Senin, 19 Nov 2018
radarkediri
icon featured
Kolom

Kado Terindah

Minggu, 14 Oct 2018 18:10 | editor : Adi Nugroho

Oleh: Bagus Romadhon

Oleh: Bagus Romadhon

Saya terima nikah dan kawinnya Maretha….binti ……dengan mas kawin ….. dibayar tunai !! Eitsss, jangan baper. Itu salah satu contoh awalan dalam kalimat ijab qobul. Kalimat suci yang diucapkan depan di wali dan saksi nikah. Dan mungkin pembaca semua juga sering mendengarkannya.

Bagi lelaki yang sudah baliq (baca- seperti kami, Red), bisa mengucapkan kalimat itu di depan penghulu dan saksi menjadi sebuah kebanggaan dan impian. Deg-degan di awal, namun jika semua itu bisa dilewati dengan lancar. Plong! Haru dan bahagia menjadi satu.

Wajar, sebab manusia fitrahnya adalah memiliki hasrat mencintai dan dan dicintai. Termasuk saya. Melangkah ke jenjang pernikahan menjadi salah satu impian yang menjadi kenyataan.

Untuk menuju ke pernikahan tentu membutuhkan persiapan. Ada persiapan teknis dan non teknis. Yang teknis misalnya, modal pernikahan. Sebab mau tidak mau, pernikah tentu juga membutuhkan modal yang relatif.

Yang tak kalah penting dan utama adalah pastikan anda memiliki pasangan. Jika pasangan belum ada, bagaimana mau menikah? Bagi yang belum punya pasangan, jangan sewot ya….hehehehe. Kalau sudah punya pasangan, pastikan juga pasangan anda berlawanan jenis dengan Anda. Karena bagi seorang muslim seperti saya, itu wajib hukumnya. Dalam  firman-Nya di Surat Az Zariyat: 49 disebutkan. “Dan segala sesuatu kami ciptakan berpasang- pasangan supaya kamu mengingat kebesaran Allah

Pernikahan sendiri merupakan hal penting di dalam Islam. Sampai-sampai ada hadits yang menyatakan menikah itu sebagai separuh agama. Makanya, pernikahan juga disebut ibadah terlama dalam hidup.

Selain persiapan teknis, harus ada persiapan non teknis yang matang. Menurut saya salah satu yang penting adalah mental. Karena untuk menjadi seorang imam di keluarga harus bermental yang baik. Karena kelak juga akan diikuti oleh oleh anak-anak kita nanti. Sepintas sepele, namun sebenarnya itu tidak mudah.

Bagi yang belum mampu, perlu belajar. Jika belum bisa terus belajar hingga akhirnya bisa menjadi pribadi yang bertanggungjawab. Dari hasil ‘sekolah’ saya dengan mereka yang sudah menikah, tanggung jawab setelah menikah tidaklah mudah. Seiring dengan bertambahnya usia pernikahan, maka tanggung jawab juga akan bertambah.

Sedikit bercerita tentang film Habibie & Ainun. Mungkin saya salah satu ‘korbannya’. Saya kebetulan sejak muda menjadi pengagum BJ Habibie yang juga Presiden Republik Indonesia ke-3. Makanya ketika film tersebut diputar di tahun 2012, saya sangat berhasrat untuk menontonnya.

Menurut saya, film yang disutradarai Faozan Rizal itu sangat inspiratif. Menyentuh dan mengajarkan kepada kita, begitulah seharusnya kita mencintai pasangan. Dari Habibie belum menjadi apa-apa saat berada di Jerman, hingga menjadi orang nomor satu di Indonesia. Salah satu yang dramatis lagi, tatkala Habibie menemani Ibu Ainun di detik-detik terakhir di hidupnya. 48 tahun usia pernikahan mereka dan akhirnya harus dipisahkan karena kematian.

Usia pernikahan yang menjelang setengah abad, tentu banyak suka dan duka yang mereka lalui sebagai seorang suami dan istri. Di era milenial ini tentu bukanlah hal mudah bisa mengikuti kisah cinta luar biasa mereka berdua.

Pernikahan itu bukan sekadar duduk di pelaminan. Namun juga menyatukan dua kepala manusia yang berbeda isinya. Lebih dari itu juga bertambahnya keluarga besar.

Oleh karenanya, bagi yang mau menikah persiapan akan dilakukan semaksimal mungkin. Semua itu tak lain juga untuk sebuah kebahagiaan. Mengawali hari menuju kebahagiaan itu, saya membeli buku berjudul Kado Pernikahan Terindah. Cieeehh…Buku setebal 527 halaman karya Dr Akram Ridha ini mengupas berbagai tema tentang pernikahan.

Saya melihat, buku itu bisa menjadi salah satu referensi sebuah pembelajaran mengenai pernikahan. Di buku tersebut juga membahas berbagai permasalahan yang mungkin saja terjadi kedepannya. Bagaimana menyelesaikannya secara baik. Apapun itu memang harus dipersiapkan, meski belum tentu terjadi.

Semua persiapan itu dilakukan agar pernikahan tersebut menjadi pernikahan yang diinginkan semua orang. Apa itu? Menjadi keluarga yang Sakinah Mawaddah Wa Rahmah. Ketenangan, penuh cinta dan kasih sayang. Doa andalan yang selalu diucapkan keluarga sanak sahabat saat menghadiri pernikahan.

Bagi pembaca yang sudah menikah, maka saya juga mendoakan semoga pernikahannya juga sakinah, mawaddah wa rahmah. Dan bagi pembaca yang belum menikah, saya mendoakan semoga impian Anda untuk menikah segera terwujud.

Trus yang belum terlihat tulang rusuknya gimana? Harap bersabar Mblo. Ada yang bilang jodoh itu unik. Seringkali yang dikejar-kejar  malah menjauh. Yang tidak sengaja berjumpa, malah mendekat. Yang seakan sudah pasti, malah menjadi ragu. Yang awalnya meragukan, menjadi pasti. Yang selalu diimpikan, tak berujung pernikahan. Yang tidak pernah dipikirkan, bersanding di pelaminan. Yang penting tetap semangat dan terus berjuang para jomblowers.

Sebagai penutup, saya kutip kalimat manis dari IDN times (19/10/2017). Cinta itu adalah kata kerja, kamu harus mencintai pasanganmu secara aktif, setiap hari, setiap detik, setiap saat.

Dengan sepenuh hati, Bismillah, saya akan melengkapi titik-titik di paragraf atas tadi. Saya terima nikahnya Maretha Dwi Saraswati binti Joni Sumarto dengan mas kawin tersebut dibayar tunai. Kediri 14/10/2018. Mohon doa restunya….(penulis adalah wartawan Jawa Pos Radar Kediri)

(rk/baz/die/JPR)

Jawa Pos Digital
E-Paper
Most Read
 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia