Minggu, 18 Nov 2018
radarkediri
icon featured
Kolom

Jalan Raya

Senin, 29 Oct 2018 18:17 | editor : Adi Nugroho

Oleh: Habibah Anisa Muktiara

Oleh: Habibah Anisa Muktiara

“Jangan sampai kita meratap sedih akibat kelalaian yang merugikan diri sendiri dan orang lain.”

Oleh: Habibah Anisa Muktiara

Ada kejadian yang masih saya ingat beberapa minggu yang lalu. Kejadian itu terjadi di salah satu jalan utama di Kota Kediri. Saat itu saya sedang mengendarai sepeda motor. Dan, dari belakang ada mobil yang hendak menabrak saya. Pengemudi mobil ini langsung menegur saya dengan berteriak.

Kejadian ini mengambarkan bagaimana keadaan jalan sangat berisiko dan memerlukan kehati-hatian saat berkendara. Karena jika kehilangan konsentrasi sedikit saja maka nyawa kita, bahkan orang lain bisa terancam.

Dari data yang saya peroleh dari Satlantas Polres Kediri, penyebab terjadinya kecelakaan ini banyak disebabkan faktor human error. Di mana pengemudi kendaraan yang berada di jalan tidak tertib dalam berlalu lintas.

Pada data evaluasi laka lantas Polres Kediri September, terdapat 87 kejadian. Dari kejadian itu menyebabkan 2 orang meninggal dunia, 6 orang luka berat, dan 125 orang luka ringan.

Dibanding dengan data bulan sebelumnya jumlah laka di September memang mengalami penurunan. Namun, yang perlu disoroti adalah bagaimana kecelakaan sangat rawan terjadi di jalan, terutama di Kediri ini. Secara kuantitas tentu saja kendaraan di Kediri sangatlah padat. Faktor kemudahan dalam membeli sepeda motor maupun mobil membuat tingkat kepadatan jalan semakin tinggi.

Kepadatan inilah yang kemungkinan menjadi indikator tingginya angka kecelakan dan kematian di jalan raya. Tetapi, ada hal yang lain yang menjadi faktor penyebab tingginya kecelakaan khususnya di Kediri. Yaitu masyarakat memiliki kebiasaan tidak mematuhi peraturan dan tata cara mengemudi yang benar.

Kebiasaan yang sepertinya mendarah daging bahkan seperti kebiasaan yang diturunkan secara turun-temurun. Di mana terlalu meremehkan keselamatan, dengan berkendara tanpa menggunakan helm. Hal ini membuat kemungkinan jatuhnya korban jiwa dalam kecelakaan menjadi lebih tinggi.

Kemudian, juga rendahnya pengawasan orang tua terhadap anak mereka. Kebanyakan orang tua zaman sekarang memperbolehkan anak mereka yang cenderung masih di bawah umur untuk mengendarai sepeda motor. Padahal selain tidak memiliki surat izin mengemudi (SIM), dari segi usia mereka belum matang secara emosi.

Diremehkannya keamanan dan lemahnya pengawasan diperparah lagi dengan adanya rasa gengsi. Rasa gengsi di kalangan remaja juga menjadi penyebab angka kecelakaan. Pada umumnya para remaja merasa tidak gaul dan terkucilkan jika tidak mampu seperti temannya yang lain yang sudah mulai menggunakan kendaraan bermotor.

Perasaan gengsi dan lemahnya pengawasan orang tua, bermuara  dengan seringnya remaja melanggar lalu lintas. Mereka kurang mendapat penjelasan mengenai berlalu lintas yang benar.

Ironisnya, bagaimana mereka bisa mendapatkan cara berlalu lintas yang safety bila orang dewasa ternyata tak memberi contoh. Mereka masih melakukan hal yang sama. Justru memberi contoh buruk. Bahkan, dari data yang ada, 120 di antara korban laka adalah berprofesi sebagai pegawai. Sedangkan 13 adalah pelajar dan mahasiswa.

Saya rasa, keluarga adalah tempat belajar bagi mereka. Karena itu, orang dewasa terlebih dahulu harus berintrospeksi. Sehingga anak tidak hanya mendapatkan pelajaran dari omongan saja, namun juga ada tindakan atau aksi.

Para pengguna jalan saatnya saling  mengintrospeksi. Jalan tidak hanya milik satu orang saja. Jangan sampai kita meratap sedih akibat kelalaian yang merugikan diri sendiri dan orang lain. Ingatlah selalu bahwa jalan raya berbahaya. Terutama jika tidak mematuhi peraturan  dan tidak memberi pengarahan dan pengawasan. (penulis adalah wartawan Jawa Pos Radar Kediri)

(rk/rq/die/JPR)

Jawa Pos Digital
E-Paper
Most Read
 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia