Senin, 19 Nov 2018
radarkediri
icon featured
Ekonomi

Pedagang Lantai 2 Setonobetek Harus Ekstra-Sabar, Ada Apa?

Senin, 29 Oct 2018 17:42 | editor : Adi Nugroho

pasar setonobetek

SAMPINGAN: Katinem (kanan) dan sang anak mengupas bawang merah sebagai pekerjaan sampingan ketika lapak mainannya belum didatangi pembeli. (DIDIN SAPUTRO - RadarKediri.JawaPos.com)

KEDIRI KOTA- Satu minggu lebih gedung baru Blok A Pasar Setonobetek diresmikan. Satu per satu pedagang juga mulai menempati bangunan di Jalan Pattimura tersebut. Namun, kondisi lantai 2 masih belum memuaskan. Baru 20 persen pedagang yang mengisi lapak dan kios mereka.

“Sebenarnya hari pertama lumayan banyak. Namun hari selanjutnya sudah tidak jualan lagi,” kata Katinem, seorang pedagang mainan aksesoris.

Di hari pembukaan, menurut nenek 69 tahun itu, banyak pedagang yang buka. Terutama penjaja makanan ringan dan jajan pasar. Namun, tak sampai sehari mereka sudah menutup lapak. Dan tak berjualan lagi hingga kemarin.

Sedangkan pedagang yang bertahan jualan sejak hari pertama adalah mereka yang menempati kios. Terutama pedagang gerabah, pakaian bekas, dan abrakan. Jumlahnya yang tak banyak membuat kondisi lantai 2 terasa lengang. Apalagi pengunjung juga masih sepi.

“Satu minggu lebih belum ada yang beli sama sekali. Kok beli, lihat-lihat saja belum ada,” keluh Katinem.

Selama ini pengunjung yang naik ke lantai 2 hanya berkeliling. Tak pernah mampir untuk beli. Hal itu membuat Katinem harus ekstra bersabar. Ditemani putrinya, nenek asal Setonopande itu nyambi jadi pengupas bawang merah.

Menurutnya, sehari dia bisa mengupas 6 kilogram. Satu kilonya dia diupah Rp 2.500. Selama dia buka kios mulai pukul 06.00 hingga 17.00, penghasilan dari kupas brambang bisa mencapai Rp 15 ribu.

Sugianti, pedagang minuman yang mulai berdagang beberapa hari terakhir, mengaku akan melihat kondisi dalam dua bulan ke depan. “Mudah-mudahan nanti kalau sudah penuh bisa laku,” ujarnya.

Wanita 52 tahun itu mengaku dalam sehari rata-rata hanya mendapat Rp 20 ribu. Bahkan dia pernah mendapat Rp 5 ribu dalam sehari. Menurutnya, awal-awal pemindahan seperti ini memang harus dimulai dari nol lagi. Karena itu dia tidak boleh langsung menyerah begitu saja.

“Saya sudah puluhan tahun menjadi pedagang. Ya memang risikonya seperti ini,” tandasnya.

Sementara, Nur Sami, pedagang pakaian bekas, sudah 2 minggu ini membuka lapaknya di gedung baru Blok A. Dia mengatakan selama ini juga belum ada satu pun pembeli. “Selama ini yang datang hanya debu dan angin saja,” keluhnya.

Peresmian gedung baru Blok berlangsung 18 Oktober oleh Wali Kota Abdullah Abu Bakar. Sebelumnya, permasalahan pembagian lapak di gedung baru itu membuat molornya pembukaan.

(rk/baz/die/JPR)

Jawa Pos Digital
E-Paper
Most Read
 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia