarangan seperti di selokan, sungai, atau malah di laut. Melihat fenomena bangkai ikan paus yang terdampar di perairan Sulawesi beberapa hari lalu.

Dari penemuan bangkai ikan paus yang terdampar itu, terdapat sekitar enam kilogram sampah plastik yang mengendap di dalam perutnya. “Sampah plastik tersebut sangat mengancam ekosistem,” imbuhnya.

Ia terus-menerus mengingatkan tentang bahaya sampah plastik terhadap para amggota atau pada saat melakukan penyuluhan ke tempat lain. Ia pun berusaha membuat sampah plastik yang terdapat di warung-warung kopi untuk membuat kerajinan.

Hingga saat ini, sudah banyak jenis kerajinan yang ia buat dari sampah plastik yang tidak terpakai. Mulai dari tas, tempat tisu, sandal, topi, hingga yang paling baru, tikar.

Ia menjelaskan bahwa pembuangan sampah plastik dan pembakaran sampah plastik secara membabi buta sedikit-demi sedikit akan membuat lingkungan semakin rusak.

Endang berharap kedepannya sampah plastik yang hendak dibuang ataupun dibakar lebih baik dijadikan sesuatu yang bermanfaat dan bernilai. Karena ketika membuang sampah plastik, orang dapat kehilangan nilai yang dapat diambil dari sampah yang dapat diolah.

Di lingkungan rumahnya, ia juga sering mengajarkan kepada anak-anak akan bahaya sampah plastik terhadap lingkungan. Karena masa depan bumi ada di tangan generasi sekarang dan yang muda-muda. “Alhamdulillah, banyak yang responnya baik dari anak-anak serta orang tua untuk mencintai lingkungan sejak dini,” imbuhnya.

(rk/rq/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia