Minggu, 18 Nov 2018
radarkediri
icon featured
Politik

Krisis Air di Kediri Meluas

Sabtu, 03 Nov 2018 15:41 | editor : Adi Nugroho

kekeringan

MENGALIR: Anggota BPBD menyalurkan air dari tangki ke bak-bak warga Desa Sepawon. (ANDHIKA ATTAR - RadarKediri.JawaPos.com)

KEDIRI KABUPATEN - Krisis air bersih mulai terjadi di beberapa wilayah Kediri. Baik di kota maupun kabupaten, beberada daerah mengalami kesulitan mendapatkannya. Mereka pun mengandalkan dropping air dari pemerintah daerah setempat.

Di Kabupaten Kediri, krisi masih terjadi di Desa Sepawon, Plosoklaten hingga kemarin (2/11). Selama 12 hari terakhir Pemkab Kediri terus melakukan dropping air bersih. Totalnya mencapai hampir 300 ribu liter air bersih.

Dropping air bersih pertama kali dilakukan di Dusun Badek pada Senin (22/10). Kemudian, krisis meluas ke Dusun Petungombo pada Senin (29/10). Di Petungombo, dropping dilakukan hingga Kamis (1/11). Kini, dropping kembali dilakukan di Dusun Badek kembali.

“Hari Kamis kami masih dropping di Petungombo satu tangki. Selanjutnya lima tangki ke Badek lagi,” ujar Pelaksana tugas (Plt) Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah Randy Agatha Sakaira.

Saat dilakukan dropping air, belasan jeriken, ember, bak dan gentong air berjajar di beberapa titik. Setiap dua hingga empat kepala keluarga (KK) berkumpul di satu rumah warga.

Berdasarkan data yang dihimpun Jawa Pos Radar Kediri, setiap KK rata-rata akan dibagikan sekitar 60 liter air bersih. Dropping air tersebut hanya pemenuhan kebutuhan pokok saja.

          Sumber air yang digunakan untuk dropping kali ini juga tetap diambilkan dari milik PTPN Ngrangkah, Sepawon. Pihak perkebunan memberikan akses dan keleluasaan pada pemkab untuk melakukan dropping air. “Tidak ada kompensasi apa-apa untuk pihak perkebunan. Murni kerjasama antara Pemkab dengan perekebunan,” aku Randy.

          Berdasarkan keterangannya, kondisi kebutuhan air bersih di kedua dusun tersebut relatif sama. Pasalnya, kedua dusun tersebut mengandalkan satu sumber air yang sama. Namun, karena letak Dusun Badek lebih rendah dari Petungombo, terkadang air yang mereka terima berkurang.

          Pemkab mengaku sudah merumuskan solusi untuk krisis air tersebut. Setelah melakukan pendataan dan survei, pemkab merasa sumur bor dalam adalah solusi yang tepat.      “Pemkab akan membuat sumur bor dengan kedalaman sekitar 150 – 200 meter,” bebernya.

          Hanya, di mana sumur bor itu berada, pemkab masih belum memastikan. Mereka akan melakukan kajian mendalam lagi.

          Sementara itu, di Kota Kediri, kesulitan air bersih juga dirasakan arga di Lingkungan Tumpang, Kelurahan Pojok, Mojoroto. Setidaknya puluhan keluarga dalam satu lingkungan harus mencari air bersih ke sumur tua yang ada di sana. Pasalnya air yang mengalir dari kran milik warga debit airnya sangat kecil.

“Apalagi airnya harus dibagi dengan lingkungan lain,” kata Martiah, warga RT 25 Lingkungan Tumpang.

Martiah mengatakan, harus bergantian bila hendak mendapatkan air. Yakni dibagi pagi dan siang hari dengan warga Lingkungan Lebak. Apabila kran yang menuju Lingkungan Lebak tidak dimatikan, otomatis di Lingkungan Tumpang airnya tidak keluar sama sekali.

“Meskipun mendapat giliran tapi airnya sangat sedikit. Dan hanya cukup untuk kebutuhan cuci baju dan mandi,” keluhnya.

Air yang dialirkan ke warga berasal dari Sumber Tretes di Lereng Gunung Klotok. Itu adalah satu-satunya sumber yang ada di sana. Air dari sumber tersebut hanya untuk kebutuhan mandi dan cuci baju saja. Sebab, airnya keruh. Warga tidak mungkin memanfaatkannya untuk kebutuhan memasak.

“Kalau untuk minum dan masak ambil di sumur tua,” tandasnya.

Sumur itu hanya ada satu di Lingkungan Lebak. Cara mengambil airnya pun juga masih tradisional. Dengan menggunakan cara menimbanya.

Sebelumnya kekeringan juga terjadi di 4 RT di Kelurahan Pojok. Mereka juga mengalami kesulitan air lantaran sumur yang dimiliki sudah tidak mengeluarkan air lagi. Setidaknya ada puluhan warga yang terdampak kondisi seperti itu. Hingga mereka memanfaatkan fasilitas umum berupa musala. Dan harus pergi ke kerabat di kelurahan lain untuk keperluan mandi.

(rk/baz/die/JPR)

Jawa Pos Digital
E-Paper
Most Read
 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia