Minggu, 18 Nov 2018
radarkediri
icon-featured
Hukum & Kriminal

“Saya Menangis Lihat Kaki Wildan Kepleh”

Bocah Lumpuh usai Imunisasi

Rabu, 07 Nov 2018 17:39 | editor : Adi Nugroho

korban

MENGIBA: Dengan menangis Suyanto mendatangi kantor dinkes kemarin. Dia minta pemerintah bertanggung jawab terhadap kasus anaknya. (DIDIN SAPUTRO - RadarKediri.JawaPos.com)

KEDIRI KOTA - Wildan kini terbaring lemas di RS Syaiful Anwar Malang. Kondisinya pun belum stabil. Santri pondok pesantren Al Mahrusiyah Lirboyo itu harus menjalani perawatan di rumah sakit akibat mengalami kelumpuhan di kedua kakinya. Yang menjadi  masalah, kelumpuhan itu terjadi setelah mendapatkan imunisasi measles rubella (MR) oleh petugas kesehatan pada (24/10). 

Kondisi itu yang membuat Suyanto, sang ayah, menuntut keadilan. Dia mendatangi kantor Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Kediri kemarin pagi. Dari Gedung Nasional Indonesia (GNI) dia berjalan kaki ke kantor dinkes yang berjarak sekitar 300-an meter. Badannya terbungkus dua poster. Bagian depan bertuliskan ‘Anakku Korban Rubella’.  Sedangkan di bagian belakang tertulis ‘Menuntut Keadilan untuk Anakku Wildan’.

“Saya ingin pemerintah bertanggung jawab hingga anak saya sembuh,” isak Suyanto. Sepanjang perjalanan, Suyanto terus terisak. Isakannya kian menjadi tangis ketika masuk ke kantor dinkes.

Suyanto mengatakan, anak keduanya tak hanya lumpuh di kedua kakinya. Kedua tangannya juga lemah. Kekuatannya hanya sepuluh persen saja. Suyanto mengaku tidak tega melihat kondisi anaknya. Dan selalu menangis saat teringat.

Dari keterangan Suyanto, peristiwa berawal pada Sabtu (20/10). Saat itu Wildan yang berada di pesantren telepon ke rumah. Mengabarkan bahwa dia sakit. “Katanya gejala tipes,” terangnya.

Suyanto lalu menyarankan Wildan pulang. Tiga hari Wildan berada di rumahnya, Desa Sumberejo Kulon, Ngunut, Kabupaten Tulungagung. Setelah kondisinya terasa sehat dia kembali ke pesantren.

Keesokan harinya (24/10), ada program imunisasi di pesantren. Wildan, dan santri yang lain, disuntik vaksin MR oleh petugas dari dinkes. Siang harinya,

remaja malang itu drop. Kakinya kesemutan dan mengalami gejala awal sulit berjalan. Hingga pada Jumat (26/10) kedua kakinya sama sekali tidak bisa digerakkan.

Wildan kemudian dijemput ibunya. Kemudian menuju Puskesmas Campurejo, Mojoroto. Namun, menurut Suyanto, saat itu puskesmas menolak karena sudah tutup.  “Tapi istri saya memaksa masuk agar anak saya bisa diperiksa,” terangnya.

Akhirnya Wildan dan sang Ibu dibolehkan masuk. Pihak puskesmas pun bersedia merujuk ke RSUD Gambiran. Hanya, pihak keluarga Wildan ingin anaknya dirujuk ke RSUD dr Iskak Tulungagung. Namun, pihak puskesmas tak mau mengantar bila keluar daerah. Akhirnya, Wildan dibonceng dengan motor oleh sang ibu.

“Posisi saya di Tulungagung karena ada resepsi kerabat. Kemudian saya menyusul ke daerah Jeli, Tulungagung. Saya tidak bisa menahan tangis, anak saya kakinya kepleh (lemas, Red),” kenang Suyanto sembari tak bisa menahan tangisnya.

Di RSUD dr Iskak, Wildan diperiksa. Dugaannya saat itu adalah Wildan mengalami guillain barré syndrome (GBS). Dari beberapa sumber, kondisi GBS ini dapat dipicu oleh bakteri akut atau infeksi virus. Gejalanya berawal dengan lemas dan kesemutan di kaki dan telapak kaki yang menyebar ke tubuh bagian atas. Kelumpuhan sangat mungkin terjadi dalam kasus ini. Setelah tiga hari dirawat Wildan dirujuk ke RS Syaiful Anwar Malang.

Sayangnya, dalam perawatan di rumah sakit provinsi itu tak seluruh biaya ditanggung BPJS Kesehatan. Menurut Suyanto, dari lima tahap pemeriksaan hanya satu yang ditanggung BPJS Kesehatan. “Totalnya itu butuh Rp 120 juta dan BPJS hanya bisa membantu Rp 17 juta,” jelasnya.

Karena itulah Suyanto mendatangi Dinkes Kota Kediri. Dia meminta pertanggungjawaban atas apa yang dialami putranya.

Sementara itu, mewakili Kepala Dinas Kesehatan, Sekretaris Dinkes M. Rizal Amin menyampaikan bahwa petugasnya hanya menjalankan tugas dari Pemerintah Pusat. Yaitu melakukan imunisasi kepada semua anak.

Terkait kasus Wildan, Rizal mengatakan bahwa sebelumnya telah mendapatkan dua kali imunisasi. Dan tidak terjadi efek apapun. “Namun yang ketiga ini, memang anak Wildan malamnya mengalami kesemutan, baik kiri dan kanan,” ujar Rizal.

Menurutnya, secara historis, dari demam 3-4 hari yang dialami Wildan, sangat cocok dengan gejala pada orang yang mengalami GBS. Hingga kini pihak Dinkes pun akan tetap melihat perkembangannya. Mereka akan melakukan yang terbaik untuk Wildan. Rizal menyebut bahwa merasakan betul apa yang dirasakan keluarga Suyanto itu.

“Insya Allah besok (hari ini, Red) akan kami bicarakan dengan kepala dinas. Baik sisi sosial, perawatan, dan biayanya,” terangnya.

Terakhir Rizal menambahkan apabila nanti penanganan dan perawatan bagus penyakit ini bisa disembuhkan. Apalagi usia Wildan yang masih kecil. Yang kemungkinan besar bisa sembuh total.

“Kalau siklus pengobatan dan responnya baik, Insya Allah anak Wildan bisa sembuh, dan kita doakan saja,” pungkasnya.

Berujung Pelaporan Wartawan

Kedatangan Suyanto di Dinkes Kota Kediri kemarin sempat diwarnai dengan insiden. Usai mediasi antara ayah siswa yang lumpuh usai menjalani imunisasi MR itu, terjadi kericuhan antara staf dinkes dan beberapa awak media. Akibatnya, staf dinkes melaporkan kejadian itu ke polisi. Menganggap wartawan telah melakukan pengeroyokan.

Insiden berawal ketika wartawan tengah mewancarai Suyanto. Di tengah wawancara itu pihak keamanan dinkes meminta agar wawancara tak dilakukan di tempat itu. Tapi harus di luar lokasi dinkes.

Entah apa yang diucapkan oleh pihak dinkes tapi yang pasti itu menyulut emosi beberapa wartawan. Pertengkaran pun terjadi. Beberapa orang yang ada di sekitar tempat itu pun akhirnya melerai.

Namun, persoalan tak selesai di situ. Beberapa staf dinkes yang merasa jadi korban dari pemukulan itu melapor ke Polsek Kota Kediri. Berdasarkan informasi, belasan wartawan dilaporkan telah melakukan dugaan penganiayaan.

Kapolsek Kota hingga tadi malam belum bisa dimintai konfirmasi karena sedang berada di Polda Jatim. Demikian pula dengan Kasi Humas Polsek Kota yang kemarin kebetulan tak masuk dinas karena sakit. Namun, dari petugas jaga membenarkan bila ada pelaporan terhadap kasus tersebut.

Menurut petugas piket sore, laporan itu berlangsung saat yang jaga petugas siang hari. Namun, ada informasi bahwa sudah ada upaya damai dari kedua pihak.

“Ada upaya damai dari kedua pihak,” ucap petugas tersebut.

Sementara itu, dari pihak dinkes hingga tadi malam belum bisa dimintai konfirmasi. Kadinkes Fauzan belum membalas pesan whatsapp yang dikirim wartawan koran ini. Demikian pula dengan Dendik Suprianto, kasi P2P, konfirmasi yang diminta juga belum direspon.

Sementara, Kasubag Humas Polres Kediri Kota Kamsudi, mengaku belum mendapat laporan terkait kasus tersebut. “Belum ada laporan yang masuk ke Polresta,” tulisnya via pesan WA.

(rk/baz/die/JPR)

Jawa Pos Digital
E-Paper
Most Read
 TOP
Artikel Lainya

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia