Senin, 19 Nov 2018
radarkediri
icon featured
Kolom

Pecandu Disembuhkan, Pengedarnya Dihancurkan

Minggu, 21 Oct 2018 11:39 | editor : Adi Nugroho

Dr Anang Iskandar SIK SH MH

Dr Anang Iskandar SIK SH MH

Kebiasaan sehari-hari seorang pecandu narkotika adalah membeli narkotika secara ilegal dalam jumlah tertentu. Biasanya sedikit, untuk kepentingan sehari pakai. Digunakan untuk diri sendiri dan teman dalam pesta mengonsumsi narkotika.

Secara hukum sangat berbeda tujuan kepemilikan narkotika antara pecandu dan pengedar. Pengedar membeli narkotika dalam jumlah besar. Dijual lagi untuk mendapatkan keuntungan. Sedangkan pecandu membeli dalam jumlah sedikit dan digunakan untuk diri sendiri.

Pengedar itu punya niat jahat. Dengan menzalimi para penyalah guna dan mengambil keuntungan dari transaksi bisnis narkotika. Merugikan masyarakat sehingga jelas memiliki niat jahat.  Karena itu perlu dihancurkan bisnis narkotikanya dan pengedarnya diberi hukuman berat.

Sedangkan para pecandu tidak memiliki niat jahat. Mereka menzalimi dirinya sendiri. Mereka harus dilindungi dan diselamatkan agar berhenti mengkonsumsi narkotika dengan menjalani rehabilitasi. Kalau dibiarkan tanpa sentuhan rehabilitasi mereka akan mengonsumsi terus dan menjadi demand-nya bisnis narkotika sepanjang hidupnya.

Pecandu narkotika secara ilmu kesehatan adalah orang sakit adiksi kronis yang hanya bisa sembuh dan tidak mengkonsumsi narkotika lagi bila direhabilitasi, sedangkan secara hukum berdasarkan pasal 54 Undang-Undang No 35/2009 tentang Narkotika, pecandu hukumnya wajib menjalani rehabilitasi. Rehabilitasi itu bentuk hukuman yang statusnya sama dengan hukuman penjara. Di mana masa rehabilitasi dihitung sebagai menjalani hukuman (pasal 103/2).

Kewajiban menjalani rehabilitasi dibebankan pada :

1. Orang tua berkewajiban secara moral untuk menyembuhkan anaknya yang sakit seperti layaknya orang sakit biasa.

2. Orang tua berkewajiban secara hukum menyembuhkan pecandu dengan cara melaporkan ke rumah sakit yang ditunjuk oleh Kementerian Kesehatan. Kalau orang tua tidak melaporkan  keluarganya yang jadi pecandu diancam dengan hukuman kurungan maksimal 3 bulan.

3 . Hakim berdasarkan pasal 103 berkewajiban secara hukum wajib menjatuhkan hukuman rehabilitasi kepada para pecandu.

Pecandu selain sebagai orang sakit adiksi juga sangat rentan terkena dampak buruk akibat mengonsumsi narkotika yang terus-menerus. Yang sangat membahayakan kesehatan para pecandu baik secara fisik maupun kejiwaannya. Seperti terkena HIV AIDS, hepatitis, kemampuan kognitifnya menurun, gangguan paru-paru dan saluran pernafasan, infeksi seksual menular dan gangguan kejiwaan.

Apa sih pecandu itu? Pecandu  secara hukum adalah penyalah guna dalam keadan ketergantungan narkotika baik fisik maupun psikis ( pasal 1 angka 13 UU no 35/2009). Penyalah guna yang secara rutin mengonsumsi narkotika dapat dipastikan menjadi pecandu kalau dilakukan asesmen oleh dokter yang ditunjuk.

Istilah pecandu akan muncul apabila penyalah guna dilakukan asesmen oleh dokter yang ditunjuk. Tanpa asesmen terlebih dulu penyalah guna tidak punya gelar yuridis sebagai pecandu.

Pecandu berdasarkan UU wajib menjalani rehabilitasi. Baik karena orang tua yang diwajibkan UU untuk menyembuhkan keluarganya yang jadi pecandu maupun kewajiban hakim untuk menghukum dengan hukuman yang menyembuhkan berupa hukuman rehabilitasi (pasal 103).

Pecandu yang mengonsumsi secara rutin jumlahnya menurut hasil penelitian BNN melebihi angka 5 juta. Jumlah pecandu inilah yang harus disembuhkan dan dilindungi agar tidak mengalami dampak buruk penyalahgunaan narkotika. Sedangkan penyalah guna pemula khususnya yang baru pertama kali mengonsumsi narkotika setelah diasesmen dapat dipastikan sebagai korban penyalahgunaan narkotika. Yang menurut penjelasan UU-nya adalah orang yang tidak sengaja dibujuk, dirayu, diperdaya, bahkan mentah-mentah ditipu dan dipaksa menggunakan narkotika.

Pengguna pertama kali ini juga wajib menjalani rehabilitasi. Khususnya secara psikis. Karena kemungkinan secara fisik belum kecanduan.

Seluruh penyalahguna narkotika untuk pertama kali dapat dipastikan karena dibujuk, ditipu, dirayu, diperdaya, dan dipaksa menggnakan narkotika oleh pihak yang ada hubungan dengan peredaran narkotika. Pihak itu bisa teman, atasan, keluarga bahkan suami atau istri.

Setelah menjadi penyalah guna pemula tahap berikutnya adalah menjadi penyalah guna rekreasional. Dan selanjutnya berkarier jadi penyalah guna rutin. Bahkan ada yang tiap hari harus mengonsumsi narkotika. Penyalah guna pada waktu menjadi pecandu, kalau tidak direhabilitasi bisa menjadi masalah keluarga dan bisa menjadi sumber masalah keamanan yang lebih besar di kemudian hari. Tidak hanya darurat narkotika tapi bisa jadi bencana narkotika.

Oleh karena itu saya mengajak untuk menyembuhkan dan menyelamatkan para pecandu. Khususnya yang ada di Jawa Timur. Lebih khusus yang ada di wilayah eks-Karesidenan Kediri. Ayo bergerak. Mereka sudah kehilangan masa lalunya. Jangan sampai mereka kehilangan masa depannya. (Penulis adalah Ka BNN 2012-2015 dan Kabareskrim 2015-2016. Konsultasi masalah narkotika via WA 087 884  819 858 )

(rk/rq/die/JPR)

Jawa Pos Digital
E-Paper
Most Read
 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia