Jumat, 16 Nov 2018
radarkediri
icon featured
Features
Mengikuti Bupati Novi Sambang Desa Bareng

Dialog hingga Dini Hari, Menginap di Rumah Warga

Rabu, 31 Oct 2018 17:50 | editor : Adi Nugroho

SANTAI: Bupati Novi (jaket merah) berbincang dengan Warni, warga Dukuh Makuto Etan, Dusun Makuto, Desa Bareng, Kecamatan Sawahan. Orang nomor satu di Nganjuk itu menginap di rumah Warni usai berdialog dengan warga di sana.

SANTAI: Bupati Novi (jaket merah) berbincang dengan Warni, warga Dukuh Makuto Etan, Dusun Makuto, Desa Bareng, Kecamatan Sawahan. Orang nomor satu di Nganjuk itu menginap di rumah Warni usai berdialog dengan warga di sana. (ANWAR BAHAR BASALAMAH - RadarKediri.JawaPos.com)

Bupati Novi Rahman Hidhayat memilih cara tak biasa untuk melihat langsung kondisi warganya hingga di pelosok. Lewat Sambang Desa, dia tak sekadar berbincang untuk mengetahui permasalahan mereka. Bupati muda itu juga menginap di rumah warga yang dipilih secara acak.

ANWAR BAHAR BASALAMAH

Jarum jam menunjukkan pukul 23.30, Senin (29/10) lalu. Mata Bupati Novi Rahman Hidhayat belum terlihat merah tanda mengantuk. Padahal, sejak pukul 16.00 dia sudah menjalani serangkaian kegiatan di Desa Bareng, Kecamatan Sawahan.

Diawali salat Ashar berjamaah, Novi, demikian dia biasa disapa, langsung mengikuti sejumlah kegiatan yang membuat dia bertemu dengan banyak warga. Puncaknya, sekitar pukul 20.00 dia bertemu dengan ratusan warga di wilayah paling atas lereng Gunung Wilis.

Duduk lesehan beralas tikar, berbagai masalah dibahas malam itu. Mulai pendidikan, kesehatan, infrastruktur hingga pertanian. Mendapati kesempatan langka bertemu langsung dengan bupatinya, warga seolah adu cepat mengangkat tangan untuk mengadukan masalahnya. 

Memakai kaus putih, Novi yang ditemani oleh Wabup Marhaen Djumadi, Sekda Agoes Soebagijo dan sejumlah kepala organisasi perangkat daerah (OPD), menjawab satu per satu pertanyaan mereka. Dia juga meminta kepala OPD yang mendampingi langsung memberikan solusi.

Tak terasa, dialog gayeng di pertigaan jalan desa itu berlangsung selama lebih dari tiga jam. Suami Yuni Rahma ini lantas makan bersama warga. Masih duduk lesehan, Novi terlihat tak canggung.

Pun, menu malam itu jauh dari hidangan yang biasa disantap kepala daerah. Yaitu, nasi jagung, ikan asin, botok, lodeh yang ditata di daun pisang ala nasi pondokan. Dengan lahapnya, pria berkulit putih ini menyantap semua menu sembari berbincang santai dengan warga.

Acara makan bersama malam itu, rupanya belum menutup rangkaian Sambang Desa. Justru, setelah pukul 23.30 itu dia baru benar-benar akan menyambangi warga.

Bersama Kepala Desa Bareng Narto Wibowo, Novi mendatangi rumah warga Desa Bareng yang lokasinya terpencil. Yang dipilih adalah Dukuh Makuto Etan, Dusun Makuto. Di sana, Novi mendatangi rumah Suwarno.

Mendapat kunjungan tamu kehormatan tanpa pemberitahuan, kakek berusaha 72 tahun itu pun gelagapan. “Lho ada Pak Bupati. Monggo pinarak,” kata Suwarno mempersilakan masuk sekitar pukul 23.30 Senin lalu.

Di dalam rumah, mereka membicarakan banyak hal. Mulai pengembangan peternakan sapi, pertanian, dan perkebunan. Dari obrolan santai itu lantas tercetus ide menjadikan Desa Bareng sebagai sentra buah durian dan alpukat. “Terutama alpukat, daerah lain belum ada,” kata Novi.

Setelah bersilaturahmi sekitar 15 menit, Novi kemudian mendatangi rumah Warni, jaraknya hanya selemparan batu dari kediaman Suwarno. Kepada tuan rumah, dia meminta izin beristirahat di rumah berukuran 8x10 meter itu. “Ngapunten ibuk (Maaf ibu). Malam ini, saya minta izin bisa tidur di sini,” kata Novi lirih.

Seperti halnya Suwarno, Warni pun tak kalah terkejut. Dia tak pernah bermimpi rumahnya akan disinggahi bupati. Apalagi menginap di sana. Tak ayal, perempuan berusia 50 tahun itu pun gembira.

Di saat yang sama, janda empat anak itu juga bingung. Sebab, dia tidak memiliki persiapan apapun. Beberapa kali, kata maaf terlontar dari mulutnya. Melihat jarum jam yang menunjukkan pukul 00.30, Warni tidak lagi banyak bicara.

Dia menata kasur kapuk di lantai tanah untuk tempat tidur orang nomor satu di Kabupaten Nganjuk itu. Sembari tersenyum, Novi meyakinkan Warni jika dia bisa tidur di tempat mana pun. “Saya senang bisa menginap di sini,” kata Novi sembari menepuk pundak perempuan tua itu.   

Dukuh Makuto Etan merupakan daerah terpencil di Desa Bareng. Daerah itu hanya ditinggali delapan kepala keluarga (KK) saja. Pada malam hari, nyaris tak ada suara di sana. Apalagi, lingkungan ini terpisah jauh dengan dukuh lainnya. 

Bukannya merasa asing, Novi justru serasa bernostalgia. “Menginap di sini, saya teringat saat tinggal di rumah kakek. Persis seperti ini (rumahnya, Red). Berlantai tanah dan dinding kayu,” kenang Novi.

Tentang caranya berkomunikasi dengan warga yang tak biasa malam itu, Novi mengaku sengaja melakukannya agar bisa melihat kondisi warganya secara riil. Tanpa di-setting atau dipersiapkan lebih dulu.

Makanya, dia memilih menginap di rumah warga sekaligus berbincang dengan mereka. Cara itu, sekaligus juga memberi contoh kepada para aparatur sipil negara (ASN) agar tidak melulu bekerja di belakang meja. “Harus mau terjun langsung agar mengetahui masalah warga yang sebenarnya. Dengan begitu, program pemkab nanti tepat sasaran. Membangun sesuai kebutuhan warga,” urainya sebelum beranjak tidur.

(rk/baz/die/JPR)

Jawa Pos Digital
E-Paper
Most Read
 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia