Senin, 19 Nov 2018
radarkediri
icon featured
Features

Desa-Desa Pemenang dalam Anugerah Desa 2018 (8)

Bebaskan Warga Perempuan Pilih Pelatihan

Jumat, 02 Nov 2018 10:35 | editor : Adi Nugroho

gadungan

SENYUM: Kades Gadungan Suprayitno saat menerima plakat dari Bupati Haryanti (24/10). (ANDHIKA ATTAR - RadarKediri.JawaPos.com)

Tidak baru kali program pelatihan dan pemberdayaan dilaksanakan di Desa Gadungan, Puncu. Sayangnya, program tersebut banyak yang kurang berhasil. Akhirnya, Pemdes setempat mengubah cara pendekatan ke warga. Bentuk ratusan dasa wisma dengan total anggota ribuan warga perempuan. 

ANDHIKA ATTAR

          Semangat Pemdes Gadungan, Puncu dalam memberdayakan warganya perlu diacungi jempol. Mereka tidak lantas menyerah meskipun beberapa program banyak yang tidak bertahan lama. Berbagai evaluasi dan metode lainnya pun terus diterapkan pemerintah desa setempat.

          “Kita mengubah cara pendekatannya. Sekarang kita yang mengikuti apa kemauan dari warga. Bukan kita yang menentukan pelatihannya,” beber Sekretaris Desa Gadungan Herry Cahyono S.

          Dulunya, pemerintah desa yang mengarahkan atau menentukan pelatihan yang akan diberikan. Meskipun beberapa nampak mengiyakan, namun sepertinya pelatihan tersebut tidaklah sesuai dengan keinginannya. Hal itulah yang dijadikan bahan evaluasi.

          Dengan diberikannya keleluasaan memilih jenis pelatihan, warga pun menjadi lebih bersemangat mengikuti. Itulah yang menjadikan banyak pelatihan yang diberikan pemerintah desa berhasil. Kini, banyak industri atau produk kerajinan yang dihasilkan oleh ibu-ibu rumah tangga di sana.

          Program pelatihan dan pemberdayaan terhadap perempuan ini mulai digencarkan pada tahun 2015 silam. Program ini diberi nama Gerbang Emas Perunggu. Singkatan dari Gerakan Membangun Ekonomi Masyarakat melalui Perempuan dan Keluarga Unggul.

          Selain memberdayakan perempuan setempat, program ini juga diharapkan dapat berdampak sosial juga. Banyaknya warga dengan tingkat ekonomi kelas menengah ke bawah dan remaja yang ‘nakal’-lah yang melandasi adanya program tersebut.“Kita melihat keluarga sebagai kunci utamanya. Untuk itu kita beri pendekatan melalui keluarga,” ungkap Herry.

Maka pemerintah desa membentuk konsep dasa wisma. Hampir seluruh warga perempuan di desa tergabung dalam program ini. Total lebih dari 2 ribu perempuan yang masuk dalam program. Sehingga setidaknya ada 200 kelompok dasa wisma. Yang menarik, masing-masing kelompok ini bebas menentukan model pelatihan yang selanjutnya difasilitasi pemerintah desa.

          Program dilaksanakan dengan kerja sama kader pembinaan kesejahteraan keluarga (PKK). Demi mengadakan pelatihan dan program pemberdayaan tersebut, tak jarang perangkat desa menggunakan dana swadaya. Mereka rela menyisihkan uang demi menjembatani program tersebut. Setelah ada tren positif, barulah pemerintah desa yang berani mengluarkan dana untuk membiayai usaha tersebut.

Beberapa jenis kegiatan yang berhasil adalah sektor makanan ringan dan kerajinan. Untuk usaha kuliner antara lain yaitu tahu kuning, keripik pisang dan kerupuk krecek. Sedangkan untuk kerajinan ada rajut dan batik yang sudah mulai dikenal luas.

          Tidak hanya memberikan pelatihan dan pendampingan saja, pemdes pun memberikan solusi untuk pemasarannya. Inovasinya pun tidak tanggung-tanggung, sebuah aplikasi bernama Gadunganku pun diluncurkan. Aplikasi pemesanan produk asli warga setempat pun bisa diunduh di play store.

          Dengan begitu, perajin dan produsen tidak perlu khawatir bagaimana memasarkan produknya. Begitu pula dengan konsumen. Mereka tidak perlu bingung mencari produk yang dibutuhkannya. Mereka tinggal memilih pesanannya, klik beli dan langsung diantar oleh petugas ke tujuan.

          Selain itu, pemdes pun sedang berencana untuk merenovasi tempat yang digunakan memasarkan produk di sana. Tempatnya tepat berada di utara balai Desa Gadungan, Puncu. Diperkirakan dalam satu-dua minggu ini akan sudah digunakan. Dengan begitu, produk warga dapat ditampung dan dipamerkan di sana.

          Menurut Kades Gadungan Suprayitno, program ini dinilai dapat meningkatkan kesejahteraan warganya. Meskipun masih dirasa bisa lebih ditingkatkan lagi ke depannya, sudah terlihat ada beda antara sebelum pelatihan dan sesudahnya. “Secara kasat mata terlihat ada peningkatannya,” ujarnya.

          Kepada Jawa Pos Radar Kediri, ia mengaku tidak menyangka jika program ini dapat mengantar menjadi salah satu pemenang anugerah desa 2018. Ia bahkan mengaku tidak menyangka saat desanya menjadi nominator kategori pemberdayaan perempuan. “Pastinya sangat bangga bisa dinobatkan sebagai pemenang,” ungkapnya. Sebenarnya, predikat Terbaik ini menjadi kali kedua yang diterima Desa Gadungan. Pada 2016 lalu, desa ini juga mendapatkan predikat Terbaik di kategori Pelayanan Administrasi Masyarakat.

          Berkat konsistensinya, ia diganjar hadiah program pembangunan sebesar Rp 200 juta. Rencananya, hadiah tersebut akan digunakan membangun rumah kreatif. Sebuah wadah untuk anak-anak putus sekolah dan mereka yang bersedia diberikan pelatihan keterampilan. “Separonya kita gunakan untuk pengembangan dan pemberdayaan usaha di Desa Gadungan,” pungkasnya.        

(rk/baz/die/JPR)

Jawa Pos Digital
E-Paper
Most Read
 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia