Selasa, 26 Mar 2019
radarkediri
icon-featured
Events

Catatan Ekspedisi Wilis I, Menguak Tabir Misteri si Gunung Air (5)

Tetap Waspada Kemungkinan Meletus

22 November 2018, 18: 33: 14 WIB | editor : Adi Nugroho

ekspedisi wilis

CEGAH DINGIN: Tim ekspedisi menyalakan api unggun. (M ARIF HANAFI - RadarKediri.JawaPos.com)

Apakah Gunung Wilis bisa meletus? Kapan Gunung Wilis meletus? Pertanyaan yang wajar karena Wilis adalah gunung api yang sampai saat ini masih memiliki kegiatan vulkanis.

Menurut Umar Rosadi, salah satu pengamat gunung api di PVMBG, kenapa Gunung Wilis masuk di tipe B dan bukan tipe C, karena sampai saat ini manifestasi aktivitas vulkanis masih kerap ditemukan.

Di antaranya adalah adanya asap solfatara atau fumarola. Yang yang ditandai dengan bau belerang menyengat di beberapa titik di lereng Gunung Wilis. Selain itu, juga masih ditemukan adanya sumber air panas.

Karena tanda-tanda itulah, pria asli Bandung ini mengatakan kalau Wilis dipastikan bisa meletus. Tapi, kapan waktu meletusnya, Umar mengaku tidak bisa memprediksi.

“Seperti gunung api yang lainnya, letusan sangat dipengaruhi oleh dorongan energi dari dalam perut bumi,” tegas Umar. Dorongan energi itulah yang kemudian mendorong magma untuk keluar dari perut bumi yang berada di bawah Gunung Wilis.

Pada masa sebelum 1600, berdasarkan penelitian yang dilakukan PVMBG, diketahui kalau setidaknya ada empat titik erupsi yang kemungkinan pernah terjadi di puncak Gunung Wilis. Yaitu Wilis Tua, Gunung Ngargikalangan, Wilis Muda dan Watubangil.

Berdasarkan dari kondisi batuan, diketahui kalau kejadian letusan itu kemungkinan besar berlangsung dalam masa yang berbeda. Karena itulah, erupsi yang terjadi selanjutnya juga tidak bisa diprediksi lokasinya. Mengingat luasan kompleks Wilis yang mencapai 55x36 kilometer persegi. Atau sekitar 1.980 kilometer persegi. Karena itu, terang Umar, saat ini yang perlu dilakukan adalah tetap waspada. “Tapi tidak perlu takut, karena PVMBG juga melakukan monitoring dan siap memberikan bantuan mitigasi bencana,” terangnya.

Saat ini, karena termasuk pada tipe B, monitoring dilakukan secara berkala. Tidak seintensif pengamatan pada gunung yang masuk kategori A. Selain itu, terang Umar, jika sudah muncul tanda-tanda, pihak PVMBG akan memberikan peringatan sesuai dengan standar operasional prosedur (SOP) seperti gunung api lainnya.

“Biasanya ditandai dengan adanya gempa vulkanik,” terangnya. Gempa ini muncul karena adanya pergerakan energi yang mendorong magma dari perut bumi. Pada saat itu, biasanya status gunung api akan berubah menjadi level 1 menjadi aktif normal. Tahapan selanjutnya adalah level 2 waspada, level 3 siaga, dan terakhir level 4 awas.

Perubahan status itu biasanya akan dilanjutkan dengan mitigasi bencana.  Seperti pengosongan area dalam jarak tertentu dan penanganan para korban bencana.

Kewaspadaan memang diakui Umar sangat penting. Pasalnya, seperti halnya Gunung Sinabung di Dataran Tinggi Karo, Kabupaten Karo, Sumatera Utara yang sebelumnya masuk tipe B, tiba-tiba menunjukkan gejala letusan. Dan aktivitasnya tidak berhenti sampai sekarang. Karena itulah, status Gunung Sinabung pun akhirnya berubah menjadi tipe A.

“Karena itulah, PVMBG terus melakukan monitoring secara periodik untuk menjaga kemungkinan tiba-tiba adanya letusan,” tegasnya.

Selama aktivitas vulkanik itu tidak muncul, terang Umar, dia meminta masyarakat yang berada di lereng Gunung Wilis tidak perlu khawatir atau resah. Sebab, saat ini gejala-gejala aktivitas vulkanik masih belum terjadi. “Silakan beraktivitas seperti biasa. Tetapi, jangan merusak,” pintanya.

(rk/baz/die/JPR)

Alur Cerita Berita

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia