Jumat, 16 Nov 2018
radarkediri
icon featured
Features

Desa-Desa Pemenang dalam Anugerah Desa 2018 (3)

Pupuk Mahal, Kencong Kembangkan Padi Organik

Senin, 29 Oct 2018 16:54 | editor : Adi Nugroho

sawah

PEJUANG ORGANIK: Kades Kencong Nurhadi (kiri) dan Ali Maksun melihat tanaman padi organik yang diujicobakan di lahan desa. (DIDIN SAPUTRO - RadarKediri.JawaPos.com)

Empat tahun lalu, petani di desa ini dibuat gelisah dengan langkanya pupuk bersubsidi. Untungnya, hal itu justru jadi pelajaran. Diprakarsai pemerintahan desa petani di desa ini mengembangkan pertanian organik.

MOCH. DIDIN SAPUTRO

Hamparan padi menghijau terlihat saat melintas di areal persawahan Desa Kencong, Kecamatan Kepung. Sebagian mulai merunduk. Pertanda sudah memasuki masa vegetasi.  

Bila diperhatikan, di petak padi itu ada papan besar. Tulisannya berbunya ‘Padi Konversi Organik Kerja Sama BUMDes dengan Kelompok Tani Mulur’. Dan memang, hamparan padi itu adalah tanaman organik yang dikembangkan kelompok tani (poktan) dan Pemerintah Desa (Pemdes) Kencong.

Tindakan berani ini sudah berlangsung sejak empat tahun lalu. Berawal saat petani resah akibat mahalnya pupuk bersubsidi. Berlanjut dengan munculnya sosialisasi petugas penyuluh lapangan (PPL) yang mengarahkan petani mengganti kebutuhan itu dengan pupuk organik. Terutama pupuk dari kotoran ternak alias pupuk kandang.

"Kotoran ternak ini sangat murah dan mudah ditemukan di sini," kata Kepala Desa Kencong Nurhadi Wiyono kepada Jawa Pos Radar Kediri.

Dukungan dari pemdes untuk mengembangkan alternatif ini sangat besar. Setiap satu bulan sekali selalu diadakan pelatihan. Pemdes mendatangkan PPL dan tim ahli.

Memang, mengubah pola pikir dan kebiasaan petani tak semudah membalik tangan. Muncul banyak permasalahan di awal pengembangan cara ini. Untuk mengenalkan pertanian berbasis organik pada poktan membutuhkan proses panjang. Pasalnya perubahan sistem budidaya dari padi konvensional ke organik membutuhkan waktu lama.

"Awalnya hasil tanaman tidak seperti yang diharapkan. Terutama dalam pemasarannya yang sulit," ujarnya.

Faktor pemasaran jadi satu problem pelik di awal program. Karena harganya bisa dua  kali lipat dari harga beras non-organik. Belum lagi risiko gagal panen yang tinggi.

Meski demikian, tak ada kata menyerah bagi mereka. Proses budi daya padi organik berlanjut. Melalui masa-masa sulit itu nyaris selama 2 tahun.

Wiyono menyebut, pengembangan padi organik oleh poktan bersinergi dengan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes). Terutama untuk poktan yang berpengalaman. Dengan sinergi ini pemdes berharap budi daya padi organik semakin berkembang lagi. Di mana selama ini lahan pertanian milik BUMDes Kencong disediakan untuk kepentingan poktan padi organik. "BUMDes menyediakan lahan 2 hektare," jelasnya.

Poktan juga bekerjasama dengan pondok pesantren dan panti asuhan di Desa Kencong. Hingga beras organik yang mereka hasilkan mendapat banyak permintaan. Bahkan, untuk memenuhi permintaan pasar mereka sering kesulitan. Ini karena jumlah lahan masih terbatas.

Ali Maksun, anggota Poktan Mulur, bercerita bahwa awalnya para petani sulit menerima metode tanam padi organik. Namun, semua upaya pemahaman kepada petani terus dilakukan.

Bagi Ali, dia suka membudidayakan pagi organik awalnya karena kesehatan. "Dulu saya sakit lambung lama. Ternyata makan nasi dari beras organik lama-kelamaan sakitnya bekurang," terangnya.

Selain itu, petani yang juga seorang guru ini mengatakan menanam padi dengan cara konvensional bisa merusak lingkungan. Karena banyak menggunakan bahan kimia. Selain itu, dampaknya buruk bagi kesehatan. Dia pun berharap lebih banyak petani yang berpindah ke padi organik. Selain hasil yang lebih menguntungkan, dari segi kesehatan juga sangat baik.

Petani lain, Budi Agus Santoso menyampaikan bahwa petani organik itu adalah petani yang mandiri. Karena tidak mengandalkan pupuk bersubsidi. Bahkan para petani organik siap kalau pupuk subsidi dicabut. Selama ini mereka tidak tergantung dengan pupuk subsidi dan pestisida.

"Untuk pestisida kami manfaatkan pestisida hayati yang diracik sendiri dari tanaman dan rempah," tegasnya.

Usaha keras pantang menyerah itu pun berbuah. Desa ini mendapat penghargaan Anugerah Desa kategori inovasi di bidang pengelolaan pertanian. Desa Kencong pun mengucap terimakasih kepada Bupati Kediri Haryanti yang telah memberi apresiasi kepada kelompok tani selama ini. Mereka berharap pemerintah tetap tidak lelah memberi semangat dan suport kepada stakeholder atau pelaku-pelaku usaha di bidang pertanian khususnya di bidang produksi beras organik.

(rk/baz/die/JPR)

Jawa Pos Digital
E-Paper
Most Read
 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia