Senin, 19 Nov 2018
radarkediri
icon featured
Sego Tumpang

Sewek Suwek

Kamis, 13 Sep 2018 17:22 | editor : Adi Nugroho

sego tumpang

Sewek Suwek (GRAFIS: Afrizal Saiful - JawaPos.com/RadarKediri)

Tafsir 1001 mimpi. Itu jenis buku yang disukai Dulgembul. Selain primbon dan mujarrobat. Yang dia cari tiap ada pasar malem. Bukan untuk membeli. Tapi, nunut baca isinya untuk dikembalikan lagi. Lumayan, bisa dapat banyak bahan gratis untuk omongan saat cangkrukan. Di warung Mbok Dadap. Sambil sarapan sego tumpang.

“Peristiwa sewek suwek Yu Kanthil tempo hari jangan pernah diremehkan. Itu pasti ada kaitannya dengan pertanda-pertanda,” katanya seraya mrithili kacang yang menempel pada rempeyek di atas guyuran sambel tumpang.

Sewek suwek Yu Kanthil memang tengah jadi perbincangan. Hangat. Di semua kalangan. Di antara bapak-bapak dan pemuda: karena peristiwa itu membuat mereka jadi bisa melihat betis Yu Kanthil yang matahari pun hampir tak pernah melihatnya. Di antara ibu-ibu dan pemudi: karena kain sewek Yu Kanthil demikian indah dan mahal harganya. Eman jika hanya dijadikan sewek.

“Lha mestinya dijadikan apa to, Bulik?,” tanya Yu Manggar kepada Bulik Mawar yang ikut ngantre sego tumpang bungkusan.

“Ya kan bisa dijadikan kain atasan, dipadu-padankan dengan kain lain. Kayak di fashion show-fashion show gitu. Eman lo itu..,” jawab Bulik Mawar yang kalau creambath suka baca-baca majalah fesyen dari dalam maupun luar negeri.

Tentang Yu Kanthil yang godres getih nyaris tidak jadi perhatian. Paling-paling orang seperti Matdramus yang sok perhatian, “Kasihan ya, betisnya jadi berdarah..” Tetap saja betis yang menjadi fokusnya.

Begitulah. Satu peristiwa: sewek Yu Kanthil suwek, bisa jadi seribu makna. Seribu tafsir. Yang, tak jarang, pemaknaan dan penafsirannya jauh dari inti peristiwanya. Seperti tafsir dan komentar ala ibu-ibu tentang motif dan harga sewek yang mahal itu. Juga tafsir dan komentar ala bapak-bapak tentang betis yang matahari pun tak pernah mengintipnya.

Tentang kapan, di mana, mengapa, dan bagaimananya peristiwa itu terjadi malah sering terlupa. Karena telah menjadi hal yang tak menarik untuk dikomentari. Lebih menarik untuk membincang tafsir-tafsir yang dikembangkan terhadapnya.

“Pasti Yu Kanthil ndak konsen waktu disuit-suit sama pemuda di situ,” kata Matkriwul menduga penyebab peristiwa di balik suwek-nya sewek Yu Kanthil.

“Itu jelas pertanda-pertanda,” sahut Dulgembul mengulangi prediksinya berdasar primbon dan kitab tafsir seribu satu mimpi yang dibacanya di pasar malem.

Yang lain menimpali lagi. Dengan prediksi dan tafsirnya sendiri-sendiri. Sambil tetap ngantre sego tumpang. Sambil tetap nyamuk-nyamuk trasi dele atau mendoan.

Begitulah. Padahal, itu baru sekadar peristiwa sewek suwek. Belum lagi jika Yu Kanthil macung: lurah atau anggota legislatif. Kitab seribu satu tafsir mimpi tidak akan cukup untuk menafsirkannya. Karena politik jauh lebih multitafsir. Dibanding sewek suwek.

Maklum, ‘wahing’ dan ‘dehem’-nya orang dalam politik juga mengundang makna. Belum lagi dengan ucapannya. Tindakannya. Yang, satu kata, punya bersayap-sayap makna. Orang seperti Dulgembul pun tidak akan habis-habis menafsirkannya.

Bahkan, dia harus mencari kitab yang lain lagi. Agar mendapatkan tafsir-tafsir yang mendekati kecocokan. Sebab, bisa jadi tafsir yang lebih cocok itu ada pada nomor 1.002. Dan, itu tidak ada di kitab seribu satu tafsir mimpi.

Orang seperti Dulgembul pun harus ke pasar malem-pasar malem berikutnya. Untuk menemukan kitab seribu satu tafsir mimpi jilid dua. Atau jilid tiga. Dan seterusnya. Tak perlu khawatir akan sia-sia. Sebab, semua itu akan semakin memperkaya bahan obrolannya. Tentang orang-orang. Seperti ungkapan Eleanor Roosevelt yang terkenal itu. Bahwa orang kecil berbicara tentang orang lain. Orang biasa berbicara tentang peristiwa. Dan, orang hebat bicara tentang ide-ide. (tauhid wijaya)

(rk/baz/die/JPR)

Jawa Pos Digital
E-Paper
Most Read
 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia