Kamis, 13 Dec 2018
radarkediri
icon-featured
Events
Catatan Pengantar Ekspedisi Wilis

Jawa Pos Radar Kediri – Gudang Garam Ekspedisi Wilis I

Wilis yang Eksotis, Wilis yang Penuh Potensi

18 November 2018, 12: 02: 34 WIB | editor : Adi Nugroho

gunung wilis

LANDSCAPE: Gunung Wilis difoto dari Desa Kanyoran, Semen. (M ARIF HANAFI - RadarKediri.JawaPos.com)

Tak banyak literatur yang membantu kami dalam mengeksplorasi pengetahuan tentang Gunung Wilis. Baik dari sisi sejarah maupun mitologi. Faktor itu yang membuat kami menjadi antusias untuk memulai ekspedisi kecil. Ekspedisi Wilis I.

Sejatinya, sejak lama kami tertarik dengan gunung ini. Terutama setelah kami menuntaskan dua ekspedisi sebelumnya, Ekspedisi Brantas dan Ekspedisi Kelud. Fokus kami langsung pada upaya untuk mencari tahu segala informasi tentang Gunung Wilis. Gunung yang menyimpan pesona tersendiri namun masih tertutup misteri ini.

Keinginan itu semakin mendapatkan dorongan setelah muncul perkembangan baru yang sangat signifikan. Di kaki Gunung Wilis bakal dibangun bandara besar yang landas pacunya, kabarnya, hingga 3 kilometer. Di kaki Gunung Wilis pula akan dibuat jalan lingkar yang bahkan sudah diperoleh namanya,

Tunggal Rogo Mandiri. Akronim dari enam daerah yang akan tersambung dengan jalan tersebut, Tulungagung-Trenggalek-Ponorogo-Madiun-Nganjuk-Kediri. Jalan lingkar, yang bila terealisasi, bakal mengubah semua peta di daerah ini. Baik itu peta ekonomi, sosial, budaya, maupun transportasi.

Dan, perubahan itu sudah dimulai. Setidaknya sudah terbangun jembatan penghubung antara wilayah timur Sungai Brantas dengan barat Sungai Brantas. Jembatan itu adalah Jembatan Wijayakusuma yang membentang menghubungkan wilayah Ngadiluwih dengan Kecamatan Mojo yang berada di Lereng Wilis. Kehadiran jembatan ini sebagai pintu awal bagi pengembangan wilayah barat sungai menjadi kekuatan ekonomi dan sosial baru.

Dengan alasan itulah kami bergerak untuk melakukan ekspedisi ini. Suatu ekspedisi kecil yang kami harapkan bisa memberi sumbangan yang, harus kami akui, kecil pula untuk peta jalan pengembangan wilayah barat Sungai Brantas.

Dalam ekspedisi ini kami akan berusaha untuk mengeksplorasi Gunung Wilis dari berbagai aspek. Mulai dari aspek geologi, sejarah, sosial-ekonomi, dan juga mitologi. Ini yang akan menjadi tugas bagi tim ekspedisi kami yang selama dua hari akan mencoba mendapatkan data-data tentang wilayah yang eksotis ini.

                                      -------------------------

Sekilas Tentang Wilis

Gunung Wilis puncaknya mencapai 2.169 meter dari permukaan laut (mdpl) ini masuk dalam rangkaian cincin api (ring of fire). Menariknya, gunung ini berstatus istirahat. Artinya, tidak menutup kemungkinan bakal meletus. Usianya, sekitar 10 ribu tahun radiocarbon. Atau terbentuk sekitar 9.300-an sebelum masehi (SM). Itu diketahui berdasarkan jenis batuan penyusunnya yang berjenis halosen.

Menariknya, karena pegunungan, Wilis punya banyak puncak. Dan, yang tertinggi justru di Puncak Liman atau Ngliman. Yang mencapai 2.563 mdpl. Puncak ini menjadi batas bagi empat kabupaten. Kediri, Nganjuk, Ponorogo, dan Tulungagung.

Dua puncak itulah yang mendominasi dalam pandangan masyarakat umum. Karena itu, walaupun Pegunungan Wilis memiliki banyak puncak, yang dikenal umumnya hanya dua, Gunung Wilis dan Gunung Ngliman.

Walaupun berada dalam rangkaian cincin api, sulit untuk menemukan manuskrip atau catatan tentang letusan gunung yang terakhir kalinya. Namun, dengan gunung yang berjenis stratovolcano, Gunung  Wilis tetap menyimpan potensi untuk meletus sewaktu-waktu.

Daerah lereng Wilis tergolong daerah yang subur. Bisa dibuktikan dengan banyaknya sumber air di sepanjang kaki gunung.

Banyaknya sumber air di kaki gunung ini membuat sebagian masyarakat menyebutnya dengan gunung air. Yang mengakibatkan banyak muncul air terjun. Terjalnya lereng membuat air terjun di lereng Wilis terkenal indah dna eksotis.

Beberapa waterfall itu di antaranya adalah Sedudo di Sawahan, Nganjuk, Irenggolo di Mojo, Kediri, Dolo juga di Mojo, Kediri, air terjun Laweyan di Sendang, Tulungagung, dan air terjun Slampir di Kare, Madiun.  Air terjun-air terjun itu memiliki keindahan alam yang masih perawan.

Kawasan ini juga memiliki kekayaan pada jenis hutannya. Kaya akan jenis tanaman dan hewan. Ada informasi di kawasan ini juga menjadi tempat habitat salah satu jenis kijang. Yaitu yang bertanduk panjang. Sementara, ada bagian yang terdiri dari rawa-rawa dengan tanah yang bergoyang. Konon, tempat seperti itu berada di antara Gunung Patuk Banteng dan Arga Kalang. Di lokasi ini tumbuhan serupa rumput tumbuh dengan subur. (*)

(rk/baz/die/JPR)

Alur Cerita Berita

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia