Senin, 19 Nov 2018
radarkediri
icon featured
Features

Desa-Desa Pemenang dalam Anugerah Desa 2018 (7)

Gandeng Sekolah untuk Hapus Stigma Penari

Kamis, 01 Nov 2018 14:39 | editor : Adi Nugroho

sempu

PENERUS: Fadilla (tengah) dan dua rekannya di SDN Sempu 1. (HABIBAH ANISA - RadarKediri.JawaPos.com)

Sadar memiliki banyak potensi kesenian yang perlu dilestarikan, Pemerintah Desa Sempu menggunakan berbagai upaya untuk membuat warganya mencintai kesenian. Termasuk bekerja sama dengan sekolah demi memasukkan kesenian menjadi salah satu ekstrakurikuler wajib.

HABIBAH A MUKTIARA

“Masukkkk Pak Ekoo...,” teriak beberapa aparatur desa yang hadir di Lapangan PT Secang Sukosewu, Desa Jugo, Kecamatan Mojo, Rabu (24/10). Eko Suroso, si Kepala Desa Sempu, Kecamatan Ngancar pun tersenyum semringah. Hari itu, Eko patut bangga, karena Desa Sempu menjadi satu dari sebelas desa di Kabupaten Kediri yang berhasil meraih predikat Terbaik untuk Kategori Pelestarian Kesenian Tradisional.

Predikat Terbaik kedua yang mampu diraih kades 30 tahun ini selama dua tahun berturut-turut. Di kategori yang sama, Eko mampu mengungguli Desa Joho, Kecamatan Semen dan Desa Dukuh, Kecamatan Ngadiluwih

“Alhamdulillah, tentu saja senang,” ucapnya suami dari Ririn Riani ini kepada Jawa Pos Radar Kediri, Senin (29/10).

Kelegaan memang dirasakan Eko. Meski bukan kemenangan ini yang menjadi targetnya. Bagaimana tidak, proses yang dilaluinya cukup berat. Tidak semudah membalik telapak tangan. Terutama meyakinkan warganya tentang pentingnya menjaga kesenian dan budaya. Apalagi, adanya stigma tentang penari yang selalu negatif. “Perlu adanya komunikasi dengan orang tua, dan menggandeng pihak sekolah,” ungkapnya.

Diakui Eko, kalau keprihatinannya bermula saat menyadari kalau nyaris tidak ada penerus di sejumlah kesenian yang ada di desanya. Khususnya penari tradisional. Karena itu, dia lantas membuat Bale Budaya. Tempat berkumpul dan berlatih kesenian yang ada di desa. Di tempat inilah dia mengajak berdiskusi dengan pengelola kesenian yang ada di desa. Setelah itu, Eko bekerja sama dengan sekolah yang ada di desa. Ada dua SD yang ada di desa itu. Yaitu SDN Sempu 1 dan SDN Sempu 2.

Bentuk kerja sama dengan memasukkan kesenian tradisional ke dalam sekolah. Pihak sekolah memasukkan latihan tari ke dalam program sekolah, sementara pemerintah desa menyediakan pelatih, peralatan dan tempat latihan.

Program yang sudah dimulai sekitar setahun ini pun berhasil dijalankan. Awalnya seminggu tiga kali, tetapi karena terlalu berat, akhirnya disepakati seminggu sekali. Latihan dibedakan dua, untuk siswa laki-laki latihan jaranan setiap hari Sabtu malam sementara untuk perempuan tari remo yang latihan setiap Selasa malam.

Siswa pun terlihat antusias. Salah satu penari Fadilah Eca Alinta, 11 mengaku sudah menyukai tari sejak masih duduk di TK. Tetapi kian terasah menjadi penari remo begitu ada program dari pemerintah desa. “Senang mbak,” ucap Fadilah malu-malu.

Sang pelatih yang juga warga Desa Sempu, Marsum Purnomo menuturkan adanya kerja sama ini memang memudahkan siswa untuk belajar tari. Para siswa pun terlihat antusias. Meski, awalnya, program seperti ini tak berjalan mulus. Karena ada saja faktor penghambat. Seperti sekolah yang terlalu terburu-buru siswanya bisa menjadi penari dan langsung tampil di panggung. Masalah kedua adalah tentang waktu. “Setelah dilakukan rembukan, latihan cukup sekali seminggu,” tuturnya.

Selanjutnya, agar kegiatan pelatihan semakin lancar, pihak desa akan membuat modul pembelajaran. “Nanti dananya menggunakan uang hasil hadiah (Anugerah Desa),” ungkap Eko. Rencana lainnya adalah untuk penguatan kelompok kesenian yang sudah ada di desa. Selain itu juga untuk rehabilitasi balai desa dan perbaikan program kualitas pelayanan.  

(rk/baz/die/JPR)

Jawa Pos Digital
E-Paper
Most Read
 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia