Senin, 19 Nov 2018
radarkediri
icon featured
Kolom

Ekonomi Kerakyatan Ala Bupati Novi

Selasa, 16 Oct 2018 17:16 | editor : Adi Nugroho

Ekonomi Kerakyatan Ala Bupati Novi

Keinginan Bupati Novi Rahman Hidayat untuk menghidupkan ekonomi warga patut diacungi jempol. Pasca serah terima jabatan, bupati muda ini menginisiasi produk makanan lokal agar bisa dijual di minimarket atau supermarket yang ada di Nganjuk. Bahkan bupati dengan jargon nyawiji ini cukup berani menargetkan produk lokal bisa masuk ke pasar modern di angka 50 persen. Bila ada minimarket atau supermarket yang menolak, maka Pemkab Nganjuk bisa mencabut izinnya.

Langkah bupati baru ini cukup berani. Semacam ingin mengembalikan ekonomi kerakyatan dengan lewat pasar modern yakni minimarket dan swalayan. Cara ini saya anggap cukup jitu agar pengusaha kecil tidak minder dan berlomba-lomba untuk menciptakan produk unggulan yang layak dikonsumsi lalu dijual lewat minimarket dan swalayan.

Sejauh ini, ada puluhan minimarket yang sudah merambah di desa-desa. Jika dicermati ada banyak makanan ringan yang sejatinya bisa dikelola warga yang dipajang di minimarket. Sayangnya, diproduksi makanan tersebut dijual sendiri menggunakan merek minimarketnya. Selama ini, pengusaha kecil seolah tidak pernah mendapat di pasar modern. Produk makanan dari pengusaha kecil agaknya kalah pamor dengan produk yang disajikan di minimarket.

Salah satu pengusaha kecil yang sudah berkembang ada di Desa Watudandang, Kecamatan Prambon. Di desa itu, ada produksi getuk yang bahan dasarnya adalah pisang dan labu manis. Dari segi pengalaman, pengusaha getuk pisang ini sudah berdiri cukup lama. Bahkan usaha getuk pisang ini sudah punya banyak variasi dan karyawan yang jumlahnya tidak sedikit.

Selama berproses belasan tahun, produksi getuk pisang di desa itu jarang dipasarkan di Nganjuk. Produk mereka selama ini pasarannya ada di Kota Kediri. Apalagi secara geografis, Desa Watudandang memang lebih dekat ke Kota Kediri. Sebab itu mereka lebih mudah memasarkan produknya ke Kediri.

Mereka sudah mengeluh. Selain tidak ada perhatian dari pemerintah kabupaten, juga hasil karyanya tidak pernah dihargai. Pengakuan para produsen makanan, saat pameran ke luar kota sekalipun mereka sering ditarik biaya untuk isi stand.

Kondisi itulah yang membuat produsen getuk pisang enggan berpartisipasi setiap kali ada acara yang diselenggarakan Pemkab Nganjuk.

Mereka lebih tertarik ikut Kediri karena selama ini lebih dihargai. Padahal sentral getuk pisang dan labu manis di Desa Watudandang itu sering dijadikan rujukan belajar dari daerah-daerah lain. Bila kelak, pernyataan Bupati Novi benar-benar diterapkan maka ini momentum produsen getuk pisang untuk menjual produksinya di minimarket. Di Kecamatan Prambon, setidaknya sudah ada empat minimarket. Bila ke empat tempat ini bersedia memasarkan produksi getuk pisang maka tidak menutup kemungkinan produsen makanan rumahan lainnya bisa ikut berpartisipasi.

Tidak hanya produksi getuk pisang, usaha kecil menengah (UKM) lainnya juga bisa ikut merasakan keuntungan dari kebijakan tersebut. Termasuk salah satunya adalah produksi bawang goreng yang selama ini dipasarkan secara mandiri. Dan masih banyak produk UKM lainnya di Nganjuk ini bisa memanfaatkan serbuan minimarket di desa-desa.

Yang perlu menjadi cacatan Bupati Novi ketika menerapkan kebijakan tersebut adalah kualitas produk UKM. Kebanyakan hasil produksi rumahan tidak tahan lama. Belajar dari kasus keracunan siswa SDN Ganungkidul I. Makanan berupa kue tar yang dikonsumsi siswa kelas V-B tersebut adalah produk UKM. Setelah masuk pasar modern, kue tersebut sudah kedaluwarsa.

Ketahanan makanan itulah yang menjadi kelemahan produk rumahan. Sebab pembuatan produk makanan tidak menggunakan bahan pengawet sehingga kualitasnya harus benar-benar dikontrol. Kualitas produksi UKM itulah yang menjadi pertaruhan.

Jika produk tidak memenuhi standar, maka secara otomatis akan ditinggal pembelinya. Meskipun ruang untuk memasarkan produk UKM sudah terbuka, jika tidak diimbangi dengan kualitas maka pembeli akan meninggalkannya. Produk tidak akan laku. Ini adalah pekerjaan rumah yang harus dituntaskan.

Karena tujuannya ingin mengembangkan produk UKM, maka selayaknya pemkab juga memiliki tempat sebagai sentra produk lokal. Selain untuk mempermudah memperkenalkan kepada warga, produk apa saja yang dihasilkan di Nganjuk, juga sebagai sarana pemasaran produk asli Nganjuk. Sudah saatnya Nganjuk bangkit di tangan bupati muda dan berani. (penulis adalah wartawan Jawa Pos Radar Nganjuk)

(rk/rq/die/JPR)

Jawa Pos Digital
E-Paper
Most Read
 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia