Jumat, 16 Nov 2018
radarkediri
icon featured
Features
Semangat Sumpah Pemuda

Mereka Pemuda, Mereka Berkarya dari Desa

Tak Canggung Turun ke Sawah

Senin, 29 Oct 2018 16:44 | editor : Adi Nugroho

kembali ke desa sumpah pemuda

KEMBALI KE DESA: Arik dan keluarganya bercengkerama di kandang kambing etawa miliknya, di Sumberagung, Plosoklaten. (ANDHIKA ATTAR - RadarKediri.JawaPos.com)

Tak banyak pemuda yang memilih berkarya di desa tempat tinggal mereka. Dari yang sedikit itu, dua orang ini termasuk di antaranya.

Namanya Novendra Angger Setia Aji. Usianya 21 tahun. Masih berstatus sebagai mahasiswa semester 7 jurusan ekonomi syariah di IAIN Kediri. Bila ada yang ‘janggal’ dari pemuda ini adalah keterlibatannya di kelompok tani taruna di desanya, Desa Pagung, Kecamatan Semen, Kabupaten Kediri.

“Dasarnya, harus ada kemauan dahulu dari diri masing-masing,” ujar Vendra, panggilan akrabnya.

tanaman organik

ALAMI: Vendra (depan) dan Taji melihat budi daya tanaman organik milik poktan taruna tani di rumahnya, di Pagung, Semen. (IQBAL SYAHRONI - RadarKediri.JawaPos.com)

Vendra berpendapat, sebagai pemuda desa harus peduli terhadap pertanian. Kondisi geografis desanya yang di lereng gunung tak menumpulkan semangat mereka menjadi generasi baru pertanian Desa Pagung.

Kelompok tani (poktan) mereka beranggotakan delapan orang. Dua masih duduk di bangku SMA dan sisanya kuliah. Pembinanya adalah Taji, 48, salah seorang ketua poktan Desa Pagung.

Tidak ada satupun anggota poktan taruna ini yang berlatar belakang pendidikan pertanian. Paling mirip hanya satu yang menimba ilmu di jurusan peternakan. Namun, karena sudah bersinggungan dengan dunia pertanian sejak kecil, mereka tak canggung untuk turun ke sawah.

Karena masih sibuk kuliah dan sekolah, anggota poktan taruna ini hanya kumpul saat libur saja. Atau bila ada sesuatu yang ingin didiskusikan, mereka mendatangi sang pembina langsung.

Saat ini, poktan taruna tani ini fokus pada pertanian organik. Karena menurut Taji, di Desa Pagung lahan kosong untuk bertani masih kurang. “Lebih efektif jika beralih ke organik,” imbuhnya.

Yang mampu mereka panen saat ini adalah melon dan cabai. Ke depan  Taji ingin poktan taruna tani terus berkembang.

Taji menjelaskan sampai saat ini dinas pertanian, dinas sosial, pemerintah desa, dan pemerintah kecamatan sangat mendukung para pemuda ini belajar di bidang pertanian. “Karena pertanian adalah ujung tombak suatu bangsa,” imbuh Taji.

Sementara itu, Arik Wiyono memilih sesuatu yang agak berlawanan arus. Dia mengembangkan produksi pengolahan susu kambing jenis etawa di rumahnya.

          “Dulu saya memasarkannya juga kesusahan. Banyak orang yang sangsi. Padahal susu kambing lebih bagus daripada sapi,” ujarnya saat ditemui oleh Jawa Pos Radar Kediri di kandang kambing belakang rumahnya, di Dusun Plosorejo, Desa Sumberagung, Plosoklaten kemarin sore (27/10).

          Salah satunya keunggulan susu kambing Ettawa menurutnya adalah rendah lemak dan tinggi protein. Serta yang tidak kalah penting lagi menurutnya susu kambing memiliki kecenderungan kecil alergi terhadap penikmatnya.

          Arik bersama sang istri Yusnita Kuswardani juga mengalami kendala di awal usahanya pada 2015. Selama empat bulan, penjualan mereka tidak kunjung membuahkan hasil positif.

          Selain karena masih mencari-cari rumus yang tepat untuk menghasilkan susu yang enak, mereka pun juga lama-kelamaan sadar bahwa dari segi kemasan kurang menarik. Awalnya, susu olahan buatan mereka hanya dikemas plastik.

“Banyak orang yang menyamakannya dengan susu kedelai,” keluh ayah dua anak tersebut sembari tertawa.

          Akhirnya, pada Januri 2016 mereka memutuskan untuk menggunakan kemasan botol. Selain lebih menarik dari segi kemasan, hal tersebut juga dapat meningkatkan harga jualnya.

          Kini, dengan usaha kerasnya dan komitmennya, usaha pengolahan susu Ettawa di tempatnya sudah mulai dikenal banyak orang. Meskipun memang mayoritas dari daerah Kediri.

          Lucunya, sebagian orang yang mengkonsumsi susu olahan buatan mereka merupakan orang yang mempunyai keluhan sakit. Antara lain adalah mereka yang mengeluh mempunyai penyakit pernafasan, pencernaan dan tulang. “Kita membuat produk olahan susu untuk membuat orang sehat, bukan sebaliknya,” ungkapnya.

          Kini, Arik bersama sang istri bisa menikmati hasil mereka berkotor-kotor ria di kandang kambing. Pasalnya, omzet yang mereka hasilkan per bulannya relatif besar. Yaitu sekitar lima juta per bulannya. Itu dari usahanya mengolah susu. Belum lagi dengan kambing Ettawa yang dijual dagingnya.

(rk/rq/die/JPR)

Jawa Pos Digital
E-Paper
Most Read
 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia