Senin, 19 Nov 2018
radarkediri
icon featured
Features

Desa-Desa Pemenang dalam Anugerah Desa 2018 (2)

‘Sulap’ Sungai Kotor Jadi Habitat Ikan

Senin, 29 Oct 2018 16:10 | editor : Adi Nugroho

ikan jambu

SEJUK: Kades Jambu Agus Joko Susilo dan istrinya memberi pakan ikan di sungai Dusun Kedungcangkring yang dahulu kotor penuh jamban namun kini jadi jernih. (RAMONA VALENTIN - Radar Kediri. JawaPos.com)

Kepedulian Pemerintah Desa Jambu, Kayenkidul terhadap lingkungan memang tinggi. Bersama warga, mereka menyulap sungai kotor dan padat jamban jadi bersih. Warga pun punya pola pikir hidup sehat. Karena itulah inovasi terbaik bidang pengelolaan lingkungan layak dianugerahkan.

 

RAMONA TIARA VALENTIN

Siapa yang menyangka di balik rumah warga Dusun Kedungcangkring, Desa Jambu, Kecamatan Kayenkidul terdapat sungai kecil yang memiliki aliran air jernih dan lancar. Sungai dipenuhi dengan beragam ikan di sepanjang 100 meteran alirannya. Ada ikan koi, tombro, komet, dan beberapa ikan lainnya yang memiliki warna kuning, oranye, merah hingga hitam.

Suasana sekitar sungai pun sejuk dan teduh. Suara kicauan burung bersamaan dengan angin yang berhasil menggoyangkan dahan-dahan pohon terasa damai. Teriakan anak-anak yang bersuka ria menyemplungkan diri ke sungai tersebut ikut menghiasi suasana di sekitar sungai ini.

Sungai yang memiliki lebar sekitar dua meter ini tadinya berada di antara kawasan tanah kosong yang ditumbuhi semak belukar liar. Namun pada akhir tahun 2016 kondisinya mulai berubah.

“Dulu daerah sini kotor, kumuh, banyak jamban warga. Termasuk tempat pembuangan sampahnya warga juga. Dan lingkungannya cenderung angker,” ungkap Agus Joko Susilo, Kepala Desa (Kades) Jambu, saat dijumpai Jawa Pos Radar Kediri di sungai sejuta ikan itu, Jumat (26/10) kemarin.

Agus, begitu ia akrab disapa, menceritakan ingin desanya tidak sekadar untuk wisata. Melainkan juga mampu membentuk warga agar memiliki pola hidup yang bersih dan sehat.

Untuk mengubah sungai yang saat ini selalu ramai dikunjungi wisatawan tersebut, Agus mengambil langkah dengan musyawarah dusun (musdus) bersama warga setempat. Ia coba menarik perhatian warga dengan gambaran kondisi Desa Jambu di kemudian hari.

Pasalnya, desa cukup ramai dikunjungi wisatawan lokal hingga wisatawan asing. Makanya, Agus pun bertanya, bagaimana kalau wisatawan tersebut melihat kondisi desa wisata ternyata memiliki sungai yang kotor dan di sepanjang sungainya terdapat jamban-jamban yang ditutupi banner bekas.

“Bongkar saja Pak jambannya. Itu kata-kata warga saat saya gambarkan kondisi mendatang. Dari situ kami sepakat mengambil langkah dan kesepakatan bersama,” ungkapnya.

Dalam aksi membersihkan sungai kecil yang belum memiliki nama ini, diakui Agus, tidak menuai pro-kontra. Justru semua warga semangat untuk menjaga lingkungan dan kebersihan masing-masing.

Lingkungan yang bersih, menurutnya, pasti berdampak positif secara menyeluruh. Disi lain, Agus mencoba mengobati keprihatinannya bila anak-anak lebih senang bermain gadget daripada kembali  bermain di alam bebas.

Untuk proses pembersihan sungai dan pemasangan kawat pembatas agar ikan tetap berada di 100 meteran sungai ini memakan waktu selama 15 hari berturut-turut. Tidak hanya pemerintah desa (pemdes) yang turun tangan, namun warga setempat dan pemuda yang tergabung dalam karang taruna juga berperan serta bahkan hingga saat ini.

Setelah sungai cukup bersih, mulailah diisi dengan bibit-bibit ikan hasil dari swadaya masyarakat yang saat ini sudah mampu berkembang biak dan menambah jumlah ikan di sana. “Ini juga dulunya kolam kosong, hanya ada genangan airnya. Sekarang jadi tempat perkembangbiakan ikan-ikan,” jelas ayah tiga anak ini sambil menunjukkan kolam berukuran 5 x 5 meter yang terletak tepat di sebelah sungai sejuta ikan itu.

Suatu ketika, pernah warga setempat mengadukan bila terdapat ikan yang melompat dari sungai ke daratan. Namun warga mengembalikannya ke sungai. Di sanalah Agus mengapresiasi kepedulian warga untuk lingkungannya yang membuahkan hasil di Anugerah Desa 2018 Kabupaten Kediri.

Sungai yang saat ini dikelola badan usaha milik desa (BUMDes) tersebut memang gratis bagi siapa saja yang mengunjunginya. Tetapi bila digabungkan dengan paket wisata edukasi dengan dua destinasi lain di Desa Jambu, wisatawan membayar Rp 15 ribu per orangnya.

Sungai ini juga tidak terdapat jam buka maupun tutup. Siapa saja bebas mengunjunginya asalkan tidak merusak lingkungan maupun mengotorinya. “Hasil uang dari wisata sungai sejuta ikan ini dibagi dua, untuk BUMDes dan warga setempat,” papar Agus.

Uniknya lagi, di sekitar sungai yang tadinya ditumbuhi tanaman liar kini justru dimanfaatkan pemuda setempat untuk berkreasi mempercantik lingkungan di sekitar sungai sekaligus menikmati keindahan alam.

Agung Hariyono, salah satu pemuda yang ikut mengelola sungai ini mengakuinya. “Ayunan bambu, kursi dari rangkaian akar dan batang ini sampai dinding anyaman bambu dengan tambahan properti caping ini kreasi kami untuk menambah keindahan lingkungan sekitar sungai,” paparnya.

Sungai yang dia kelola bersama teman-temannya tidak hanya untuk dipandang mata. Namun, juga untuk terapi dengan merendam kaki ke sungai, bahkan mandi bersama ikan-ikan yang biasanya dilakukan anak-anak, pengunjung juga bisa memberi makan ikan dengan harga pakan senilai Rp 2 ribu per bungkusnya.

(rk/baz/die/JPR)

Jawa Pos Digital
E-Paper
Most Read
 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia