Kamis, 13 Dec 2018
radarkediri
icon-featured
Events

Catatan Ekspedisi Wilis I, Menguak Tabir Misteri si Gunung Air (1)

Gunung Api Terbesar di Zona Solo

18 November 2018, 13: 18: 34 WIB | editor : Adi Nugroho

ekspedisi wilis

LANGKAH BESAR: Tim ekspedisi Wilis I masuk kawasan hutan Gunung Wilis. (IQBAL SYAHRONI - RadarKediri.JawaPos.com)

Selama ini, orang mengenal Kediri dengan Gunung Keludnya. Gunung yang dikenal paling aktif di Jawa. Tapi, banyak yang tak menyadari bahwa Kediri masih memiliki Gunung Wilis. Gunung yang juga tergolong gunung berapi.

Tak banyak referensi yang mengungkap secara vulkanologi tentang Gunung Wilis. Hanya diketahui kalau gunung ini memiliki ketinggian 2.169 meter di atas permukaan laut (mdpl). Saking luasnya, gunung ini berada di enam kabupaten. Kediri, Tulungagung, Nganjuk, Madiun, Ponorogo, dan Trenggalek.

Pengamat Gunung Api dari Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana  Geologi (PVMBG) Umar Rosadi menyebutkan kalau Gunung Wilis termasuk gunung dengan tipe B. Artinya Gunung Wilis ini belum tercatat lagi mengadakan erupsi magmatik sejak tahun 1600. Tahun di mana Pemerintah Kolonial Belanda memulai melakukan pendataan tentang gunung api.  “Tetapi, saat ini (Gunung Wilis)  memperlihatkan gejala kegiatan vulkanik seperti adanya asap solfatara,” terang Umar.

Pengamat gunung api yang pernah menjadi penanggung jawab gunung api di wilayah Jawa ini mengatakan, solfatara adalah adanya fumarol atau sumber mata air panas. Fumarol ini mengeluarkan gas-gas oksida belerang. Seperti SO2 dan O3, selain karbondioksida dan uap air. “Solfatara ini mudah dikenali karena udara sekitarnya berbau busuk atau khas gas-gas oksida belerang,” bebernya. Tanda-tanda itulah yang membuat gunung Wilis ini dipastikan sebagai gunung api.

Umar mengatakan, gunung api yang masuk tipe B ini memang belum tercatat kapan erupsinya. Karena itu, khusus tipe B, tidak dilakukan pengamatan terus menerus. “Pengamatan hanya sebatas monitoring saja,” terangnya.

Berbeda dengan Gunung Kelud yang masuk pada tipe A, yang berarti aktif. Sehingga harus dilakukan pengamatan terus-menerus untuk mitigasi bencana.

Khusus Gunung Wilis, sambung Umar, memiliki banyak keunikan. Gunung yang memiliki banyak air terjun di lerengnya ini sangat luas. Sering disebut sebagai komplek Wilis. Umar menyebut wilayah gunung ini mencapai 55x36 kilometer. Atau 1.980 kilometer persegi. Karena itu, pantas jika gunung ini bisa mencakup enam wilayah kabupaten.

Bahkan, dia menyebut, Gunung Wilis menjadi satu-satunya gunung api besar yang terletak di zona solo. Untuk diketahui, zona solo dibagi menjadi tiga sub zona. Yaitu Sub Zona Blitar pada sisi selatan. Sub-zona ini menjadi jalur depresi sempit yang berhubungan dengan pegunungan selatan.

Sedangkan Wilis berada di sub-zona solo bagian tengah. Sub-zona ini dibentuk dari deretan gunung api kuarter dan dataran antargunung api.

Selain Wilis, gunung api yang masuk dalam deretan ini adalah Gunung Lawu, Gunung Kelud, Pegunungan Tengger, dan Gunung Ijen di ujung Timur Pulau Jawa. Untuk dataran antargunung apinya adalah dataran Madiun, Ponorogo, dan Kediri.

“Biasanya antara dataran gunung api ini dibentuk oleh endapan lahar,” terangnya. Karena itulah, di antara gunung-gunung ini, wilayahnya dikenal subur.

Terakhir adalah sub-zona bagian utara. Sub-zona ini merupakan depresi yang berbatasan dengan sub-zona solo di bagian selatan dan Pegunungan Kendeng di sisi utara. Sub-zona ini biasanya dibentuk oleh endapan aluvial (tanah yang terbentuk oleh endapan karena berada di daerah cekungan) dan endapan gunung api.

(rk/baz/die/JPR)

Alur Cerita Berita

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia