Kamis, 13 Dec 2018
radarkediri
icon featured
Sego Tumpang

Huruf Gosok

15 November 2018, 18: 47: 47 WIB | editor : Adi Nugroho

Huruf Gosok

Jaman belum usum komputer lengkap dengan printernya, Kang Noyo paling suka sama ini. Juga Pakde Suto yang masih kerja di kantoran. Karena mesin ketik hurufnya kecil-kecil. Kalau mau bikin tulisan dengan huruf-huruf berukuran besar, harus bikin pola dulu. Kemudian, pola itu diisi dengan huruf, angka, atau tanda baca dari bilah-bilah mesin ketik hingga penuh.

Cethak, cethok, gredeeekk.. Cethak, cethok, gredeeekk.. Ndak praktis sama sekali. Mau bikin tulisan dari tangan sendiri ya jelek. Lha wong dasarnya tulisan ala cekeran pitik. Teman sekelas pasti ngelu kalau tiba giliran dia untuk maju dan menulis di blabak. Tulisannya ndak bisa dibaca.

Beda dengan yang ini. Benar-benar bisa diandalkan. Terutama untuk membikin tulisan besar di sampul-sampul tugas sekolah atau laporan kantor. Pilihan font dan ukurannya banyak. Bagus-bagus pula. Ya hurufnya. Ya angkanya. Ya tanda bacanya. 

Tinggal tempel. Lalu, gosok satu per satu huruf atau angkanya. Jadi. Bagus. Sekualitas dengan hasil printer. Bahkan lebih bagus daripada printer dot matrix yang krik-krik itu. Cuma, sialnya jika huruf yang hendak ditempel sobek. Ndak mau nempel seluruhnya di kertas. Sebagian masih nyangkut di plastiknya. Huruf atau angka pun jadi gempil.

Rugos. Itu andalan banget jaman semana. Hampir ndak ada anak sekolah yang ndak mengenalnya. Konon, itu singkatan dari ‘huruf gosok’. Jaman sekarang ya mirip dengan sticker cutting untuk aplikasi yang berbeda.

Seperti disebut di atas, Rugos jadi andalan untuk menggantikan tulisan tangan yang cekeremes. Jadi penyelamat dari kurang praktisnya mesin ketik yang cethak, cethok, gredeekk. Pendeknya, apa saja yang membutuhkan tulisan dengan font yang indah dan cepat, ya Rugos solusinya. Di-Rugos saja, beres.

Cuma, ada yang tidak bisa dikerjakan dengan Rugos: menjawab soal-soal ujian. Secekeremes apa pun tulisannya, tetap saja harus dijawab dengan tulisan tangan. Meskipun, itu juga berisiko bikin ngelu korektornya. Mesin ketik juga tidak bisa diandalkan karena tidak lebih praktis. Butuh banyak kertas. Butuh banyak pita karbon. Juga butuh banyak mesin ketik itu sendiri –yang pada masa itu tak sembarang orang punya. Tidak seperti sekarang yang setiap murid harus punya laptop.

Seperti sambel tumpang yang lebih enak bikinan tangan –bukan mesin—tulisan tangan juga lebih otentik untuk menjawab ujian. Apalagi untuk soal-soal yang membutuhkan jawaban deskriptif. Sekalipun masih bisa turunan, setidaknya tak bisa langsung copy paste jawaban teman. Ada effort yang lebih.

Korektor –guru, dosen—juga bisa menilai langsung kualitas jawaban murid atau mahasiswanya. Sekalipun harus rela berpusing tujuh keliling jika menjumpai jawaban tangan yang cekeremes. Tentang pemahamannya terhadap masalah. Tentang penalaran dan pengembangannya. Mbulet tapi tidak berisi. Atau, taktis dan padat penuh isi. Yang gampang menilainya, jika singkat dan tidak berisi. Langsung, sreett..coret. Kasih nilai minimal. Atau, malah tak ada nilai.   

Tapi, jaman dan teknologi terus berkembang. Korektor tak perlu tenaga manusia lagi. Bisa dilakukan oleh mesin. Namun, soal harus tersedia hanya dalam pilihan ganda. Karena mesin masih kesulitan untuk mengoreksi tulisan tangan. Apalagi yang cekeremes. Yang sulit untuk dikenalinya.

Seperti dalam seleksi CPNS kali ini. Yang standarnya superketat. Yang passing grade-nya membuat jutaan peserta ampun-ampun. Praktis. Cepat. Tinggal kerjakan di komputer. Lalu, langsung keluar hasil masing-masing. Lolos. Atau tidak. Dan, mayoritas tidak. Sehingga, banyak formasi yang terpaksa tidak akan terisi. Jika tetap mengikuti standar yang superketat itu.

Karena itu lantas muncul pemikiran untuk menyiasati. Agar formasi-formasi yang kosong tetap bisa terisi. Salah satunya dengan mengambil peserta dengan nilai-nilai terbaik. Sekalipun tak lolos dengan standar yang ditetapkan.

Untuk yang satu ini, Rugos sepertinya juga bukan solusi. Untuk menyulap nilai-nilai yang di bawah standar menjadi terlihat indah dan tinggi. (tauhid wijaya)

(rk/die/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia