Jumat, 16 Nov 2018
radarkediri
icon featured
Ekonomi
Perekonomian Kediri

Rokok Filter dan Kretek Sumbang Inflasi

Masuk Sepuluh Besar Penyumbang Inflasi

Sabtu, 06 Oct 2018 16:52 | editor : Adi Nugroho

MAHAL: Beragam merek rokok yang sekarang mahal karena cukai naik.

MAHAL: Beragam merek rokok yang sekarang mahal karena cukai naik. (RAMONA VALENTIN – RadarKediri.JawaPos.com)

KEDIRI KOTA -  Kenaikan cukai pada rokok membuat komoditas ini menjadi penyumbang inflasi. Komoditas rokok menduduki sepuluh besar penyumbang inflasi. Di antaranya rokok kretek filter dan rokok kretek menduduki posisi ke empat dan posisi ke sepuluh.

“Memang rokok cenderung masuk dalam kategori penyumbang inflasi, terkait dengan kenaikan cukai hingga peningkatan jumlah pengonsumsi,” papar Adi Wijaya, kepala Statistik distribusi badan pusat statistik (BPS) Kota Kediri.

Adi mengakui bila rokok memiliki andil sebesar 0,061 persen untuk kategori rokok kretek filter, sedangkan rokok kretek memiliki andil sebesar 0,019 persen. Kedua rokok ini memiliki penggemar masing-masing, sehingga tidak salah bila jarang dijumpai kenaikan harga pada rokok namun pengonsumsi makin hari makin meningkat.

Hal inilah yang membuat laju inflasi pada September. Bila dilihat dari kelompok pengeluaran, rokok dan tembakau mengalami inflasi sebesar 0,69 persen. Komoditas rokok memang terkenal menjadi penyumbang inflasi sejak tahun 2017, dan tepat di bulan Agustus 2018, rokok kretek filter dan rokok kretek menduduki urutan pertama dan kedua dalam posisi sepuluh besar penyumbang inflasi.

Hal serupa terjadi kembali di September dengan urutan berbeda. Diakui oleh Ellyn T. Brahmana, kepala BPS Kota Kediri bila komoditas rokok memiliki bobot yang cukup besar di Kota Kediri. “Produsennya kan ada di Kediri, peminatnya juga cenderung meningkat. Artinya jumlah perokok terus mengalami peningkatan,” terangnya.

Sementara itu Adiek Marga Raharja, kepala Seksi Layanan dan Informasi Bea dan Cukai Kediri menjelaskan bila tarif cukai memang selalu mengalami kenaikan sebesar 11,2 persen per tahun. “Itu untuk tarif cukainya, sedangkan harga jual ecerannya ya ditentukan masing-masing pabrik rokok,” terangnya. Adiek juga mengaku bila faktor lain yang memengaruhi adalah konsumen rokok bertambah, dan bermunculannya perokok baru.

Serupa dengan pengakuan Adiek, salah satu pedagang rokok eceran wilayah Mojoroto Rony Irawan mengakui bila kenaikan harga rokok bisa mencapai Rp 100 sampai Rp 500 untuk sekali naik per batang bila membeli secara eceran. “Rawan naik, tapi ya tetep saja dicari perokok. Jadi ndak memengaruhi penjualannya,” bebernya.

Diakui pula bila semakin hari jumlah perokok cenderung meningkat, karena tidak jarang ia menjumpai wajah-wajah baru yang membeli rokok yang ia jual dari berbagai kalangan usia.

(rk/die/die/JPR)

Jawa Pos Digital
E-Paper
Most Read
 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia