Minggu, 18 Nov 2018
radarkediri
icon featured
Features

Eko Suroso, Kades Paling Inovatif Anugerah Desa 2018

Jaranan dan Remo pun Jadi Mulok

Jumat, 26 Oct 2018 13:31 | editor : Adi Nugroho

kades inovatif

INOVATIF: Eko Suroso saat diberikan gelar Kades Paling Inovatif oleh Bupati Haryanti. (ANDHIKA ATTAR - RadarKediri.JawaPos.com)

Melestarikan seni tradisional perlu upaya ekstra. Seperti yang dilakukan Kades Sempu, Ngancar ini. Dia memasukkan materi kesenian tradisional dalam muatan lokal di sekolah.

HABIBAH A. MUKTIARA

Namanya Eko Suroso. Usianya masih tergolong muda, 30 tahun. Kades Sempu ini kemarin sontak menjadi perbincangan oleh para undangan yang hadir di lapangan PT Secang Sukosewu, Desa Jugo, Mojo, tempat acara awarding Anugerah Desa Award 2018 kemarin.

Eko langsung menjadi pusat perhatian karena membawa pulang dua gelar dari acara tersebut. Selain mampu membawa desanya meraih predikat terbaik di bidang pelestarian kesenian tradisional, dia juga terpilih sebagai kades terinovatif.

Yang membuat dia terpilih sebagai kades paling inovatif adalah kemampuannya membawa Desa Sempu meraih gelar dalam Anugerah Desa selama dua kali. “Sebelumnya Desa Sempu juga mendapatkan gelar dalam Anugerah Desa. Yaitu sebagai desa inovatif dalam pemberdayaan perempuan,” ucap suami Ririn Riani, 24, ini.

Mendapat penghargaan prestisius seperti itu adalah sesuatu yang tak dia sangka-sangka. Apalagi dia baru melaksanakan program selama dua tahun. Masa yang masih penuh dengan tantangan.

Menurut Eko, masih banyak masalah dalam program yang dia gulirkan itu. Melestarikan sekaligus mengembangkan kesenian tradisional memerlukan upaya ekstra. Terutama adalah soal ketersinambungan program tersebut. Dan itu bukan bergantung pada dia sebagai kades atau pemerintahan desa (pemdes). Namun lebih pada masyarakat sebagai pelaku kesenian.

Desa, menurutnya, bisa dengan mudah membiayai operasional program. Namun, soal mereka yang mau untuk menjadi penerus kesenian tradisional itu adalah hal yang lebih sulit. Mencari orang yang bersedia menjadi penari jaranan atau tari remo bukan perkara mudah. Karena itulah muncul ide memasukkan persoalan pelestarian kesenian itu sebagai muatan lokal (mulok) di sekolah.

“Di sini perangkat desa berperan menyambungkan antara sekolah dengan kelompok seni,” ujar Eko.

Setelah keduanya disambungkan, antara sekolah dan kelompok seni, pemdes pun mengarahkan untuk membuat MoU. Surat kesepahaman untuk menjadikan sebagai esktra-kurikuler kesenian. Pihak kelompok kesenian akan menyediakan diri sebagai pelatih. Sedangkan pesertanya adalah siswa sekolah.

Awalnya, program seperti ini tak berjalan mulus. Ada saja faktor penghambatnya. Seperti sekolah yang terlalu terburu-buru karena menuntut siswa bisa langsung menjadi penari. Padahal, untuk menjadi penari membutuhkan proses.

Masalah kedua adalah tentang waktu. “Setelah dilakukan rembukan, latihan dilakukan satu minggu sekali,” ujarnya.

Latihan yang semula dilakukan sore hari kemudian menjadi malam hari. Ini karena berbenturan dengan jadwal mengaji. Setelah disepakati bersama, untuk malam minggu latihan jaranan untuk anak laki laki. Sedang untuk malam Rabu latihan tari remo untuk anak perempuan.

Selain itu, kades yang masih menjabat satu periode ini punya kendala lain. yaitu kesalahan komunikasi. Awalnya warga banyak yang kurang paham dengan program yang digulirkan. “Solusinya adalah perangkat desa harus intensif dalam menyampaikan hal tersebut,” jelas kades yang juga petani nanas ini.

(rk/rq/die/JPR)

Jawa Pos Digital
E-Paper
Most Read
 TOP
Artikel Lainya

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia