Sabtu, 15 Dec 2018
radarkediri
icon featured
Features

Subagyo, Lestarikan Jaranan, Iringi dengan Salawatan

Ajarkan Disiplin, Tak Boleh Tenggak Miras

18 November 2018, 13: 01: 19 WIB | editor : Adi Nugroho

jaranan

PERPADUAN: Subagyo memeragakan menabuh gendang di antara peralatan jaranan, di rumahnya kemarin. Jaranan yang dibina Subagyo diiringi lantunan salawat. (IQBAL SYAHRONI - RadarKediri.JawaPos.com)

Subagyo ingin melestarikan seni budaya lokal, jaranan. Namun, dia juga ingin membalut seni tersebut dengan syiar agama. Jadinya, dia memelopori jaranan dengan iringan alunan salawat.

Nama Subagyo bukan nama yang asing bagi warga RT 38 RW 09, Kelurahan Bandarlor, Mojoroto, Kota Kediri. Begitu menyebutkan nama Subagyo warga yang ditanya segera tahu. Kemudian menunjukkan arah ke satu rumah yang berada di pinggir Sungai Brantas.

Dari rumah tersebut keluar sosok lelaki. Mengenakan sarung. Kepalanya tertutup kopiah hitam. Bibirnya menyungging senyum kala mempersilakan wartawan koran ini masuk rumah.

Pria ramah berusia 68 tahun itu selama ini dikenal sebagai pembina kelompok jaranan di kampungnya. Nama kelompok jaranan itupun sudah banyak dikenal. Namanya Jaranan Suryo Dadari. Kelompok jaranan yang ia bentuk sejak 2009 itu, sudah beberapa kali diundang di berbagai acara besar. Baik itu di dalam Kota Kediri maupun di luar kota. “Mulai dari Trenggalek hingga Mojokerto,” terangnya.

Tapi, kelompok jaranan yang dibina Subagyo berbeda dari yang lain. Sejak 2012 jaranan yang dia bina sedikit berganti haluan. Menjadi kelompok jaranan bernuansa Islami. Dengan iringan lantunan salawat.

Sebenarnya, kelompok jaranan ini beberapa kali mengalami perubahan gaya. Mulai jaranan Jawa dari Kediri, jaranan senterewe Tulungagung, hingga jaranan buto dari Banyuwangi. Sampai akhirnya memantapkan dengan bentuk jaranan salawat seperti sekarang ini.

Saat itu, ia ingat betul acara yang digelar di halaman Polres Kediri Kota. Saat itu markas polisi itu masih berada di Jalan Brawijaya, Kelurahan Pakelan, Kota Kediri. Satu bulan sebelum digelar ia memiliki ide harus membawakan sesuatu yang baru. “Waktu itu terpikirkan untuk mencoba jenis jaranan senterewe dengan alunan salawatan,” kenangnya.

Tak disangka reaksi dari yang menyaksikan saat itu sangat positif. Ia menceritakan bahwa para tamu berbondong-bondong menuju ke pentas aksi jaranannya. Setelah itu sampai saat ini ia selalu menampilkan yang seperti itu. Jaranan senterewe dengan alunan musik salawatan. “Respon dari masyarakat juga Alhamdulillah, terhibur dan bagus,” imbuhnya.

Ia mengaku, dahulu ketika ingin membuat kelompok jaranan di lingkungan rumahnya, ia pernah didatangi oleh para pemuka agama. Kebetulan, lingkungan rumahnya diapit oleh dua pondok yang terkenal di Kota Kediri.

Kepada para pemuka agama itu dia menegaskan akan menghilangkan stigma tentang jaranan. Subagyo menegaskan tigak akan melakukan hal yang sia-sia dengan kelompok jaranan itu. Dia juga membuat beberapa aturan yang membatasi gerak-gerik para penari jaranan di kelompoknya. Seperti tak membolehkan mereka menyerang penonton. Juga tak akan membolehkan penari-penarinya meminum minuman keras. Barulah para pemuka agama itu mulai menerima.

Ia menjelaskan bahwa kunci dari kesuksesan jaranannya adalah kedisiplinan dari para anggota. Mereka mematuhi peraturan tentang hidup di dalam dunia ini.

Subagyo juga menambahkan bahwa sesungguhnya dalam berkehidupan yang utama adalah etika dari dalam diri manusia sendiri. Hal tersebut diterapkan dalam jaranannya. Ia menjelaskan, bahwa dalam setiap gerakan tarian di jaranan dengan salawat, mengandung makna bahwa semuanya berhubungan.

Dengan latihan disiplin, maka tarian saat tampil akan menjadi bagus, dan membuat para penonton dan penikmat jaranan  menjadi senang dan terhibur. “Kalau disiplin, maka etika juga akan tertata dengan sendirinya,” imbuhnya.

Subagyo juga menjelaskan bahwa ia sangatlah keras tentang peraturan agar anggota juga tetap menjaga etikanya. Ketika tampil, dari para anggota tidak diperbolehkan untuk meminum minuman keras, agar penampilan tetap bagus dan teratur.

Selain itu, ketika menabuh alat musik, pemain tidak boleh merokok.  Merokok hanya boleh saat istirahat. Dilakukan tidak di muka umum. Alasannya, agar tidak mengganggu pandangan penonton.

Ia juga menambahkan dalam setiap kegiatan yang akan dilakukan, para anggota dikumpulkan dan memanjatkan doa sebelum acara maupun setelah selesai. “Karena semua yang di dunia, berawal dan pada akhirnya akan kembali kepada-Nya,” imbuhnya.

 

 

Turun-temurun Gemari Seni

Pria yang sudah memiliki cicit ini nampak riang ketika menceritakan tentang jalan hidupnya di dunia seni. Dunia yang sudah dia kenali sejak dini. “Dari kakek, ayah, semuanya juga praktisi seni. Seperti ketoprak, wayang, hingga jaranan,” terangnya.

Karena cinta itu yang membuat Subagyo ikut terjun ke dunia seni. Berawal saat ikut ayahnya berkeliling kota demi kota. Melihat  pertunjukan ketoprak yang dimainkan ayahnya. Dari situ ia merasa kesenian merupakan bagian hidupnya. “Nama jaranan Suryo Dadari yang saya bikin ini juga terinspirasi dari nama grup ketoprak milik ayah saya dahulu,” terangnya.

Walaupun bergelut dengan dunia seni, Subagyo tetap diajari agama oleh orang tuanya. Ia juga pernah menjadi santri di salah satu pondok di Kota Kediri. Karena itu, ketika ada yang berpikiran jaranan tidak bisa diselaraskan dengan kegiatan agama, ia menepisnya. Dan menunjukkan bahwa kedua hal itu bisa berdampingan.

Ia mencontohkan cara para wali zaman dulu yang melakukan syiar agama dengan hiburan. Salah satunya melalui kesenian jaranan. Menurutnya, semua yang terdapat di dalam kesenian jaranan terhubung dengan aturan di kehidupan. Mulai dari jenis pakaian, kuda lumping, hingga cara berjoget.

Menurut Subagyo, segala sesuatu harus ada aturan yang berlaku. Karena hidup adalah untuk Sang Pencipta. Maka, manusia harus patuh pada larangan-Nya. Manusia pun harus disiplin dalam hidup. Dengan kedisiplinan maka etika akan terbentuk. “Karena segala dasar dalam kehidupan adalah etika diri sendiri,” terangnya.

Ia juga tetap dalam ajaran dari ayah dan gurunya di pondok untuk tetap hidup sederhana, dan berguna bagi sesama. Seperti yang ia ucapkan bahwa sebenarnya, melestarikan kesenian jaranan bukan untuk diri kita sendiri. Melainkan untuk anak-cucu dan generasi yang akan datang.

Mengenalkan jaranan dengan salawat merupakan hal yang paling mudah untuk mengenalkan kesenian tersebut kepada masyarakat awam. Bahwa seni jaranan juga bisa membawa nilai-nilai positif. Terutama disandingkan dengan alunan salawat.

(rk/baz/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia