Minggu, 18 Nov 2018
radarkediri
icon featured
Ekonomi

Usai Sumbang Inflasi, Sayur Ini Malah Turun Harga

Sabtu, 03 Nov 2018 14:06 | editor : Adi Nugroho

cabai merah

FLUKTUATIF: Sunarwan mengambil cabai merah untuk ditimbang di Pasar Setonobetek, Kota Kediri, kemarin. Komoditas ini turun harga di awal November 2018. (RAMONA VALENTIN - Radar Kediri. JawaPos.com)

KEDIRI KOTA - Kenaikan harga cabai merah menjadi penyumbang inflasi pada Oktober lalu.  Padahal, komoditas sayur ini termasuk penghambat inflasi ketika September silam. Bulan lalu, kenaikan harganya sebesar 31,23 persen. Itu memberi andil sebesar 0,023 persen terhadap inflasi di Kota Tahu.

Namun, terhitung mulai awal November, harga eceran cabai merah justru turun hingga Rp 6 ribu per kilogram (kg)-nya di pasar tradisional. “Cabai merah turun harga sejak dua hari lalu,” ungkap Sunarwan, pedagang cabai merah Pasar Setonobetek, saat dijumpai Jawa Pos Radar Kediri, kemarin (2/11).

Menurutnya, penurunan cabai merah sebesar Rp 6 ribu per kilogramnya, dengan harga jual sebelumnya senilai Rp 34 ribu. Saat ini cabai merah seharga Rp 28 ribu per kilogramnya.

Sedangkan untuk harga eceran seperempat kilogram cabai merah senilai Rp 8 ribu. Penurunan harga tersebut tidak terjadi secara berkala. Akan tetapi, langsung sekaligus hari itu juga.

Faktor menurunnya harga komoditas tersebut, menurut Sunarwan, tidak diketahui secara pasti. Hanya saja, dari sisi pasokan barang bisa mencukupi permintaan konsumen.

Untuk daya beli masyarakat , diakui laki-laki 40 tahun ini, masih relatif stabil. Sehingga tidak membutuhkan pasokan yang banyak maupun khawatir akan pasokan yang membusuk karena melimpah.

Sementara itu, Ellyn T. Brahmana, Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Kediri, mengakui, harga bahan pangan akan terus dikontrol. “Pengaruhnya harga pangan itu nantinya juga berdampak pada harga makanan matang. Kalau harganya naik, ikut naik,” ungkapnya.

 Ellyn juga menjelaskan, untuk ketersedian bahan pangan perlu diwaspasai. Utamanya terkait dengan pasokan. Ini agar tidak mengalami kelangkaan. Sebab berpotensi memunculkan harga jual yang tinggi hingga inflasi.

Menurutnya, bahan pangan memiliki kecenderungan kenaikan harga. Sehingga sebagai salah satu anggota tim pengendalian inflasi daerah (TPID), Ellyn mengimbau, masyarakat tidak perlu panik terhadap harga-harga. Namun, perlu waspada dan tidak menimbun barang.

“Konsumsi dan belanja sesuai kebutuhan saja, tidak perlu berlebihan,” tegasnya. Pun, Ellyn menuturkan, menjaga keuangan keluarga secara tidak langsung juga menjaga laju inflasi suatu daerah.

(rk/rq/die/JPR)

Jawa Pos Digital
E-Paper
Most Read
 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia