Sabtu, 15 Dec 2018
radarkediri
icon-featured
Events
Catatan Ekspedisi Wilis

Lukisan Surga di Kaki Langit

25 November 2018, 13: 05: 26 WIB | editor : Adi Nugroho

ekspedisi wilis

MASUK HUTAN: Tim saat berada di kawasan Alas Puspo Wilis. (M ARIF HANAFI - RadarKediri.JawaPos.com)

Usai ‘disiksa’ tanjakan, Tim Jawa Pos Radar Kediri – Gudang Garam Ekspedisi Wilis I berhasil menembus kawasan bungker. Tak hanya bungker, tim juga menemukan bekas tandon air.

Saat itu pukul 06.35 WIB. Ujian pertama di tanjakan usai sungai kami lewati. Di depan kami tanjakan terlihat lebih ekstrem. Kira-kira hampir 80 derajat. Namun kali ini suasana lebih terbuka. Jalan setapak dengan tanaman alang-alang. “Hutan yang kita lewati tadi namanya Alas Gople. Saya sendiri nggak tahu kenapa dinamai Alas Gople,” ujar Mas Menuk bercerita.

Selesai mengatur napas, kami melanjutkankan perjalanan. Langsung ngegas di gigi satu. Full tanjakan. Tak hanya dengkul yang rasanya mau copot. Napas juga tersengal-sengal. Alang-alang yang kami lewati kadang sangat tinggi. Jauh menutupi kami. Tapi kadang hanya setinggi pinggang.

Rasanya tak habis-habis tanjakan yang kami lewati. Setiap melihat ke ujung jalan. Selalu berharap itu adalah puncak. Faktanya tidak. Setelah ujung jalan masih menanjak lagi. Kami pun sering berhenti. Menenggak air kali, dan mengatur napas lagi.

Kadang seperti gerimis. Memercik tipis di wajah dan tubuh kami. Bukan air hujan. Tapi dari embun pagi. Embun itu kadang tebal menyelimuti sekitar kami. Sesaat kemudian pergi diembus angin. Matahari sudah mulai tampak. Bersinar terang. Menembus sela-sela kabut pagi.

Saat kabut hilang, kami bisa melihat area camp kami. Terlihat kecil di kejauhan. Jauh di bawah. Terpisah lembah dan hutan belantara. Suara burung tak henti mengiringi. Sungguh, bagai irama surgawi. Kadang kabut bergumpal berada di bawah kami. Kami seperti terbang di atas awan.

Meski alang-alang sangat lebat. Namun di tanah kami masih bisa melihat abu. Berarti kawasan ini pernah terbakar. banyak pula tunggak pohon besar teronggok menjadi arang. Hanya satu dua pohon besar yang berdiri. Yang banyak pohon cemara. Daunnya berdesis ketika bayu menderu.

Hampir satu setengah jam kami menghabiskan waktu di tanjakan itu. Jika ditambah waktu di alas Gople, genap dua jam. Saat itu pukul 8.05. Kami tiba dipuncak. Rasanya sangat lega sekali. Pemandangannya sangat indah. Bagai lukisan surga.

Jarak langit terasa sangat dekat dengan kami. Adagium berada di kaki langit benar-benar kami rasakan. Awan bergumpal berada di bawah kami. Di sisi selatan puncak Slurup tertutup kabut. Tubuhnya menjulang perkasa. Tingginya masih di atas kami. Di sisi utara, puncak yang terbakar semalam masih berasap. Puing kebakaran tampak jelas terlihat.

Kami istirahat di atas batang pohon yang ambruk karena terbakar. Pohon itu melintang memotong jalan. Mas Aji Saka mengeluarkan kompor portable. Memanaskan air untuk membuat kopi. Sungguh bagai di surga. Menikmati kopi di tempat yang luar biasa. Ketinggian kira-kira 1.800 mdpl.

Setelah 15 menit, kami berjalan lagi. Ke arah barat dari tempat istirahat tadi. Tak jauh, sekitar 200 meter menembus rerimbunan alang-alang. Sudah tidak lagi menanjak. Keluar dari alang-alang, kami masuk ke kawasan hutan homogen. Adalah Alas Puspo. Di hutan itu, udara terasa lembab. Hanya ada pohon puspo. Tumbuh subur menjulang tinggi.

Sebagian pohon-pohon itu, ditumbuhi lumut tebal. Tak hanya lumut, sebagian pakis raksasa menempel di sana. Di atas, daunnya rimbun lebat. Menutupi sinar matahari. Sehingga di bawah terasa gelap dan lembab. Tanahnya empuk gembur. Amblas saat di injak.

Usai mengambil beberapa foto kami melanjutkan perjalanan. Ke tujuan utama kami. Bungker tentara Jepang. Kami balik kanan ke tempat istirahat tadi. Kemudian ke arah utara. Menuruni tebing. Tak jauh, sekitar 300-an meter. Di tengah rerimbunan pepohonan, kami berhenti. Kami mencari bangunan bekas tandon air.

Setelah menyisir beberapa saat bangunan itu ketemu. Tersembunyi di rerimbunan. Kondisinya masih bagus. Belum terlalu rusak. Kami mengumpulkan data di sana. Pukul 09.00 wib, kami meninggalkan area tandon air. Turun ke bawah menuju bungker. Ke arah timur laut dari tandon tadi.

Kami menembus rerimbunan pohon. Medannya menurun. Tak sampai lima menit. Kami sampai di ujung tebing. Di bawah tanahnya berair. Kami menyisir ke timur. Melompati seperti genangan sungai. Berjalan sepuluh langkah, sampailah kami. Mulut bungker itu sudah di depan kami. Mulutnya menyempit separo karena longsoran.

Tak tahan kami untuk segera mengeksplornya. Sebagian kami masuk bungker. Sebagian berjaga di luar. Sekitar tiga puluh menit tim berada di dalam. Mengukur dan memfoto. Usai itu, kami melanjutkan eksplorasi kawasan sekitar bungker. Kami kumpulkan data sebanyak-banyaknya.

Tuntas sudah perjalanan kami. Lega sekali rasanya. Tak hentinya kami bersyukur. Diberi kesempatan melihat bagian dari sejarah bangsa ini. Sejarah yang tersembunyi di ketinggian Gunung Wilis. Terlindungi terjalnya medan dan lebatnya belantara. Semoga terus terjaga dari jahilnya tangan manusia.

Usai ‘disiksa’ tanjakan, Tim Jawa Pos Radar Kediri – Gudang Garam Ekspedisi Wilis I berhasil menembus kawasan bungker. Tak hanya bungker, tim juga menemukan bekas tandon air.

Saat itu pukul 06.35 WIB. Ujian pertama di tanjakan usai sungai kami lewati. Di depan kami tanjakan terlihat lebih ekstrem. Kira-kira hampir 80 derajat. Namun kali ini suasana lebih terbuka. Jalan setapak dengan tanaman alang-alang. “Hutan yang kita lewati tadi namanya Alas Gople. Saya sendiri nggak tahu kenapa dinamai Alas Gople,” ujar Mas Menuk bercerita.

Selesai mengatur napas, kami melanjutkankan perjalanan. Langsung ngegas di gigi satu. Full tanjakan. Tak hanya dengkul yang rasanya mau copot. Napas juga tersengal-sengal. Alang-alang yang kami lewati kadang sangat tinggi. Jauh menutupi kami. Tapi kadang hanya setinggi pinggang.

Rasanya tak habis-habis tanjakan yang kami lewati. Setiap melihat ke ujung jalan. Selalu berharap itu adalah puncak. Faktanya tidak. Setelah ujung jalan masih menanjak lagi. Kami pun sering berhenti. Menenggak air kali, dan mengatur napas lagi.

Kadang seperti gerimis. Memercik tipis di wajah dan tubuh kami. Bukan air hujan. Tapi dari embun pagi. Embun itu kadang tebal menyelimuti sekitar kami. Sesaat kemudian pergi diembus angin. Matahari sudah mulai tampak. Bersinar terang. Menembus sela-sela kabut pagi.

Saat kabut hilang, kami bisa melihat area camp kami. Terlihat kecil di kejauhan. Jauh di bawah. Terpisah lembah dan hutan belantara. Suara burung tak henti mengiringi. Sungguh, bagai irama surgawi. Kadang kabut bergumpal berada di bawah kami. Kami seperti terbang di atas awan.

Meski alang-alang sangat lebat. Namun di tanah kami masih bisa melihat abu. Berarti kawasan ini pernah terbakar. banyak pula tunggak pohon besar teronggok menjadi arang. Hanya satu dua pohon besar yang berdiri. Yang banyak pohon cemara. Daunnya berdesis ketika bayu menderu.

Hampir satu setengah jam kami menghabiskan waktu di tanjakan itu. Jika ditambah waktu di alas Gople, genap dua jam. Saat itu pukul 8.05. Kami tiba dipuncak. Rasanya sangat lega sekali. Pemandangannya sangat indah. Bagai lukisan surga.

Jarak langit terasa sangat dekat dengan kami. Adagium berada di kaki langit benar-benar kami rasakan. Awan bergumpal berada di bawah kami. Di sisi selatan puncak Slurup tertutup kabut. Tubuhnya menjulang perkasa. Tingginya masih di atas kami. Di sisi utara, puncak yang terbakar semalam masih berasap. Puing kebakaran tampak jelas terlihat.

Kami istirahat di atas batang pohon yang ambruk karena terbakar. Pohon itu melintang memotong jalan. Mas Aji Saka mengeluarkan kompor portable. Memanaskan air untuk membuat kopi. Sungguh bagai di surga. Menikmati kopi di tempat yang luar biasa. Ketinggian kira-kira 1.800 mdpl.

Setelah 15 menit, kami berjalan lagi. Ke arah barat dari tempat istirahat tadi. Tak jauh, sekitar 200 meter menembus rerimbunan alang-alang. Sudah tidak lagi menanjak. Keluar dari alang-alang, kami masuk ke kawasan hutan homogen. Adalah Alas Puspo. Di hutan itu, udara terasa lembab. Hanya ada pohon puspo. Tumbuh subur menjulang tinggi.

Sebagian pohon-pohon itu, ditumbuhi lumut tebal. Tak hanya lumut, sebagian pakis raksasa menempel di sana. Di atas, daunnya rimbun lebat. Menutupi sinar matahari. Sehingga di bawah terasa gelap dan lembab. Tanahnya empuk gembur. Amblas saat di injak.

Usai mengambil beberapa foto kami melanjutkan perjalanan. Ke tujuan utama kami. Bungker tentara Jepang. Kami balik kanan ke tempat istirahat tadi. Kemudian ke arah utara. Menuruni tebing. Tak jauh, sekitar 300-an meter. Di tengah rerimbunan pepohonan, kami berhenti. Kami mencari bangunan bekas tandon air.

Setelah menyisir beberapa saat bangunan itu ketemu. Tersembunyi di rerimbunan. Kondisinya masih bagus. Belum terlalu rusak. Kami mengumpulkan data di sana. Pukul 09.00 wib, kami meninggalkan area tandon air. Turun ke bawah menuju bungker. Ke arah timur laut dari tandon tadi.

Kami menembus rerimbunan pohon. Medannya menurun. Tak sampai lima menit. Kami sampai di ujung tebing. Di bawah tanahnya berair. Kami menyisir ke timur. Melompati seperti genangan sungai. Berjalan sepuluh langkah, sampailah kami. Mulut bungker itu sudah di depan kami. Mulutnya menyempit separo karena longsoran.

Tak tahan kami untuk segera mengeksplornya. Sebagian kami masuk bungker. Sebagian berjaga di luar. Sekitar tiga puluh menit tim berada di dalam. Mengukur dan memfoto. Usai itu, kami melanjutkan eksplorasi kawasan sekitar bungker. Kami kumpulkan data sebanyak-banyaknya.

Tuntas sudah perjalanan kami. Lega sekali rasanya. Tak hentinya kami bersyukur. Diberi kesempatan melihat bagian dari sejarah bangsa ini. Sejarah yang tersembunyi di ketinggian Gunung Wilis. Terlindungi terjalnya medan dan lebatnya belantara. Semoga terus terjaga dari jahilnya tangan manusia.

(rk/baz/die/JPR)

Alur Cerita Berita

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia