Kamis, 13 Dec 2018
radarkediri
icon featured
Features
Samuji, Jagatirta di Sepawon, Plosoklaten

Keluar Masuk Hutan demi Cek Sumbatan Pipa

Belasan Tahun Abdikan Diri

16 November 2018, 18: 49: 34 WIB | editor : Adi Nugroho

DEDIKASI: Samuji melihat salah satu penampungan air di salah satu gang. Tugasnya menjaga suplai air di desanya tetap lancar.

DEDIKASI: Samuji melihat salah satu penampungan air di salah satu gang. Tugasnya menjaga suplai air di desanya tetap lancar. (ANDIKA ATTAR - RADARKEDIRI.JAWAPOS.COM)

Tak banyak yang sanggup menjadi tukang talang atau jagatirta di desa ini. Tempatnya di pelosok. Di lereng Gunung Kelud. Keluar-masuk hutan menjadi hal yang biasa.

ANDHIKA ATTAR

Mendung gelap sudah mulai hinggap. Tak berselang lama, gerimis pun mulai turun membasahi jalanan tanah. Namun, suasana mendung seperti itu seakan tak terasa di salah satu rumah di Dusun Badek, Desa Sepawon, Plosoklaten. Sang pemilik rumah, Samuji, berbincang hangat dengan sang istri. Duduk berdua di teras depan. Sesekali menyapa ramah tetangga yang lewat.

Saat seperti itu merupakan berkah baginya. Pasalnya tidak setiap saat Samuji bisa bersantai dengan Puji Astuti, istri tercinta. Meskipun hanya seorang pria biasa dengan kulit gelap dan badan kecil, Samuji memiliki peran penting di desanya. Yang membuatnya harus sering ‘bepergian’.

Bukan sebagai perangkat desa atau semacamnya. Samuji hanyalah seorang jagatirta. Atau tukang talang, istilah yang lebih populer di sana. Sebagai tukang talang, ia bertugas mengatur pasokan air bersih untuk warga. Samuji memegang tanggung jawab yang relatif  berat. Belum lagi, dalam sebulan terakhir debit air di sana sedang turun.

“Sering saya didatangi orang yang protes airnya kok sedikit atau tidak mengalir. Padahal air di sumbernya sana memang tinggal sedikit,” ujar pria kelahiran 1966 tersebut.

Karena sudah sering mendapatkan protes semacam itu, Samuji pun memiliki pendekatannya sendiri. Istilah yang dipakainya adalah setel kendho (dibawa santai). Pasalnya, jika ditanggapi dengan kepala yang panas pula, yang ada hanyalah debat kusir.

Pengalamannya menjadi tukang talang selama 13 tahun membuatnya sudah mengenal karakter warga. Samuji justru mengajak bercanda warga yang protes tersebut. Dengan begitu, ketegangan pun kian mencair. Namun tetap ada saja yang menyangkal dan ngeyel.

“Saya jelaskan baik-baik dan apa adanya. Kalau tetap ngeyel biasanya saya ajak ke atas melihat sumbernya. Tetapi kebanyakan tidak ada yang mau,” akunya lalu tertawa lepas.

Sebenarnya ajakan Samuji bisa juga diartikan sebagai tantangan. Pasalnya, untuk menuju Sumber Glatik di Desa Sepawon jalannya relatif jauh. Tak hanya jauh, lokasinya pun harus melewati deretan pohon-pohon yang menambah rintangan.

Meskipun begitu, kondisi sumber di sana memang sedang berkurang akibat kemarau panjang. Sebelumnya, air bisa mengalir penuh melalui pipa berukuran empat dim. Karena sedang mengalami krisis air, debitnya pun tak sampai satu dim saja.

Kondisi tersebut semakin membuatnya diuji. Dengan air yang berkurang hingga mencapai 75 persen, ia harus membaginya kepada warga. Air yang hanya sedikit tersebut harus digunakan untuk mencukupi sekitar 450 KK. Samuji mengakali dengan membagi air bersih lewat pipanisasi tersebut per gang.

Di dusunnya sendiri ada 19 gang yang menjadi tanggung jawab Samuji. Alhasil, setiap gang baru bisa mendapatkan aliran air tersebut setelah berselang 19 hari kemudian. Kondisi tersebut juga tidak berarti lancar tanpa kendala. Ada pula warga yang nakal mencuri air di luar jadwalnya.

“Kapan hari itu ada yang ke rumah tengah malam. Saya waktu tidur ada warga yang protes airnya tidak mengalir,” cerita ayah satu anak tersebut.

Mendapat panggilan dalam gelapnya malam, Samuji tetap berusaha melayani. Ia tetap akan mengecek apa yang menjadi keluhan warganya. Jika memang masalah ada karena tersumbat, ia akan membersihkannya. Berbeda ketika tidak ada sumbatan. Analisanya ada dua. Kalau tidak karena debit yang semakin berkurang, artinya ada yang sedang mencuri air.

Ia tidak segan langsung mengerjakannya malam hari. Asalkan penerangan mencukupi dan bisa dikerjakan sendiri. Namun jika tidak memungkinkan, pagi harinya ia akan mengajak teman dengan peralatan yang lebih memadai.

Jam kerjanya memang tidak dipatok waktu. Selama warga dusunnya membutuhkan, ia akan selalu siap. Ia sendiri sudah mendasarkan aktivitasnya tersebut sebagai bentuk pengabdian. Jika landasan dasarnya material, menurutnya tidak akan mungkin bertahan lama menjadi tukang talang di sana.

Seperti tukang talang sebelum dirinya. Hanya kisaran 1 – 2 tahun saja yang bertahan. Pun dengan tukang talang dusun lainnya di Desa Sepawon. Tidak selama dirinya yang bertugas sejak 2005. “Melihat warga puas, itu sudah menjadi kepuasan tersendiri baginya,” akunya.

Ketika ada dropping air bersih dari Pemkab Kediri, ia selalu mendampingi. Setiap kali truk tangki warna oranye melintas di Dusun Badek, Samuji pasti ada di sekitarnya. Membantu petugas untuk distribusi dan memetakan warga mana yang paling membutuhkan. 

(rk/die/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia