Minggu, 18 Nov 2018
radarkediri
icon featured
Sego Tumpang

Senggol-senggolan

Kamis, 08 Nov 2018 16:29 | editor : Adi Nugroho

Senggol-senggolan

Pasar Senggol. Itu tempat favorit bagi Matklimis buat mejeng. Biar prejengan-nya yang klimis meski kadang bau amis bisa dilihat cewek-cewek manis. Pasar Senggol ndak butuh tempat yang luas. Asal bisa menampung pedagang yang ingin jualan, cukup. Meski harus uwel-uwelan. Pengunjungnya juga ndak butuh ruang yang lega untuk melihat-lihat barang. Untuk mengambil napas.

Uyel-uyelan. Justru di situ asyiknya. Justru di situ hakikat dari pasar yang kemudian disebut Pasar Senggol. Karena uyel-uyelan pasti bisa senggol-senggolan. Nah, orang macam Matklimis paling suka yang begitu-begitu. Penyelenggara Pasar Senggol pun sama adanya. Semakin uyel-uyelan, semakin senggol-senggolan, berarti semakin sukseslah gawe-nya. Itu tolok ukurnya.

Tolok ukur itu pula yang banyak dipakai oleh banyak penyelenggara acara lainnya. Apalagi jika nanti ada kampanye pengerahan massa. Makanya, dulu, ada tokoh nasional yang berseloroh untuk kesuksesan acaranya dengan tolok ukur itu: “Mari kita bikin jalan-jalan di seluruh kota ini macet…!”

Alamaak..! Macet mbahe sangkil. Untuk kota-kota yang sepi, yang jarang macet, yang jarang mobil-mobil lewat, kemacetan bisa jadi merupakan sebuah kemewahan. Semacam karnaval tujuh belasan yang selalu ditunggu-tunggu seperti masa lalu.

Akan tetapi, bagi kota-kota yang hampir tiap hari macet, kemacetan tambahan bisa dianggap sebagai prahara. Waktu tempuh yang sudah lama akan semakin bertambah lama. Sebagai konsekuensi, yang berangkat pagi harus semakin pagi meninggalkan rumah. Yang pulang malam harus semakin malam untuk tiba di rumah.

Keramaian, pada mulanya, memang selalu dicari. Ketika orang-orang yang biasa hidup dalam ketenangan merasa kesepian. Maka, kota-kota selalu diserbu oleh orang-orang dari daerah pinggiran. Dari daerah pedesaan. Dari daerah pegunungan. Karena di kota ada keramaian. Yang tidak mudah dijumpai di pinggiran, pedesaan, dan pegunungan – yang biasa hanya menjumpai keramaian Pasar Senggol dan Pasar Malam yang datangnya pun tak mesti.

Akan tetapi, seperti bumi yang luasnya tak bertambah, kota juga memiliki daya tampung yang terbatas terhadap keramaian. Hunian bertambah. Industri bertambah. Perkantoran bertambah. Pusat perdagangan bertambah. Jumlah kendaraan pun bertambah. Sebaliknya jalan, panjangnya hampir tak pernah bertambah. Lebarnya juga sulit untuk ditambah.

Akibatnya, jalan yang dulu sekadar ramai, menjadi bertambah ramai. Lalu, macet. Tak bergerak. Banyak kota yang sudah mengalaminya. Dan, ketika kota itu tak mampu atau tak mungkin lagi menambah panjang dan lebar jalan, membatasi peredaran kendaraan, atau merekayasa lalu lintasnya, prahara akan terjadi.

Pada saat itu, keramaian menjadi hal yang dihindari – jika tidak malah tidak ditinggalkan. Orang-orang akan kembali bergerak mencari ketenangan. Keheningan. Karena di sana bisa ditemukan kedamaian. Uyel-uyelan, senggol-senggolan, sudah bukan lagi menjadi hal yang asyik.

Surabaya harus berjuang keras untuk membangun frontage road di Jl Ahmad Yani agar tetap terasa asyik bagi yang ingin mencecap keramaiannya. Malang masih harus memutar otak untuk menarik minat orang-orang yang mulai menghindari kemacetannya.

Lalu, bagaimana dengan kota ini, Kediri? Memang belum seperti Surabaya atau Malang. Akan tetapi, kepenuhsesakannya sudah mulai terasa. Ada satu kegiatan saja yang menggunakan jalanan, seluruh jalan utama di kota akan terasa imbasnya. Sekalipun kegiatan itu berupa perbaikan jalan yang dimaksudkan untuk melancarkan arus lalu lintas kendaraan.

Apalagi di tiga titik jembatan yang ada. Ketiga-tiganya seakan tak mampu lagi menyangganya. Jembatan Bandar Ngalim di alun-alun. Jembatan Semampir. Dan, Jembatan Lama yang akan segera didampingi Jembatan Brawijaya.

Ringroad untuk mengalihkan kendaraan-kendaraan besar agar tak masuk ke dalam kota belum mampu diwujudkan. Ada kendala di sisi timur karena harus menggunakan lahan di wilayah kabupaten. Kota tak punya lahan yang memadai. Hal yang harus bisa dipecahkan bersama mumpung ada momentum pembangunan bandara. Agar dua wilayah yang bukan hanya bertetangga, tapi bersaudara, ini bisa sama-sama merasakan manfaatnya.

Akan tetapi, menunggu kebijakan pemegang kuasa tidaklah seperti pengantin baru yang menghabiskan malam pertama. Sebentar. Itu sebabnya, warga warung sego tumpang seperti Matklimis atau Matnecis banyak yang kemudian mengambil inisiatif. Tak sering-sering berkendara dengan mobil. Lebih baik naik motor atau sepeda.

Orang-orang seperti mereka inilah yang mulai menghindari keramaian. Uyel-uyelan. Senggol-senggolan. Di kotanya sendiri. (tauhid wijaya)

(rk/baz/die/JPR)

Jawa Pos Digital
E-Paper
Most Read
 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia