Sabtu, 15 Dec 2018
radarkediri
icon featured
Events

Panji Mbulan: Beri Apresiasi Seni dan Budaya Lokal

19 November 2018, 16: 55: 54 WIB | editor : Adi Nugroho

panji mbulan

TARI KONTEMPORER: Penari dari Jerman, Martina Fiertag, berkolaborasi dengan Dian, seniman tari dari Trenggalek, dalam pergelaran Panji Mbulan. (RAMONA VALENTIN - Radar Kediri. JawaPos.com)

KEDIRI KOTA – Pergelaran seni budaya bertajuk Panji Mbulan di area wisata Gua Selomangleng, Kelurahan Pojok, Kecamatan Mojoroto berlangsung semarak, kemarin. Acara yang digelar sekitar pukul 10.00 hingga 15.00 itu menarik perhatian ribuan warga.

Tak hanya dari Kota Kediri. Namun, juga luar kota. Apalagi, ada seniman dari enam negara yang tampil. Hal itu membuat pengunjung tertarik. “Karena penasaran, pertunjukan juga menarik karena penampil gelaran seninya dari berbagai kota,” kata Yoyok, warga Desa Wonoasri, Kecamatan Grogol, yang hari itu datang bersama istri dan anaknya.

Dia mengaku, menunggu kesenian jaranan yang mulai tampil sekitar pukul 14.00. Di sana memang ada dua acara. Yakni pergelaran seni budaya dan penampilan kesenian jaranan di depan Museum Airlangga.

reog

ATRAKTIF: Pertunjukan tari membuka acara di Gua Selomangleng, Kelurahan Pojok, Mojoroto. (RAMONA VALENTIN - RadarKediri.JawaPos.com)

Bukan tanpa sebab acara ini kerap digelar dengan tema berbeda. Wali Kota Abdullah Abu Bakar mengungkapkan, kegiatan seni yang didesain seperti ini cukup menarik perhatian wisatawan. “Hal ini juga bisa menggaet UMKM,” ujarnya pada Jawa Pos Radar Kediri.

Abu menjelaskan, hal tersebut merupakan daya tarik. Sebab secara tidak langsung, wisatawan akan tinggal di hotel Kota Kediri dan menikmati makanan di sini. Menurutnya, Kota Kediri belum memiliki destinasi wisata alam yang cukup menarik. Makanya, pemkot berkomitmen menggelar pergelaran seni dengan konsep-konsep yang lebih menarik.

Di antaranya dengan mendatangkan seniman mancanegara. Itu sebagai langkah inovasi. Acara yang sudah digelar empat kali ini, diakui Abu, mengekspos Gua Selomangleng. “Alhamdulillah banyak juga yang datang dari luar kota,” imbuhnya.

Hal senada disampaikan Nur Muhyar, Kepala Dinas Budaya Pariwisata Pemuda dan Olahraga (Disbudparpora) Kota Kediri. “Pergelaran ini dalam rangka melestarikan sejarah dan meningkatkan kunjungan wisata,” terangnya.

Dia menegaskan, Kota Kediri merupakan kota jasa. Menyadari belum memiliki destinasi wisata alam yang cukup menarik, pergelaran seni jadi bentuk apresiasi para pekerja dan pencinta seni. Sehingga ke depannya akan terus dilaksanakan dengan kolaborasi dari mancanegara.

Kepala Disbudparpora Provinsi Jawa Timur Sinarto pun mengakui, Gua Selomangleng patut dieksplor. Pasalnya, gua itu memiliki sisi historis. “Kami mencoba menyatu dengan Pak Wali untuk mengekplor potensi wisata di Kota Kediri,” paparnya ketika menghadiri pergelaran Panji Mbulan, kemarin.

Diakuinya bila “Panji” sekarang menjadi pikiran besar di Indonesia . Sehingga perlu diungkap sejauh mana nilai budayanya. Kota Kediri, bagi Sinarto, memiliki masa depan yang bisa dijadikan sebagai art tourism. Dalam arti Kota Kediri memiliki amenitas, aksesbilitas, dan atraksi kepariwisataan.

Sementara itu, Zhang Shang Rong, seniman tari kontemporer dari Beijing, Tiongkok, menyatakan, sangat mengapresiasi acara ini. Dia antusias ketika datang dan menyaksikan tarian seniman lokal. Apalagi kemarin bukan kunjungan pertamanya ke Indonesia. Sebab, sebelumnya pernah ke Jakarta, Bali, dan Solo.

Wanita 24 tahun ini mengaku, mempersiapkan tari kontemporer yang bertema bird dancing in the rain selama dua bulan. “I am learning with my teacher Mr Suprapto (saya berlatih bersama guru saya Pak Suprapto),” urainya.

Meski berbeda bahasa dan keyakinan dengan warga Kediri yang menyaksikan tariannya, Zhang mengaku, percaya dengan seni, masyarakat bisa berkomunikasi tanpa terbatasi oleh bahasa.

(rk/rq/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia