Senin, 19 Nov 2018
radarkediri
icon-featured
Features
Hari Inovasi

Berani Berinovasi, Mereka Berani Jadi Yang Pertama

Jadi Kebutuhan saat Ini dan Masa Depan

Kamis, 01 Nov 2018 08:23 | editor : Adi Nugroho

sapindelick

TELITI: Heri ‘Owel’ (berdiri) mengawasi proses produksi di bengkel kerja Sapindelick di Desa Tulungrejo, Kecamatan Pare. (RAMONA VALENTIN - Radar Kediri. JawaPos.com)

Para pemuda ini layak diapresiasi. Mereka berani melawan mainstream. Mencoba hal baru. Bertahan menghadapi tantangan. Dengan satu tujuan utama, terus berinovasi mencari yang terbaik.

“Awalnya saya sama istri iseng bikin karena hobi gambar. Bikin-bikin dompet. Lalu berkembang hingga sat ini bersama adik-adik saya,” terang Heri Susanto saat dijumpai Jawa Pos Radar Kediri di studio pembuatan produk Sapindelick, di Desa Tulungrejo, Pare, Kabupaten Kediri.

Sapindelick adalah brand Heri Owel, sapaan akrab lelaki itu. Produk-produk yang berbahan kulit sapi. Yang membedakan dari produk sejenis, Heri Owel membuatnya benar-benar berkualitas. Mulai dari detil, desain, hingga jahitannya. Semuanya diproduksi hand made!

Menurutnya, dia mulai belajar membuat produk dari kulit sapi ini sejak 2014. Saat itu dia masih bekerja sebagai desain grafis Jawa Pos. Lalu 2016 ia mulai mandiri. Bahkan mengajari adik-adiknya serta mengajak mereka bergabung.

Yang istimewa memang proses produksi dompet, ikat pinggang, atau tas kulit ini yang semuanya dari kepiawaian tangan. Mulai lipatannya, jahitannya secara detail hingga finishing. “Kami menggunakan jahitan tangan karena lebih kuat dan kualitasnya tidak sama bila menggunakan mesin. Hanya bagian tertentu yang dijahit pakai mesin,” ujar Owel sambil menunjukan satu produk tas.

Menjahit dengan tangan membutuhkan waktu yang lebih lama. Namun untuk kualitas jadi lebih unggul. Dari sanalah mereka memaknai suatu inovasi itu. Yakni berkomitmen menghasilkan karya berkualitas unggulan.

Untuk menghasilkan kualitas prima itu, Owel sudah melakukannya sejak tahap pemilihan bahan baku. Kulit sapi yang masih lembaran dia teliti detail dan kondisinya. Dia memilih ambil dari pabrik yang tepercaya dari sisi kualitas meskipun berimbas pada mahalnya harga. “Bukan berarti (kulit produk) rumahan jelek. Aada juga yang kualitasnya bagus. Pintar-pintarnya kita aja untuk memilih,” imbuh lelaki yang mengaku tak punya darah pengusaha ini.

Yang pasti, empat bersaudara ini konsisten memproduksi barang dengan kualitas unggulan. Bagi mereka, inovasi adalah kebutuhan untuk saat ini dan masa depan.

Beda lagi dengan yang dilakukan Ali Santoso. Warga Jalan Cut Ya Dien Kota Kediri ini awalnya melihat inovasi yang dilakukan sang ayah, Harry Betjono, kurang begitu laku di pasaran. Harry mulanya melakukan terobosan dengan menyilangkan antara ayam kampung dengan ayam ras. Menghasilkan ayam baru berjenis joper alias jowo super. Tapi, ayam jenis itu ternyata tak laku di pasaran.

“Akhirnya dipelihara sendiri. Dan kami jual dengan harga murah. Jadi ya rugi,” terangnya.

Tapi, Ali percaya ada potensi pada ayam jenis ini. Dia pun meneruskan usaha ayahnya. Dengan ditemani kakaknya, Oentoeng Sugiarto, pada 2011 mereka mulai membentuk pasar. Hingga kini pasar itupun mulai terbentuk. Banyak pihak yang tertarik dengan ayam jenis ini.

“Sebenarnya sempat beberapa saat kita tidak produksi. Saat itu down karena pasar masih belum bisa menerima,” kenangnya.

Akhirnya Ali pun melakukan pemasaran secara online sejak 2009. Juga melakukan visitasi dengan terjun langsung ke lapangan. Awalnya produksi per minggu 5000 bibit atau day of chick (DOC). “Sempat turun dan hanya dua minggu sekali produksi yang hanya setengah kapasitas,” sahut pria 32 tahun itu.

Sekarang sudah berkembang hingga berkali-kali lipat. Pemasarannya ke seluruh Indonesia mulai dari Medan hingga Papua.

Lalu, bagaimana ceritanya keluarga ini menghasilkan ayam jenis joper? “Awalnya iseng, cari data di buku. Dari sana akhirnya mengenal jenis-jenis ayam murni,” terang Harry Betjono.

Harry kemudian terobsesi menciptakan jenis ayam yang sebelumnya belum ada. Ingin memiliki ayam yang secara fisik seperti ayam kampung namun produksi lebih cepat. Dia memilih ayam kampung karena menilai akan langka. Selain itu, permintaannya juga tinggi. Permintaan sulit terpenuhi karena pemeliharaan yang relatif lama.

Akhirnya dia menemukan hasil  ayam jawa super, disebut dengan joper. Walaupun pada awalnya upaya itu banyak kendala. “Selalu banyak kritikan dari masyarakat. Juga sempat berhenti karena ada penyakit flu burung,” ucapnya.

Padahal dari persilangan tersebut menghasilkan ayam yang pertumbuhannya jauh lebih cepat dibandingan ayam kampung. Bisa mendapatkan jenis ayam kampung yang memiliki produktivitas daging maupun telurnya yang tinggi.

(rk/baz/die/JPR)

Alur Cerita Berita

Jawa Pos Digital
E-Paper
Most Read
 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia