Sabtu, 15 Dec 2018
radarkediri
icon-featured
Hukum & Kriminal
Kasus Pembunuhan di Banyakan

Janji Belikan Kartu Internet Tak Kesampaian

24 November 2018, 14: 08: 04 WIB | editor : Adi Nugroho

pembunuhan

BERDUKA: Suasana rumah kekuarga korban. (DIDIN SAPUTRO - RadarKediri.JawaPos.com)

Indra Budi Cahyono seperti tak percaya. Anak sulung Baidowi itu tak mengira ucapan pamit keluar rumah malam itu (22/11) merupakan perjumpaan terakhirnya dengan sang ayah.

“Aku metu sedeluk, ijol sepeda (saya keluar sebentar, tukar motor, Red),” kenang Indra Budi Cahyono, menirukan ucapan ayahnya waktu itu. Kata-kata itu diucapkan korban sebelum meninggalkan rumah.

Dari keterangan Indra, ayahnya mengaku hanya pergi sebentar. Namun tak seperti biasanya, malam itu setelah Isya, Baidowi memilih menggunakan motor Indra. Selain motor, Dowi panggilan korban juga menggunakan sandal milik anaknya.

“Saya juga sempat tanya, kenapa tidak memakai motor bapak sendiri? Tapi katanya tidak usah, karena mau ke sawah,” jelas Indra, saat ditemui Jawa Pos Radar Kediri dirumah duka Dusun Geneng, Desa Maron, Banyakan kemarin siang.

Selama ini motor Indra sering digunakan untuk keperluan ke sawah. Tidak seperti motor milik ayahnya yang digunakan untuk keperluan sehari-hari.  Selain itu, sebelum meninggalkan rumah, Indra juga sempat ditanya oleh ayahnya. Dowi menawari Indra untuk dibelikan peralatan untuk motornya. Namun Indra menolak, karena dia sudah membelinya.

pembunuhan

Pembunuhan di Banyakan (Ilustrasi: Afrizal - RadarKediri.JawaPos.com)

“Bapak juga sempat mau kasih uang, tapi saya menolaknya,” terang Indra sembari matanya berkaca-kaca.

Baidowi meninggalkan 3 putra. Indra anak pertamanya duduk di bangku SMK kelas XI. Sementara dua adiknya, masing-masing kelas VII SMP dan kelas V SD. Dowi sendiri merupakan tulang punggung keluarga. Selain istrinya yang bekerja di warung.

Dari keterangan Misiah, salah satu kerabat korban, di hari meninggalnya Dowi, istrinya tidak boleh bekerja. Disuruh istirahat di rumah. “Sebenarnya ibunya Indra tidak capek. Tapi disuruh istirahat dan tidak boleh bekerja kemarin (Kamis pagi, Red),” ungkap perempuan yang biasa disapa Mis tersebut.

Bahkan, 3 hari sebelumnya, Dowi juga sempat mengajak keluar Rukmini, istrinya, dan anaknya yang paling kecil. Diajak keluar untuk beli makan. Istrinya diajak bersenang-senang. Menurut Mis, itu menjadi firasat korban. Sebelum meninggalkan keluarga selamanya. Padahal selama ini Dowi jarang mengajak keluar keluarga keluar rumah.

“Keluarga ya langsung shock. Semuanya sempat tidak sadar,” tambahnya.

Korban sehari-hari bekerja sebagai buruh serabutan di sawah. Sebelumnya juga sempat menjadi sopir.

Sementara di mata tetangga, Dowi dikenal sebagai seorang yang pekerja keras, pendiam, sopan, dan supel terhadap warga. Bahkan selama ini dia tidak pernah memiliki masalah dengan tetangganya.

“Orangnya baik, kalau ada kegiatan di kampung selalu ikut dan aktif,” kenang Mis.

Kenangan lain juga disampaikan Nurlita Ima Rahmawati, putri bungsu korban. Sebelum keluar, Dowi menjanjikan membelikan kartu perdana untuk internet.

“Saya belum sempat dibelikan, tapi bapak sudah tidak ada,” ujar Ima menahan tangis.

Sementara Indri Revalina, putri kedua korban, mengenang sifat ayahnya yang humoris. Menurutnya korban sering bercanda ditengah keluarga kecilnya. Selain itu juga penyayang dan perhatian.

“Saya dituturi, jangan bertengar sama kakak dan adik,” ucap Reva sembari mengusap sudut matanya.

Meninggalnya Dowi secara tragis itu tak hanya membuat keluarga yang heran. Namun tetangganya pun banyak yang bertanya-tanya. Dowi sendiri meninggal akibat dibunuh tetangga satu desanya Ali Mukhson, Kamis (22/11) malam. Motifnya akibat faktor asmara.

(rk/rq/die/JPR)

Alur Cerita Berita

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia