Minggu, 18 Nov 2018
radarkediri
icon featured
Features

Desa-Desa Pemenang dalam Anugerah Desa 2018 (11/Habis)

Ciptakan Lingkungan Bersih

Senin, 05 Nov 2018 19:42 | editor : Adi Nugroho

anugerah desa

TAK TERDUGA: Kades Kandangan Fatchur Roziq menerima plakat juara dari Direktur Jawa Pos Radar Kediri (24/10) (ANDHIKA ATTAR - RadarKediri.JawaPos.com)

Sampah selalu menjadi momok. Terutama daerah yang punya kepadatan penduduk tinggi. Tapi, Pemdes Kandangan tak hanya bisa mengatasi. Mereka sekaligus mampu mendapat pemasukan dari usaha pengelolaan sampah.

ANDHIKA ATTAR

Sampah menggunung di pekarangan kosong. Kemudian dibuang ke sungai. Terbawa arus hingga menjadi ‘bom waktu’ penyumbatan. Bila ‘meledak’ yang terjadi adalah banjir.        

Permasalahan itu adalah gambaran problematika di masyarakat. Kepadatan penduduk yang tinggi adalah salah satu penyebab melimpahnya produksi sampah. Bila tidak dikelola dengan baik akan menjadi bumerang.

Sebaliknya, bila mampu mengolah dan memanfaatkan hasilnya akah positif. Tak hanya lingkungan yang menjadi bersih. Sekaligus bisa mendatangkan pendapatan.

          Berawal dari situlah Pemdes Kandangan, Kecamatan Kandangan, mencari solusi. Tidak hanya sekadar imbauan atau teguran. Tapi langkah nyata yang bisa dirasakan efeknya. “Dari keresahan tersebut akhirnya kami bentuk unit pengolahan sampah,” ujar Kades Kandangan Fatchur Roziq saat ditemui di rumahnya kemarin siang.

Dibentuklah unit pengolahan sampah pada BUMDes mereka yang bernama BUMDes Budi Daya. Tak hanya sekadar memungut sampah dari rumah warga Desa Kandangan saja. Barang sisa itu diolah agar bisa menjadi potensi pendapatan desa.

          Selain menyumbangkan pendapatan desa, unit pengolahan sampah ini juga punya misi besar. Pemdes berharap 2020 nani desa mereka bebas dari sampah. “Tujuan yang ketiga adalah untuk membuka lapangan pekerjaan bagi warga,” imbuhnya.

          Sampah organik di BUMDes Budi Daya ini diolah menjadi kompos dan bahan pakan ternak. Sedangkan sampah non-organik diolah untuk dijual kembali. Sampah plastik dan botol itu dicacah terlebih dahulu. Baru kemudian akan dijual.

          Saat ini BUMDes Budi Daya belum memiliki mesin pencacah sampah. Namun, pemdes sudah berencana membeli mesin tersebut. Sebab, harga sampah yang sudah dicacah lebih menjanjikan.

          Setiap harinya, BUMDes Budi Daya bisa mengumpulkan sampah non-organik sebanyak setengah kuintal. Sampah dari rumah-rumah warga tersebut kemudian dipilah. Dipisah antara sampah organik dan non-organik.

          Terobosan itu diklaim mengurangi separo sampah. Plus, menyumbang pemasukan untuk desa. “Meskipun belum banyak (pemasukannya) yang penting untuk operasional dan gaji pekerja bisa terpenuhi,” tuturnya. Dampak lain memang penyerapan tenaga kerja. Meskipun juga belum banyak orang yang terlibat.

          Upaya itu mengantar Kandangan menang dalam Anugerah Desa 2018. Untuk kategori inovasi terbaik bidang pengelolaan BUMDes. Kemenangan yang tak disangka-sangka oleh Roziq. “Benar-benar terkejut waktu tahu jadi nominasi. Apalagi menjadi juara,” ungkapnya.

          Hasil itu sangat membahagiakan. Tak hanya dirinya, tapi juga warga desa. “Banyak warga yang mengunggahnya di media sosial dan memberi selamat kepada kami,” akunya.

          Roziq dengan rendah hati menganggap kemenangan tersebut sebagai bentuk penghargaan yang luar biasa. Ia mengaku dengan adanya penghargaan tersebut dapat memotivasi perangkat dan pekerja. Sekaligus mampu meningkatkan kinerja mereka lebih baik lagi.

          “Hadiahnya akan kami pergunakan untuk pembenahan BUMDes menjadi lebih baik lagi. Ada beberapa bagian juga yang perlu perbaikan,” ujarnya puas.

(rk/rq/die/JPR)

Jawa Pos Digital
E-Paper
Most Read
 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia