Sabtu, 15 Dec 2018
radarkediri
icon featured
Kolom

- Jati Diri -

12 November 2018, 19: 39: 08 WIB | editor : Adi Nugroho

- Jati Diri -

Akhir-akhir ini, sejumlah kota di Indonesia berlomba menjadi yang terbaik dalam hal pengelolaan cagar budaya. Mulai dari pendataan potensi di daerah, penataan dan penetapan lingkup kawasan cagar budaya. Hingga mengucurkan anggaran untuk perawatan. Terutama bangunan-bangunan bersejarah yang ada di dalam kota.

Hal tersebut bukan tanpa alasan. Memang kota-kota itu memiliki niat yang tinggi untuk melestarikan bangunan peninggalan yang tersisa. Kenapa saya sebut ‘niat’? Ya, ini karena mereka mau menjaga, merawat, dan mengenalkannya kepada seluruh warga kota. Tujuan utamanya jelas. Yakni agar memperoleh pengakuan nasional bahkan dunia. Menjadi kota berpredikat istimewa, yang akan dijuluki sebagai Kota Pusaka atau istilah lainya world heritage city.

Kota pusaka merupakan kota yang di dalamnya terdapat kawasan cagar budaya dan atau bangunan cagar budaya. Yang memiliki nilai-nilai penting bagi kota. Menempatkan penerapan kegiatan penataan dan pelestarian pusaka sebagai strategi utama pengembangan kotanya.

Dan sudah hal yang umum, keuntungan sebuah kota yang masuk predikat Kota Pusaka itu sangatlah jelas. Selain bisa mengangkat nama baik kota tersebut, juga bisa menjadi jujukan destinasi wisata yang sangat menarik bagi sebagian besar masyarakat. Setidaknya saat ini telah ada 33 kota yang telah masuk dalam Jaringan Kota Pusaka Indonesia (JKPI). Semuanya adalah daerah otonom berstatus kota (non-kabupaten).

Pastinya, kota-kota yang masuk dalam daftar itu adalah kota yang memilki sejarah panjang di Nusantara. Baik mulai dari kerajaan hingga masa pendudukan kolonial. Sebagai salah satu kota tua, Kediri memiliki semua yang dimaksud. Banyak peninggalan yang ada di kota yang dulunya berjuluk Dhahanapura ini. Baik itu peninggalan kerajaan hingga peninggalan kolonial yang masih tampak di sejumlah sudut kota.

Lantas dari 33 kota tadi, apakah terselip nama Kota Kediri? Jawabanya pun sedikit mengecewakan, yakni ‘Tidak’. Padahal, dalam daftar tersebut, dari 33 kota tadi ada 5 kota yang berasal dari Provinsi Jawa Timur. Mulai dari Kota Pahlawan Surabaya, Kota Pendidikan Malang, Kota Madiun, Kota Proklamator Blitar, dan Kota Probolinggo.

Hal ini pun dulu sempat membuat saya bertanya-tanya. Kenapa kota sebesar Kediri dengan sejarah panjang kerajaan yang besar dan terkenal itu tidak masuk daftar? Kenapa kota sebagai jalur perdagangan sekaligus menjadi kekuatan perjuangan saat perlawanan melawan penjajah ini tidak bisa menunjukkan eksistensinya di dunia sejarah? Apakah memang tidak ada peninggalan yang se-istimewa kota-kota tadi untuk diperjuangkan?

Sebenarnya, masih ada, bahkan cukup banyak. Dan bisa melebihi kota-kota tadi. Namun, keadaanlah yang tidak bisa membuktikannya. Dari sejumlah informasi yang saya dapat. Jangankan mengetahui bangunan bersejarah yang tersisa. Tim Ahli Cagar Budaya (TACB) yang memiliki kewenangan sebagai tim peneliti saja tidak punya. Kalaupun ada itu sifatnya hanya sementara. Sistem sewa dari daerah sebelah.

Dan itu sangat menghambat dalam hal pendataan cagar budaya yang ada. Tentunya juga akan berpengaruh terhadap penetapan suatu bangunan menjadi cagar budaya yang benar-benar diakui nasional. Ada apa di balik semua ini? Apakah kota dengan keagungan Kerajaan Dhaha-nya ini akan tetap jalan di tempat? Atau bahkan akan melupakan sejarahnya sebagai penguasa sebagian Nusantara di masa lampau?

Entah, bagaimana langkah ke depan mereka. Sebenarnya ini sangat dan sangat disayangkan sekali. Kota se-kelas Kediri, belum bisa menunjukkan jati diri. Menjadi Kota Pusaka yang seharusnya bisa dilirik dunia. (penulis adalah wartawan Jawa Pos Radar Kediri)

(rk/die/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia