Senin, 19 Nov 2018
radarkediri
icon featured
Kolom

Langkah Diambil, Ayo Berlari…!

Kamis, 25 Oct 2018 18:27 | editor : Adi Nugroho

Tauhid Wijaya

Tauhid Wijaya

Tak bisa berhenti. Apalagi mundur. Satu langkah diambil ke depan, langkah-langkah berikutnya harus terus dijalani. Kalau perlu, dengan berlari. Semangat itulah yang terlihat dari para pengelola desa dalam Anugerah Desa tahun ini. Sebuah event yang digelar Jawa Pos Radar Kediri bersama Pemkab Kediri untuk mendorong percepatan kemajuan di tingkat desa. Dengan mengompetisikan ide-ide inovatif mereka di banyak bidang.

Di antara yang terlihat menggembirakan adalah tentang pengelolaan BUMDes. Upaya untuk mendorong korporasi di tingkat desa lewat lembaga tersebut semakin kelihatan hasilnya. Bukan hanya dari perangkat regulasi lewat peraturan desa maupun keputusan kepala desanya yang telah siap. Struktur lembaga dan pengelolanya juga semakin tertata rapi. Selain itu, unit usahanya juga sudah mulai berjalan dan berkembang.

Memang, baru mulai berjalan. Perputaran uang dari unit usaha yang dikelola belum besar. Baru sebatas mampu memberi insentif untuk pengelolanya. Plus pendapatan asli desa yang juga belum besar. Akan tetapi, itu semua adalah langkah awal yang tidak kecil.

Unit usaha yang dikembangkan berdasar potensi di desa memiliki prospek yang cukup menjanjikan ke depan. Peluangnya terbuka lebar. Di depan mata. Dan, semua telah dikalkulasi oleh para pengelolanya. Keberhasilan BUMDes Tirta Mandiri Desa Ponggok, Kecamatan Polenharjo, Kabupaten Klaten yang tahun lalu kadesnya dihadirkan dalam resepsi Anugerah Desa 2017, barangkali turut menginspirasi. Betapa tidak, BUMDes itu pada 2017 sudah menghasilkan pemasukan Rp 14 miliar ke desa.

Memang, tak sepenuhnya konsep BUMDes yang dikembangkan di Ponggok itu bisa direplikasi di sini. Harus ada penyesuaian dengan potensi dan kondisi lokal masing-masing desa. Di situlah tantangannya. Kepala desa dan para pengelola desa lainnya harus benar-benar mengeluarkan daya inovasi dan kreativitas mereka.

Jika BUMDes Tirta Mandiri di Ponggok mengandalkan pendapatannya dari wisata ‘umbul’ atau mata airnya, maka desa-desa di Kabupaten Kediri harus menyesuaikan dengan potensinya sendiri. Dan, itu semakin terlihat tahun ini. Bukan hanya wisata atau pertanian yang memang menjadi basis usaha banyak desa di sini. Akan tetapi, mereka juga ada yang mulai mengelola air bersih untuk disalurkan ke rumah-rumah warga dengan cara berlangganan. Mirip PDAM di tingkat desa. Bahkan, ada pula yang menjadikan jasa konstruksi sebagai usahanya. Jika ini berhasil, maka akan ada Adhi Karya atau Wijaya Karya –dua BUMN karya milik pemerintah—di tingkat desa. Di Kabupaten Kediri.

Hal lain yang juga cukup menggembirakan adalah tentang pembinaan literasi. Kesadaran pengelola desa untuk menumbuhkan minat baca warganya dengan asupan informasi yang ‘bergizi’ mulai berkembang. Perpustakaan desa yang dulu lebih mirip dengan gudang atau bahkan sekadar lemari buku yang berdebu, kini mulai disulap menjadi lebih cantik. Ada pengelola khususnya. Koleksi bukunya pun ditambah. Plus sejumlah program yang merangsang warga untuk datang dan membaca.

Belum banyak memang desa yang memberikan perhatian khusus dalam bidang ini. Bahkan, pembinaan literasi juga merupakan kategori baru dalam Anugerah Desa tahun ini. Akan tetapi, munculnya upaya serius dari sejumlah desa untuk melakukan pembinaan literasi warganya adalah satu hal yang patut diapresiasi. Terlebih pada masa sekarang ketika hoax berseliweran setiap hari dan rawan memunculkan konflik bahkan disintegrasi.

Warga yang memiliki kemampuan literasi baik, tidak akan mudah nggumunan. Tidak mudah kagetan. Tidak mudah terpancing isu-isu yang tidak jelas ujung pangkalnya. Mereka akan memiliki bekal pengetahuan dan kemampuan analisa masalah yang lebih baik.

Total ada 12 kategori penilaian pada Anugerah Desa 2018 ini. Selain pengelolaan BUMDes dan pembinaan literasi seperti di atas, sepuluh yang lain adalah: pengelolaan administrasi masyarakat; pengelolaan wisata; pengelolaan lingkungan; pengelolaan pertanian; pembinaan anak muda; pemberdayaan perempuan; pemberdayaan UMKM; pelayanan kesehatan; dan pelestarian kesenian tradisional.

Masing-masing kategori menunjukkan progress yang tak kalah menggembirakan. Ya inovasinya. Ya sustainibilitas programnya. Ya kebermanfaatannya. Dari tahapan penilaian yang telah dimulai sejak Maret lalu, terlihat betul semangat para kades dan pengelola desa lainnya untuk memberikan yang terbaik guna kemajuan desanya. Guna kesejahteraan warganya.

Apalagi, Bupati Kediri dr Hj Haryanti Sutrisno yang tak pernah lelah mengajak ‘berlari’ mengejar ketinggalan itu memberikan hadiah berupa program pembangunan yang nilainya cukup besar. Untuk desa-desa yang mendapat penghargaan. Baik sebagai juara dan nominator. Masing-masing Rp 200 juta dan Rp 100 juta. Ini semakin memacu semangat para kades dan pengelola desa untuk memajukan desanya.

Jadi, jika langkah sudah diambil, jangan pernah berhenti. Kalau perlu, ayo terus berlari…!  (penulis adalah direktur Jawa Pos Radar Kediri)

(rk/rq/die/JPR)

Jawa Pos Digital
E-Paper
Most Read
 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia