Senin, 19 Nov 2018
radarkediri
icon featured
Politik

Banyak Sumur Kering di Desa Bobang

Senin, 05 Nov 2018 19:47 | editor : Adi Nugroho

kekeringan

Kekeringan di Kediri (Ilustrasi: Afrizal - RadarKediri.JawaPos.com)

KEDIRI KABUPATEN - Ancaman krisis air terus meluas dalam kemarau panjang kal ini. Kesulitan air juga dirasakan oleh warga dua desa di Kecamatan Semen. Yaitu Desa Bobang dan Desa Semen.

Warga pun terpaksa keluar biaya untuk mendapatkan air bersih. Baik itu untuk menggali sumur mereka yang mengering. Atau juga untuk membeli air bersih hingga ke luar daerah. Itupun, menggali sumur yang kering, belum tentu berhasil.

Dampak kekeringan sumur di Desa Bobang mulai terasa satu bulan lalu. Namun kian parah pada  pekan ini. Sebagian besar sumur kering. Tidak keluar air sama sekali.

Warga sebenarnya sudah menggali sumur itu. Namun, hasilnya kurang memuaskan. “Kami gali sedalam satu meter. Bisa keluar air tapi tiga hari kering lagi,” kata Wahyu, warga Dusun Tawangsari.

Selain itu, kata Wahyu, kegiatan menggali sumur tidak bisa dilakukan di semua rumah. Beberapa tetangga Wahyu mengalami kesulitan ketika menggali. Ketiga digali sumurnya terdapat batu.

Setelah digali pun sumur juga tak bisa langsung dimanfaatkan. Karena airnya masih keruh. Hanya bisa digunakan untuk mencuci baju. Atau untuk mandi bila mencukupi.

“Untuk (keperluan air) minum kami beli. Satu galon harganya Rp 3.500,” terangnya.

Padahal, dalam sehari satu rumah bisa membeli 4 kali. Itu untuk keperluan memasak, minum, dan ada yang untuk mandi. Biaya yang dikeluarkan pun semakin besar.

Naning Sari, warga lain, mengaku menghabiskan 2 botol air mineral ukuran 1,5  liter dalam sehari. Itu dihabiskan untuk kebutuhan minum. “kalau untuk mandi dan memasak beli air dengan galon. Satu hari bisa sampai 7 kali,” aku wanita 54 tahun ini.

Hal seperti itu terpaksa dilakukan Naning. Sebab sumurnya sudah tidak bisa digali lagi. Aning melakukan penggalian sumur dengan menyuruh orang. Biayanya tidak sedikit. Aning harus mengeluarkan uang Rp 500 ribu untuk satu kali penggalian. Sayangnya, dari penggalian itu sumurnya hanya bertahan beberapa hari. Setelah itu kembali kering.

“Kalau di rumah saya yang satunya habis Rp 2 juta, malah tidak keluar air sama sekali,” keluhnya.

Selain melakukan penggalian sumur, warga juga mencari air ke luar daerah. Yakni di sumur bor areal persawahan di Kelurahan Tamanan, Mojoroto. Namun, sudah 5 hari ini ditutup.

“Kami mengharap ada bantuan air bersih ke Desa Bobang,” harap Naning.

Dari pantauan Jawa Pos Radar Kediri, kondisi sumur warga di sana terlihat kering. Kedalamannya sekitar 22 hingga 27 meter. Ada satu dua sumur yang terdapat sedikit air, namun kondisinya sangat keruh.

Kemarin sore, aktivitas warga Bobang sebagian besar membawa galon dan jeriken untuk meminta air ke daerah lain. Yakni saudara mereka di luar desa.

Ketua RT 01 RW 04, Dusun Tawangsari, Katimin menyebut bahwa kondisi kekeringan seperti ini sebenarnya sudah terjadi setiap tahun. Namun tahun ini lebih parah. Jumlah sumur yang kering bertambah banyak.

“Setiap tahun ada, tapi tidak banyak seperti tahun ini. Dulu kalau digali sedikit saja sudah keluar air,” jelasnya.

Katimin menyampaikan, beberapa hari yang lalu sudah ada bantuan air bersih. Namun itu dari salah satu perusahaan swasta. Yakni PT Gudang Garam Tbk. Sementara bantuan dari Pemerintah Kabupaten Kediri belum ada.

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kabupaten Kediri Randy Agatha Sakaira menyebut bahwa untuk bantuan kekeringan air harus melalui SOP terlebih dahulu. Pemdes setempat harus melaporkan kejadian tersebut untuk penanganan lebih lanjut. Sedangkan hingga saat ini belum ada laporan ke BPBD terkait kondisi Desa Bobang.

“Kalau memang dibutuhkan kami pasti akan respon dengan cepat, sebagaimana yang kita lakukan di Sepawon, Plosoklaten” ucapnya.

(rk/rq/die/JPR)

Jawa Pos Digital
E-Paper
Most Read
 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia