Senin, 19 Nov 2018
radarkediri
icon-featured
Features

Rela Jadi ‘Laboratorium’ Padi Raksasa

Kamis, 01 Nov 2018 10:30 | editor : Adi Nugroho

padi

RAKSASA: Samudi (2 dari kiri) mengamati padi varietas PIM yang ditanam di lahannya beberapa bulan lalu. (SAMUDI For RadarKediri.JawaPos.com)

          Mengganti kebiasan bukan hal mudah. Walaupun perubahan itu bisa menambah tingkat produktivitas bagi petani. Itu pula yang dipikirkan oleh Samudi. Dosen pertanian di Universitas Islam Kadiri (Uniska) pun menyediakan diri untuk jadi ‘laboratorium’ bagi varietas baru tanaman padi yang bernama Padi Indonesia Menggugat (PIM).

          “Bila budi daya PIM ini berhasil akan saya kembangkan ke petani-petani lain,” sebutnya saat ditemui di ruang Tata Hidang SMK PGRI 2 Kediri kemarin.

          Padi ini memang beda. Bisa disebut sebagai padi raksasa karena tingginya mencapai hampir 2 meter. Bandingkan dengan varietas biasa yang maksimal hanya 70 centimeter saja.

          Sebagai volunteer penanaman padi raksasa ini, dia menggunakan lahannya sendiri seluas 25 ru atau sekitar 350 meter persegi. Uji cobanya itu relatif sukses. Walaupun tinggi padi tak seperti di tempat lain, hanya 1,5 meter, tapi mampu mendongkrak hasil panen. Peningkatan itu mencapai dua kali lipat dari padi biasa.

          Menurutnya, jika padi tersebut jika diaplikasikan pada lahan seluas satu hektare bisa menghasilkan sekitar 10-11 ton padi. “Dengan begitu diharapkan bisa meningkatkan hasil produksi dan mencapai cita-cita swasembaga pangan,” harapnya.

          Samudi juga bukan orang pertama yang mengembangkan padi jenis ini. Sebelumnya, ada petani yang lebih dulu merintis mengembangbiakkan jenis ini. Sepengetahuannya, petani itu dari Desa Combong, Garum, Kabupaten Blitar. Namun, untuk wilayah Kediri baru dia yang bersedia melakukannya.

          Di Blitar, padi itu bisa mencapai tinggi maksimal, 2 meter. Nah, perbedaan tinggi itu menurut Samudi bisa terjadi karena beberapa sebab. Bisa karena kualitas kesuburan tanah. Atau juga faktor iklim.

          Samudi juga baru pertama mengembangkan varietas PIM. Saat musim tanam terakhir, Juli – Agustus lalu. Karena itu, belum maksimalnya tinggi batang padi baginya masih proses. Belum hasil akhir.

          Apalagi, yang membuat jenis padi ini istimewa sebenarnya bukan hanya tingginya. Tapi juga karena bulir padi dalam setiap malainya yang istimewa. Jumlahnya jauh lebih banyak dibanding padi lain.

“Yang saya tanam itu bisa mencapai 550 bulir (padi per malai). Percuma tinggi kalau bulirnya sedikit,” akunya.

          Jumlah bulir padi per malai dari jenis tersebut bisa dikatakan dua kali lipat dari bulir padi biasanya. Jumlah bulir padi biasa rata-rata antara 200 – 300 per malai. Dengan banyaknya bulir padi yang bisa dihasilkan dari jenis tersebut, ia menyakini meningkatkan produksi padi yang ada.

          Masih ada lagi kelebihan PIM. Batangnya yang besar dan kokoh membuatnya tak mudah rebah ketika diterpa angin kencang.

          Dalam bereksperimen, Samudi juga tak mau tanggung.  Uji coba padi raksasanya itu dia lakukan dengan sistem tanam organik. Tidak menggunakan pupuk atau pestisida kimia.

          Ibarat tak ada gading yang tak retak, demikian pula dengan padi ini. Meskipun punya banyak keunggulan,  ada kendala yang dirasakan Samudi selama bereksperimen. Padi jenis ini cenderung disukai tikus dan burung. Oleh karena itu, di lahan persawahannya harus dipasangi jaring secara berkeliling untuk menghalau hama tersebut.

          Berdasarkan pengalamannya menanam padi PIM, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan oleh petani agar mendapatkan hasil yang maksimal. Selain tentunya tingkat kesuburan tanah dan irigasi, jarak tanam pun menurutnya sangat menentukan produktivitas padi PIM.   (tar/fud)

(rk/baz/die/JPR)

Alur Cerita Berita

Jawa Pos Digital
E-Paper
Most Read
 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia