Minggu, 18 Nov 2018
radarkediri
icon-featured
Hukum & Kriminal

Kasus Bocah Lumpuh: Dinkes Sebut Tak Terkait Imunisasi Rubella

Kamis, 08 Nov 2018 16:49 | editor : Adi Nugroho

dinkes

dr Fauzan Adhima, Kepala Dinkes Kota Kediri (DIDIN SAPUTRO - RadarKediri.JawaPos.com)

KEDIRI KOTA - Positif terkena guillain barre syndrome (GBS) dan bukan akibat dari imunisasi measles rubella (MR). Namun, pihak Pemkot Kediri tetap akan membantu upaya pengobatan Wd. Dia adalah bocah yang yang mengalami kelumpuhan setelah menjalani imunisasi MR beberapa waktu lalu.

Itulah hasil mediasi dan klarifikasi yang dilakukan pemkot kepada pihak keluarga korban. Pemkot pun kemudian mengusulkan agar biaya perawatan penderita ditanggung oleh pihak RS dr Saiful Anwar (RSSA) Malang. Dan permintaan itu sudah disetujui pihak rumah sakit.

“Tim medis RSSA (juga) menyampaikan bahwa si pasien ini positif terkena GBS,” terang Kepala Dinkes dr Fauzan Adhima kemarin.

Berdasarkan informasi dari tim medis RSSA Malang, GBS tersebut tidak ada hubungannya dengan imunisasi difteri maupun rubella. Dari keterangan Fauzan GBS ini bersifat autoimun. Sehingga ini tidak ada hubunganya dengan imunisasi.

“Tetapi karena ini terjadi dua hari setelah injeksi atau imunisasi, maka dimasukkan dalam kejadian ikutan pasca-imunisasi atau KIPI,” terangnya kepada Jawa Pos Radar Kediri.

Menurut Fauzan, istilah lain dari kasus ini adalah kejadian kebetulan. Padahal antara GBS yang diderita dengan imunisasi itu tidak ada hubungannya.

Penyakit autoimun sendiri adalah penyakit di mana sistem kekebalan tubuh seseorang menyerang jaringan sehat orang itu sendiri. Sistem kekebalan tubuh atau disebut sistem imun berfungsi untuk melindungi tubuh dari ‘ancaman’ yang dapat membahayakan tubuh seperti bakteri dan virus.

Penyebab terjadinya GBS tersebut hingga saat ini belum diketahui. Meskipun beberapa teori telah diutarakan. Teori yang sering diungkapkan adalah virus sebagai pemicu pada individu yang rentan secara genetik. Namun hingga sekarang teori ini belum dapat dibuktikan. 

Fauzan menyampaikan bahwa penyakit GBS yang masuk dalam daftar penyakit autoimun ini bisa sembuh total. Hal ini juga didukung dari penjelasan tim medis RSSA yang menangani penyakit ini. GBS ini sebenarnya ada yang sampai fatal. Namun kalau dilihat dari progress penyakitnya, pasien Wd sudah berangsur membaik.

“Kemungkinan besar masa kritisnya sudah terlewatkan. Dan ini akan bisa sembuh sendiri,” tegasnya.

Penyakit GBS juga masih masuk penyakit self limiting desease. Atau penyakit yang bisa disembuhkan sendiri oleh tubuh. Artinya tanpa diobati sebenarnya bisa sembuh sendiri. Seperti batuk pilek karena virus, dengan menjaga kondisi badan bisa sembuh sendiri. “GBS pun juga seperti itu,” terangnya.

Adakah kaitan antara sakit yang diderita Wd sebelum imunisasi? Fauzan juga membantah. Direktur RSUD Gambiran ini menegaskan GBS tak ada sangkut-pautnya dengan sakit itu. Sebelum imunisasi petugas sudah bekerja sesuai SOP. Terlebih dulu memeriksa kondisi Wd.

“Di cek dulu, di screening. Apakah dia sakit atau tidak. Kalau batuk pilek boleh. Tapi kalau demam, itu tidak boleh. Pada saat imunisasi, Wd dalam keadaan baik dan tidak demam,” jelasnya.

Terkait biaya pengobatan, dinkes telah berkoordinasi dengan Wali Kota Kediri Abdullah Abu Bakar. Menurut Fauzan, Wali Kota Abu telah menyampaikan ke Dinkes Provinsi Jatim agar membebaskan biaya pengobatan WD.

“Alhamdulillah Dinas Kesehatan Provinsi sudah minta kepada direktur RSSA Malang untuk membebaskan biaya pengobatan,” tandasnya.

Tak hanya itu, Pemkot Kediri juga akan memberikan bantuan sosial berupa biaya hidup untuk keluarga selama perawatan di sana.

Untuk diketahui, sebelumnya (6/11) orang tua Wd, Suyanto, melakukan aksi menuntut keadilan kepada pemerintah. Dia mendatangi kantor Dinkes Kota Kediri dengan berjalan kaki Gedung Nasional Indonesia (GNI) Kediri. Aksi ini dilakukan Suyanto karena putranya harus menjalani perawatan di rumah sakit akibat mengalami kelumpuhan di kedua kakinya. Yang menjadi  masalah, kelumpuhan itu terjadi setelah mendapatkan imunisasi measles rubella (MR) oleh petugas kesehatan pada (24/10). 

(rk/rq/die/JPR)

Jawa Pos Digital
E-Paper
Most Read
 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia