Senin, 19 Nov 2018
radarkediri
icon featured
Kolom
Kasus Tuberkulosis (TB)

Jangan Stigma Penderita

Kamis, 04 Oct 2018 15:29 | editor : Adi Nugroho

Fauzan Adima, Direktur RSUD Gambiran Kota Kediri

Fauzan Adima, Direktur RSUD Gambiran Kota Kediri

Sebenarnya, kasus Tuberkulosis (TB) seperti fenomena gunung es. Adapun artinya adalah penderita yang belum terdeteksi jauh lebih banyak daripada yang sudah terdeteksi.

Oleh karena itu, Kementerian Kesehatan menggalakkan program penemuan atau deteksi dini kasus TB tersebut. Hal ini dikarenakan satu penderita TB bisa menularkan ke semua orang. Terutama yang punya kontak erat.

Kepada masyarakat kalau sudah ada tanda-tanda awal TB seperti batuk yang tidak sembuh-sembuh, sesak dan badan semakin kurus jangan menunda lagi segera periksakan ke puskesmas atau lembaga kesehatan terdekat. Selain itu, sebisa mungkin hindari asap rokok.

Memang selama ini stigma negatif terhadap penderita TB masih ada. Oleh karena itu, harapannya masyarakat ke depannya tidak boleh menstigma lagi pada si penderita. Selain itu, penderitanya juga tidak boleh menutup diri dan tidak segera melakukan pengobatan.

TB bisa disembuhkan, karena merupakan penyakit infeksi. Pasien harus rutin minum obat selama 6 bulan dan dibarengi dengan pola hidup sehat. Dengan begitu peluang untuk bisa sembuh dari TB sangatlah besar.

Selain itu penderita juga harus mengetahui bagaimana caranya ketika batuk, ketika meludah dan lain-lain. Jangan sembarangan dan sesukanya. Bisa ditanyakan langsung ke petugas kesehatan (Puskesmas terdekat).

Tidak kalah penting, tentu saja pasien juga butuh dukungan keluarga dan masyarakat (dukungan sosial). Dukungan secara moral ini sangat berguna bagi pasien itu sendiri. Sehingga mereka (penderita, Red) akan lebih terpacu dan semangat dalam menyembuhkan penyakit yang ada pada dirinya.

Untuk biaya pengobatan gratis sudah disediakan dari kementerian kesehatan. Penderita tidak perlu sungkan datang ke fasilitas kesehatan terdekat. Pola hidup sehat sangat disarankan kepada penderita.

Selama ini selain penularan melalui kontak langsung, faktor kondisi rumah juga sangat berpengaruh dalam menyebarnya penyakit ini. Mulai dari ventilasi, sirkulasi udara, dan pencahayaan. Sebagai contoh, apabila ventilasi rumah bagus, artinya sinar matahari bisa masuk, maka perkembangan bakteri akan terhambat.

Sangat besar risikonya apabila penderita tidak segera melakukan pengobatan. Di mana ada beberapa efek dari TB, pertama, tentu kondisi tubuh penderita akan semakin lemah karena bakteri TB akan terus menggerogoti tubuhnya. Kedua, bisa komplikasi seperti TB otak, TB tulang dan itu akan sangat sulit disembuhkan. Ketiga, bisa menyebabkan multidrug resisten (TB-MDR) di mana bakteri TB menjadi kebal terhadap obat.

(rk/*/die/JPR)

Jawa Pos Digital
E-Paper
Most Read
 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia