Jumat, 18 Jan 2019
radarkediri
icon-featured
Events
Catatan Ekspedisi Wilis

Suara Ledakan Bersahut di Malam Hari

23 November 2018, 16: 27: 14 WIB | editor : Adi Nugroho

ekspedisi wilis

EKSPEDISI: Suasana senja di Wilis. (M ARIF HANAFI - RadarKediri.JawaPos.com)

Bermalam di kawasan Runway bandara tentara jepang, tim Jawa Pos Radar Kediri – Gudang Garam Ekspedisi Wilis I dikejutkan suara ledakan. Mirip tembakan.

Di kawasan Ngebrak kami berhenti agak lama. Suasana di tempat itu tidak banyak berubah dibandingkan 1995 lalu. Saat itu saya ke tempat ini menuju puncak Slurup. Yang berubah adalah di ujung jalan itu. Dulu di pertigaan ada gubuk. Tempat peristirahatan penduduk yang mencari rebung ke hutan.

“Gubuknya itu sudah terbakar Mas. Beberapa tahun lalu kawasan ini terbakar. Semuanya habis,” ujar Mas Menuk ketika saya tanya keberadaan gubuk itu.

Sekitar 30 menit kami berhenti di sana. Saya sempat menerbangkan pesawat drone untuk memotret dari udara. Tapi sayang, di langit kabut tebal bergulung. Drone yang saya terbangkan hanya di altitude 100 meteran. Naik sedikit sudah masuk ke gumpalan kabut itu. Gambar di bawah sama sekali tak terlihat. Tertutup kabut. Termasuk puncak Slurup. Semua diselimuti kabut tebal.

Selesai eksplorasi di kawasan Ngebrak kami melanjutkan perjalanan. Dari pertigaan di ujung jalan setapak di situ ada persimpangan. Satu jalan lurus menuju puncak Slurup. Kami memutuskan untuk langsung belok ke kanan menuju ke arah kawasan runway bandara tentara Jepang. Belokan jalan itu masih ditumbuhi alang-alang. Yang tingginya di atas kepala kami. Matahari sesekali bersinar terik. Sinarnya menyengat saat kabut terempas angin.

Setelah 100-an meter kami masuk ke kawasan hutan heterogen lagi. Namun pepohonannya tidak begitu lebat. Panas matahari masih bisa menyengat kami. Semakin ke dalam pepohonan kembali semakin rimbun.

Kami melewati tiga sungai kecil dengan air jernih yang mengalir. Sungai-sungai itu mengalir di antara pertemuan dua tebing. Kami manfaatkan untuk mengambil air untuk minum. Airnya sangat jernih, dingin, dan segar. Mas Menuk memasangkan potongan bambu untuk pancuran air.

Usai sungai ketiga, jalanan menanjak. Kira-kira dengan kemiringan 45 derajat. Jalanan itu menyusuri pinggiran tebing dengan kondisi tanah yang labil. Sering kali tanah yang kami injak longsor. Terpaksa kami berjalan pelan. Beban perbekalan di punggung kami semakin membuat lambat perjalanan. Sedikit lama kami di kawasan ini. Butuh ekstra-hati hati.

Tepat pukul 14.00 tibalah kami di satu dataran luas. Dataran itu ditumbuhi alang-alang yang tidak terlalu tinggi. Inilah salah satu kawasan yang kami tuju. Kawasan runway bandara tentara Jepang. Dari tengah dataran tinggi itu kami melihat kepulan asap di punggung gunung sebelah utara kami. Ada dua titik kepulan asap. Sangat tebal. Sepertinya terjadi kebarakan hutan di kawasan itu.

Ternyata kawasan yang terbakar itu tepat berasa di atas bungker tentara Jepang yang akan kami tuju. “Lokasi gua (bungker, Red) di sisi bawahnya asap yang sebelah Barat itu Mas,” ujar Mas Menuk menunjukkan arah kepada kami.

Melihat kondisi itu, kami pun memutuskan untuk bermalam di tempat ini. Terlalu riskan bila harus bermalam di dekat kawasan bungker dengan kondisi adanya kebakaran di dekatnya. Api bisa saja merembet ke mana-mana. Termasuk ke camp. Ditambah jenis tanaman alang-alang yang sedikit kering. Akan sulit lari jika terkepung api.

Kami membagi tugas. Beberapa orang bertugas memasak. Lainnya mendirikan tenda. Sedang Mas Menuk dibantu Aji Saka turun ke bawah mencari kayu bakar untuk perapian.

Menjelang sore, semuanya sudah beres. Menu makan kami Nasi putih dengan sayur oseng kangkung. Lauknya gorengan sosis, perkedel, dan tempe. Kami makan kembul. Minumnya masih air bening dari sungai di bawah tadi. Segarnya bukan main. Sambil menikmati senja. Di ketinggian 1.600 mdpl.

“Jangan tanya bagaimana nikmatnya. Ini rasanya tak ternilai. Bukan soal menunya. Tapi suasananya yang istimewa. Luar biasa,” ujar Nanang Prestijono, staf BPMPD Kabupaten Kediri yang juga tergabung dalam tim ekspedisi.

Usai makan sore matahari mulai tenggelam. Semburat jingga di langit begitu indah. Suara-suara binatang malam mulai terdengar. Kami mulai menyalakan perapian untuk penghangat. Tak ketinggalan kopi menemani kami menyambut malam.

Jelang pukul 19.00 kami dikejutkan suara seperti tembakan dan ledakan. Tak… tak… tak…. kratak…. tuarr….. Suaranya terdengar bersahutan. Ternyata suara itu berasal dari pepohonan yang terbakar. Dari sisi utara. Di punggung gunung yang terpisah dua lembah dari tempat kami. Langit menjadi memerah di area gunung yang terbakar. Sepertinya kebakaran semakin besar.

Kami sedikit khawatir dengan kejadian itu. Berharap api tak merembet ke lokasi bungker tentara Jepang tujuan kami. Api itu tepat berada di atas lembah di mana bungker itu berada. Tak ada yang bisa kami lakukan. Hanya berharap dan berdoa.

Malam semakin larut. Bulan tampak separo. Bintang tidak terlihat. Sebagian tim memilih tidur di luar tenda. Melingkar di sekitar perapian. Tidur di alam. Berselimut kabut malam. Beranjak malam langit terlihat terang sekali. Bintang-bintang tampak cemerlang. Mengantar kami ke alam mimpi.

(rk/rq/die/JPR)

Alur Cerita Berita

Jawa Pos Digital
E-Paper
 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia