Kamis, 13 Dec 2018
radarkediri
icon featured
Kolom

Jati Diri

13 Agustus 2018, 17: 56: 19 WIB | editor : Adi Nugroho

Oleh : Mahfud

Oleh : Mahfud

Siapa kita? Indonesia!

Teriakan itu berkali-kali terdengar usai kesebelasan Tim Nasional (Timnas) Indonesia U-16 sukses mengalahkan Malaysia pada semifinal Piala AFF U-16. Teriakan yang terbalut emosi. Keluar dari jiwa announcer stasiun televisi swasta  yang menyiarkan langsung pertandingan itu. Seperti mewakili perasaan seluruh bangsa. Teriakan yang jelas sekali menggambarkan rindunya kita akan satu hal. Prestasi dan harga diri!

Ya, keberhasilan timnas U-16 itu seperti menjebol tembok tebal yang selama ini mengungkung rasa kebanggaan kita sebagai bangsa. Tak banyak prestasi yang bisa kita banggakan. Terutama di cabang sepak bola.

Sejatinya, luapan emosi itu juga menunjukkan seperti apa kondisi psiko-sosial masyarakat kita saat ini. Keberhasilan timnas U-16 itu hanya peletup. Yang bersamanya membuncah semua kegalauan. Di tengah kondisi berbangsa dan bermasyarakat yang cenderung mengalami degradasi. Perpecahan mengancam kita. Perbedaan pilihan dan perbedaan pendapat membuat kita saling caci. Saling maki.

Bagi saya yang merasakan atmosfir kehidupan tahun 80-an hingga 90-an, rindu rasanya merasakan wujud nyata dari budaya ketimuran. Ada tenggang rasa, ada saling menghormati. Tak hanya dalam retorika belaka. Tapi dalam penerapan kehidupan yang sebenarnya.

Di tahun-tahun itu tak banyak kita saling mencaci antarsaudara sebangsa. Yang ada adalah rasa persaudaraan yang kental sebagai bagian dari bangsa Indonesia. Tak pernah pertengkaran teman sepermainan sampai menyeret orang tua ikut terlibat. Tak pernah pula hukuman guru pada muridnya dilihat sebagai suatu kejahatan. Ketika ada anak datang membawa laporan telah dihukum guru dengan pukulan, sang bapak di rumah akan balik memarahi sang anak. “Kenapa kamu nakal di sekolah?”

Di era itu, nilai-nilai Pancasila tertanam kuat. Mungkin, karena tiap pagi semua siswa harus membaca keras-keras. Tak terelakkan juga menghafal butir-butir Pancasila, yang dulu berjumlah 36 itu. Mungkin karena dihafalkan itu kita-saat itu-benar-benar memahami makna Bhinneka Tunggal Ika. Menerapkan betul arti dari kebersamaan dari banyak suku bangsa. Kita tidak alergi menyebut nama suku. Karena kita tetap merasa bahwa itu adalah satu.

Entah karena faktor itu pula kebanggaan sebagai bangsa juga membuncah ruah kala itu. Sebagai bangsa-walaupun masuk kategori negara dunia ketiga-kepala Indonesia tegak mendongak. Sea Games menjadi ajang permainan kita. Juara umum berkali-kali. Timnas sepak bola berjaya. Bahkan mampu bersaing di level Asia. Setiap kali menonton pertandingan timnas PSSI yang disiarkan langsung TVRI-saat itu hanya satu stasiun televisi itu yang kita punya-kepuasan seringkali jadi muaranya. Di Asia Tenggara kita masih bertaji. Bahkan pernah nyaris lolos dari Pra Piala Dunia (PPD).

Tapi itu dulu. Sebelum krisis moneter yang berubah jadi krisis ekonomi menghantam kita dengan ganasnya pada akhir 90-an. Setelah itu, kita seperti jatuh terpuruk dan terpuruk. Berusaha bangkit tapi sulit. Dari sisi politik sepertinya kita lebih baik. Banyak partai. Kebebasan berpendapat pun melompat tinggi. Semua berani berbicara. Semua berani berpendapat. Tapi sayang, sering disertai tidak memedulikan orang lain. Hilang tenggang rasa dan sikap masyarakat Indonesia yang luhur lainnya. Seakan tenggelam bersama butir-butir Pancasila yang kita tak lagi hafal.

Di era serba global ini, kita seperti tenggelam dalam dunia dimensi yang lain. Dunia maya. Kebesaran media sosial (medsos) benar-benar bersimaharajalela. Rakus memakan sendi-sendi kehidupan bermasyarakat kita. Lupa kita akan jadi diri sebagai masyarakat timur. Caci maki dan sumpah serapah adalah hal biasa di dunia ‘khayali’ itu. Medsos benar-benar membuat kita lebih individualis dari orang western (dengan asumsi bahwa orang barat berkarakter individual). Lebih purba dari orang purba sendiri. Gampang mencaci, gampang menyumpah. Mudah menyerapah.

Ironisnya, kebanggaan sebagai suatu bangsa justru seperti menurun. Pun, head to head dengan jiran kita, kita sering jadi pecundang. Kalau dulu kita selalu riang menyaksikan Si Unyil, saat ini kita lebih familiar dengan Upin Ipin. Di Sea Games, jangan lagi berharap kita jadi juara. Masuk tiga besar saja sudah sangat luar biasa.  Piala Thomas? Piala Uber? Entah, tahun berapa kita terakhir merengkuhnya. Saya sendiri sampai lupa.

Karena itu, wajar bila kemudian keberhasilan timnas PSSI U-16 seperti menjadi ledakan besar hasrat kita menemukan jati diri. Haus akan kebanggaan yang telah sekian lama hilang. Namun, apakah keberhasilan ini mampu membuat kita menjadi bangsa Indonesia yang benar-benar berdaulat dan penuh kebanggaan? Entahlah. Karena hantu 2019 telah membayangi. Setidaknya, menurut saya yang galau  hati. (penulis adalah wartawan Jawa Pos Radar Kediri)

(rk/fiz/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia