Sabtu, 15 Dec 2018
radarkediri
icon-featured
Events

Catatan Ekspedisi Wilis I, Menguak Tabir Misteri si Gunung Air (2)

Batuan Gampingnya Berumur Puluhan Juta Tahun

19 November 2018, 17: 57: 26 WIB | editor : Adi Nugroho

ekspedisi wilis

MENDAKI: Tim Ekspedisi Wilis Jawa Pos Radar Kediri-Gudang Garam menyusuri kawasan Gunung Wilis, Sabtu lalu (17/11). (DIDIN SAPUTRO - RadarKediri.JawaPos.com)

Keberadaan Gunung Wilis tak bisa dipisahkan dari rangkaian pembentukan gunung di Jawa. Diduga terbentuk sekitar puluhan juta tahun lalu atau pada umur miosen, Wilis disebut jadi produk tertua.

Menurut Pengamat Gunung Api dari Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Umar Rosadi, gunung yang masuk tipe B ini aktivitas vulkaniknya sudah terjadi puluhan juta tahun lalu. “Aktivitas (vulkanik)-nya kemungkinan besar sudah terjadi sebelum pengangkatan geatiklin pada zaman pleitosen tengah,” terang Umar saat dihubungi melalui ponselnya.

Pria yang juga pernah menjabat sebagai penanggung jawab gunung api di Jawa ini mengatakan kalau tanda-tanda aktivitas tersebut terlihat dari endapan vulkanik yang pernah diteliti di kawasan Gunung Wilis. “Terlihat dari adanya batu gamping berumur miosen di zona pegunungan selatan,” terangnya.

Untuk diketahui, masa miosen tengah atau sekitar 23 juta tahun. Karena itulah, diyakini kalau gunung ini menjadi satu-satunya gunung api besar yang masih ada di zona Solo. Karena masa terbentuknya sebelum masa pleitosen. Yaitu skala waktu geologi yang berlangsung antara 2,5 juta tahun lalu. Yang dibedakan menjadi pleitosen awal, tengah dan akhir. Karena inilah, maka Gunung Wilis dianggap menjadi produk tertua dari komplek yang ada di zona Solo.

Diungkap dari sejarah geomorfologi Jawa, bahwa pada awalnya, antara Sumatra, Kalimantan dan Jawa merupakan satu daratan dengan benua Asia yang disebut tanah Sunda. Selanjutnya pada masa Eosen, pulau Jawa yang semula berupa daratan, bagian utaranya tergenang oleh air laut dan membentuk cekungan geotiklin.

Pulau Jawa yang semula merupakan geantiklin berangsur-angsur mengalami penurunan lagi sehingga pada Miosen bawah terjadi genang laut. Gunung api bermunculan di bagian selatan membentuk pulau gunung api.

Pada pulau-pulau tersebut terdapat endapan breksi vulkanik dan endapan-endapan laut. Semakin jauh dari pantai terbentuk endapan gamping koral dan gamping foraminifera.

Pada Miosen tengah di sepanjang selatan pulau Jawa pembentukan gamping koral terus berkembang diselingi batuan vulkanik. “Endapan gamping koral inilah yang dikenali saat dilakukan penelitian,” terangnya.

Batu gamping inilah yang selanjutnya tertutup dengan endapan vulkanis yang kembali menunjukkan adanya aktivitas vulkanis yang aktif di masa lampau. “Sejumlah penelitian dilakukan di sepanjang kaki Gunung Wilis yang berada di sekitar Kediri, Tulungagung dan Trenggalek,” bebernya.

Keberadaan tumpukan batuan vulkanis ini dengan batu kapurnya menjadi ciri khas keberadaan pegunungan selatan Jawa yang bertahan hingga saat ini. Yang menarik,, pada batuan-batuan penyusun yang didominasi batuan kapur itu juga diselingi munculnya vulcanic neck atau leher lava yang biasanya menunjukkan adanya bekas aliran magma yang akhirnya mengeras di dalam lubang. “Temuan-temuan inilah yang semakin menguatkan kalau Wilis dahulunya adalah gunung berapi aktif,” terangnya.

(rk/rq/die/JPR)

Alur Cerita Berita

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia