Minggu, 18 Nov 2018
radarkediri
icon featured
Hukum & Kriminal

Efek Angin Ribut: Paling Parah di Balongjeruk Kunjang

Hujan Pertama di Kota Kediri Air Masuk Rumah

Jumat, 09 Nov 2018 13:29 | editor : Adi Nugroho

bpbd kediri

BERSIH-BERSIH: Anggota BPBD dibantu personel Banser menebangi batang pohon tumbang yang menimpa rumah di Desa Balongjeruk, Kunjang. (ANDHIKA ATTAR - RadarKediri.JawaPos.com)

          KEDIRI KABUPATEN - Dari tiga desa di Kecamatan Kunjang yang terkena terpaan angin kencang dan hujan deras Rabu (7/11) lalu, Desa Balongjeruk paling parah. Tak hanya rumah dan pohon tumbang saja. Di desa itu beberapa fasilitas umum mengalami kerusakan ringan. Sementara di Desa Kuwik dan Wonorejo, kerusakan yang ditimbulkan relatif ringan.

          “Ada satu sekolah dasar, PAUD dan musala yang juga mengalami kerusakan ringan,” ujar Pelaksana tugas (Plt) Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Kediri Randy Agatha Sakaira.

          Mayoritas kerusakan pada atap bangunan. Mulai dari genteng yang melorot hingga asbes yang terbang diterjang angin kencang. Selain itu, kerusakan pada beberapa rumah juga terjadi akibat tertimpa pohon tumbang.

          Salah satu rumah yang rusak adalah milik Suharsiyo. Lokasinya tepat di sebelah Balai Desa Balongjeruk. Atap rumah yang juga toko alat tulis itu terlepas dibawa angin. “Atap kamar mandi belakang juga mengalami kerusakan,” terang Suharsiyo.

          Tapi bangunan utama dan barang di tokonya aman. “Tadi habis sekitar Rp 800 ribu untuk membeli perlengkapan dan bahan bangunannya,” akunya.

Bangunan lain yang rusak adalah SDN Balongjeruk. Genteng dan atapnya rusak. Kerusakan itu ditaksir mencapai Rp 5 jutaan. Walaupun demikian, pagi kemarin kegiatan belajar-mengajar masih berlangsung. “Kami tidak meliburkan anak-anak. Mereka tetap masuk,” ujar Kepala SD Negeri Balongjeruk Ichsan.

Kemarin, personel BPBD langsung melakukan pembersihan. Enam personil itu dibantu anggota Banser Kecamatan Kunjang. Mereka bahu-membahu membersihkan puing reruntuhan, pohon tumbang dan lainnya.

Menurut petugas, angin kencang Rabu lalu hanya singkat. Tidak sampai lima menit. Arahnya dari barat daya. Diawali oleh hujan ringan. “Seusai angin berlalu, baru hujan menjadi deras,” terang Komandan Unit Reaksi Cepat (URC) BPBD Kabupaten Kediri Windoko.

Windoko mengatakan, hujan disertai angin kencang biasa terjadi pada awal musim penghujan. Beberapa daerah berpotensi terkena. Terutama di Kabupaten Kediri bagian utara. Yaitu Plemahan, Purwoasri, Kunjang, Badas, Kepung dan Kandangan.

Sementara itu, di Kota Kediri, hujan deras mengguyur siang hingga sore kemarin (8/11). Akibatnya, beberapa lokasi mulai muncul genangan. Beberapa rumah pun kemasukan air. Salah satunya di Jalan Dr Saharjo, Kelurahan Pojok, Mojoroto. Sejumlah rumah di tempat itu juga kemasukan air.

Pihak BPBD Kota Kediri pun melakukan sejumlah kesiapan untuk mengurangi ancaman banjir tersebut. Menurut Kasi Kedaruratan dan Logistik Adi Sutrisno, salah satu daerah yang memiliki riwayat banjir cukup serius adalah di lingkungan Polaman, Kelurahan Manisrenggo, Kota Kediri. Hal ini didasari dengan kejadian banjir tahun lalu. Tingginya mencapai 1 meter lebih. Untuk itu, kemarin salah satu drainase di wilayah tersebut dinormalisasi.

“Normalisasi ini untuk mengantisipasi banjir seperti tahun lalu,” katanya.

Kondisi drainase itu memang sudah mendangkal. Rentan terjadi luapan air bila ada banjir. Setidaknya pada tahun lalu sekitar 90 kepala keluarga terdampak banjir yang terjadi. Terutama warga yang bermukim di perumahan Manisrenggo Residence. Akses warga keluar masuk wilayah perumahan menjadi terhambat. Bahkan banjir di sungai Polaman itu juga meluap ke Jalan Sersan Suharmaji yang mengakibatkan terganggunya arus lalu lintas.

“Selain sungai di Polaman ini, Sungai Bruno dan Kresek juga rawan meluap,” terang Adi.

Adi menjelaskan Sungai Bruno yang terletak di Kelurahan Tamanan, Mojoroto pada tahun ini sudah dibangun tanggul penahan air. Hal tersebut mengantisipasi meluapnya air kiriman dari daerah lereng Wilis yang kerap melanda.

“Saat kemarau memang tidak ada air. Tapi pas musim hujan, debitnya sering naik dan menyebabkan banjir akibat kiriman dari daerah atas,” jelasnya.

Sementara di aliran Sungai Kresek, yang sering terjadi luapan adalah daerah Kelurahan Ngadirejo dan Dandangan. Namun dari keterangan Adi, banjir itu penyebab utamanya adalah tumpukkan sampah yang banyak menyumbat aliran sungai. “Mohon untuk warga yang sering membuang sampah ke aliran sungai bisa sadar diri bahwa itu akan berdampak buruk bagi lingkungan,” ingatnya.

Adi mengimbau masyarakat untuk melakukan kerja bakti di saluran drainase. Dia juga mengingatkan agar menghindari tempat-tempat risiko tinggi saat hujan deras saat ini. Apabila terjadi angin kencang jangan berteduh di bawah bangunan yang rentan roboh dan bawah pohon. “Jangan membersihkan dahan pohon sesaat setelah hujan. Karena kemungkinan apabila ada kabel, itu masih tersalur aliran listrik,” ingatnya lagi.

Kerugian akibat Angin Ribut

Desa Balongjeruk

Kerusakan                    Jumlah

Rumah                           81                                 

Sekolah dasar                1

PAUD                            1

Rumah                           22

Desa Kuwik

Kerusakan                    Jumlah

Rumah                           30

Desa Wonorejo

Kerusakan                    Jumlah

Rumah                           22

Musala                           1

Sumber : BPBD Kabupaten Kediri

(rk/baz/die/JPR)

Jawa Pos Digital
E-Paper
Most Read
 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia